Elegi Pagi


Elegi Pagi
Sekelumit asa kian menjadi kisah yang tersisa usang
Walau hari menyapa lewat pagi dan menyisahkan harapan

Resah tak menjadi nalar yang masuk akal dalam logika
Diantara kesenjangan ranah sosial tak lagi manusiawi

Kadang ada kerlingan menjadi cahya berpijar namun samar
Atau belaian angin yang menerpa panas namun tersapu hujan

Di setiap jejak-jejak kaki maupun pandangan mata kian kabur
Mencari makna lewat tangan yang kian meraba-raba

Mungkin telinga tak lagi terpakai untuk mendengar
Hidung tak berfungsi mengenali mana wewangian atau busuk

Lalu waktu terus bergulir menuju siang, sore hingga beranjak malam
Hingga dalam lelap gelap lalu berganti lagi jadi pagi
Kembali asa menyeruak dalam kehampaan tak pasti.

Sungailiat, 7 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *