Pantai Tanjung Tinggi Belitung yang Menawan

BELITUNG – Siapa yang tak kenal Pulau Belitung yang berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tempat yang namanya semakin terkenal, sejak meledaknya novel dan film laskar pelangi, kini semakin ramai dikunjungi para wisatawan.

Apa yang menjadi andalannya?, sesuai dengan daerah kepulauan maka disini terdapat pantai yang sangat bagus dan natural, seperti Pantai Tanjung Tinggi yang terletak di Desa Tanjung Tinggi Kecamatan Sijuk Kabupaten Belitung. Pantai ini pernah menjadi salah satu tempat syuting film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi ini memang terkenal keindahannya.

Kondisi ombak yang sangat landai pasir putih dan bebatuan granit unik menjadikan pantai ini sangat eksotis. Disini kita tidak hanya bisa berantai di pasir putihnya yang empuk tapi juga dapat berenang di airnya yang jernih sambil melakukan snorkling, sebab keadaan terumbu karangnya masih sangat bagus.

Kalau memang butuh liburan dengan suasana tenang jauh dari hiruk pikuk Pantai Tanjung Tinggi bisa menjadi salah satu pilihan terbaik saat ini. Tunggu apa lagi segera menabung untuk berlibur ke Pantai Tanjung Tinggi yang menawan.

pantai tanjung tinggi

Salah Satu Sudut Pantai Tanjung Tinggi yang Menyajikan Pasir Putih dengan Pemandangan Indah

Cinta

Cinta adalah sebuah kesetiaan yang tiada habis, tiada mengeluh, tiada berhenti bersabar. Cinta adalah hal yang gila yang terkadang dimaknai sebagai hawa nafsu, tapi sesunggguhnya cinta adalah perasaan hati yang saling membagi.

Abah, Keramahanmu Memberi Kedamaian

Orangnya sederhana tapi hatinya sangat mulia menurut penilaianku. Abah, demikian ia akrab disapa, seorang yang sebenarnya tamat sarjana tetapi tidak bekerja seperti kebanyakan lulusan sarjana lainnya, misalkan di perkantoran, perbankkan atau instansi bonafit lainnya.

Abah yang asli berdarah Sunda dan memiliki istri dari bangsa Thiong Hwa ini, memiliki 2 anak laki-laki, yang satu duduk di bangku kelas 2 SMP, satunya lagi masih menempuh kelas 5 SD. Sehari-hari Abah bekerja pada warung sederhana miliknya, menjual makanan dan minuman ringan. Bersama istri dan 4 orang pembantunya sejak pagi mereka melayani pelanggan yang berasal dari beragam profesi, mulai karyawan perusahaan leasing, pegawai showroom, mahasiswa, anak sekolah, yang tumpah ruah dari pagi hingga sore.

Seolah tiada bosan dengan menu yang disajikan Warung Abah, demikian sebutan tempat usaha miliknya. Padahal bisa dibilang biasa saja, hanya ada tekwan, bakwan, pempek telor, pempek lenjer, lontong sayur, nasi uduk, seperti itu saja. Lalu untuk minumannya juga standar, seperti berbagai jus, es teh manis, kopi susu. Tentunya amat sederhana, lalu mengapa warungnya selalu ramai ?, orang begitu betah datang setiap hari, walau kondisinya sempit dan terkadang kalau terik matahari terasa panas.

Ternyata ada satu keistimewaan yang dimiliki Warung Abah, dengan Abah sebagai komandan pengelolanya. Satu hal yang sederhana dan sering terlupakan, namun tidak bagi Abah. Adalah pelayanan yang begitu luar biasa ramah. Tutur kata Abah yang lembut dan mau mengajak bicara siapapun yang datang serta berusaha mengenali satu persatu nama pelanggannya adalah jurus terhebat Abah yang tak saya temukan selama hampir 30 tahun di dunia ini dan telah sering makan di berbagai tempat.

Abah dengan telaten menanyakan dan melayani siapa saja yang datang, jadi semua tamu merasa betah sekali. Dari semua teman yang kuajak, mayoritas menyatakan, “nyaman” berada di Warung Abah. Dan ingin kembali lagi kesitu pada kesempatan lain waktu.

Ternyata ketulusan Abah yang lembut tidak hanya untuk kepentingan bisnisnya, tetapi ia wujudkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarganya. Tadi pagi, Jumat (15/6/2012), Abah berdialog seolah kepada seorang sahabat terhadap anaknya yang paling besar. Ketika itu anaknya menyampaikan tentang keberhasilannya mendapat medali untuk lomba silat di Sekolahnya. Dengan penuh motivasi Abah menyampaikan rasa bahagia dan bangga serta memacu anaknya untuk meningkatkan prestasinya.

“Abah bangga walau medali ini hanya kamu dapatkan untuk level tingkat sekolah, ini sudah luar biasa membanggakan bagi Abah,” ungkap Abah seraya sambil saling mencium kedua pipi ia dan anaknya.

Ternyata Abah memang membiasakan untuk melakukan hal itu, termasuk sebelum tidur, saat bangun pagi, berangkat maupun pulang bepergian. Abah bilang hal itu untuk menanamkan hubungan moril lebih dekat antara orang tua dengan anak.

Saat ini Abah telah membuka cabang Warung Abah 2 dengan lebih eksklusif menu ala cafe. Namun Abah memastikan untuk harga masih terjangkau. Pembukaan Warung Abah 2 selain untuk memperlebar sayap bisnisnya, juga untuk meningkatkan pelayanan bagi pelanggannya.

“Kadang pelanggan yang makan disini (warung Abah 1) memiliki teman yang datang dari luar. Mereka mungkin mau membawa kesini tapi tidak enak sama temannya. Abah juga sangat memikirkan wibawa pelanggan itu dimata temannya, untuk itu setelah ada modal abah buka warung abah 2 yang lebih lumayan dari segi tempat dan menu, supaya bisa menjangkau kalangan menengah keatas,” jelas Abah dengan polos.

Hari ini aku belajar tentang kesederhanaan dan kelembutan dari seorang abah, yang memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi banyak orang. Sulit rasanya untuk selalu ramah setiap waktu seperti Abah, tapi Abah bisa melakukannya. Semoga banyak orang seperti Abah agar dunia ini menjadi lebih nyaman.