Untuk Manusia Perahu

IMG_20161110_150250.jpgDi antara deburan ombak ia mengayunkan dayung, menerobos sang angin yang mengoyangkan lambungnya hingga menjadi bergerak tak seirama.

Gentar tak lagi terkira karena nafkah sudah menelisik di ujung benak kepala, untuk anak istri yang setia menanti. Kadang hanya harapan saja bersama doa sebagai bekal untuk menguatkan perjalanan menjadi keyakinan.

Terkadang laut terlihat tak biru lagi, keruh pun sebenarnya bukan pertanda bersahabat seperti waktu dahulu. Tapi, keruh itu membuat rezeki tak semurah dulu. Teritorial anugrah sang khalik telah terjamah tangan-tangan besi yang memporak-porandakan ladang nafkah mereka.

Manusia perahu yang tak pernah kadang orang banyak ketahui getirnya. Sebab mungkin orang fikir tentang ikan, cumi, kepiting, udang dan anugerah laut lainnya hanya tersaji begitu saja di lapak-lapak pasar atau restoran-restoran. Padahal proses alam berperan penting untuk menghantarkannya dari dalam laut yang kian asin hingga hadir ke meja makan.

Lalu kemudian terkadang mereka termarjinalkan dengan label kaum pesisir, yang sebagian ada bilang tak perlu diperhitungkan. Padahal nafkah halal lah yang mereka geluti tanpa meminta untuk dinafkahi. Manusia perahu hanya minta masih bisa mewariskan laut bagi anak cucu bangsa ini.

Kini ladang nafkah itu kian tergerus, tergerus kerusakan-kerusakan ulang oknum manusia serakah. Rasanya tak sebanding lagi beban yang diterima dengan perjuangan hidup mereka. Rasanya tak adil melihat peluh keringat itu, tak sebanding juga walau hanya soal tuntutan hidup sahaja mereka.

Lalu seketika mata ini menjadi tangis tak berairmata ketika melihat itu. Hanya tangan kecil yang terus menengadah walau tak mampu diperlihatkan. Semoga kapitalis itu lebih memiliki nurani, bahwa ada manusia suci yang mencari rezeki di antara karang-karang, di cela-cela palung terdalam.

Semoga birunya lautan masih menjadi hak manusia perahu yang senantiasa hidup dalam kesahajaannya.

Usai Bersama “Manusia Perahu”, Minggu, 13 November 2016,
ILusi Mentari

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *