Sepenggal Kisah Mimpi


Tentang Ketulusan dan Penyesalan

Dia datang menemaniku dan rela menghabiskan waktu santainya yang singkat untuk mendatangiku. Tidak dekat perjalanan yang harus ia tempuh, harus menempuh 8 jam dengan bis padahal waktu santai yang ia miliki hanya 2 hari setiap pekannya.

Wanita yang begitu tulus dan baru kurasakan cintanya besar setelah ia pergi. Dia bekerja sebagai seorang perawat pada sebuah rumah sakit. Tentunya harus bekerja dalam sistem shift. Begitu giatnya ia menekuni pekerjaannya merawat setiap pasien sakit. Tentunya juga sangat menguras waktu dan tenaga.

Lelah sebenarnya dirasakan tapi ia tidak pernah mengeluh. Dan harusnya waktu libur dimaksimalkan untuk istirahat, namun ia pilih untuk selalu menemuiku. Pernah suatu ketika tengah malam ia tiba di kotaku menumpang bus, sebelumnya ia sudah memberi tahu akan datang seperti biasa. Aku menjemputnya tapi malah aku terlalu larut dalam kesibukan kerjaku dan keasikan dengan hobiku.

Ia selalu memaklumiku dan menanti dengan senyum manisnya ketika aku pulang. Kebersamaan kami hanya efektif 2 jam saja. Dan aku hanya bersikap biasa tanpa menunjukkan harusnya lebih peduli padanya. Hingga saatnya aku pergi tanpa memberitahu akan pulang telat, tanpa menyempatkan waktu untuk dia yang telah berkorban datang jauh-jauh untukku.

Ia hanya berkata dalam hatinya “mungkin aku sibuk”. Hingga akhirnya ia tetap menanti tanpa makan malam itu sebelum aku pulang. 30 menit waktu tersisa sebelum ia kembali pulang menunggu bis jemputannya datang. Saat aku tiba di rumah dia sudah bersiap dengan barang-barangnya.

Tampak raut kekecewaan di wajahnya dan ketika itu juga aku masih saja merasa biasa. Matanya tajam menatapku namun berkaca-kaca menahan genangan air di kelopak mata yang sudah bergantung lalu tumpah. Detik itu aku merasa heran, hanya heran saja.

“ada apa, kenapa kamu menangis? tanyaku sambil memegang kedua pipinya, mengusap air matanya.

“Kamu sibuk mungkin karena aku bukan siapa-siapa bagimu. Kamu mungkin tidak inginkan aku selalu ada. Dan aku pikir selama ini aku hanya jadi penganggumu, menambah beban bagimu. Maafkan aku, aku akan pulang saja. Aku tak ingin membuatmu repot seperti ini lagi” ucapnya terisak padaku.

Detik itu aku merasa bersalah sekali padanya, menyia-nyiakan pengorbanannya yang tulus dan begitu besar. Aku sadari belum ada wanita sepertinya yang mampu setia untukku. Iapun berlalu tanpa bisa kuucapkan kata-kata apapun termasuk kata maaf. Lalu ia pergi dan aku hanya dirundung rasa salah tanpa henti. Ia berjalan meninggalkanku pergi menuju bis yang sudah membunyikan klakson berkali-kali.

Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya menyesali segala yang kuperbuat padanya selama ini. Aku menyia-nyiakan dia yang tidak sekedar cantik wajahnya dalam balutan kerudung putih hari itu. Yang menjaga hatinya hanya untukku. Yang rela mengorbankan waktunya untukku. Hingga akhirnya ia menyerah dengan keadaan.

Aku tahu ia hanya manusia biasa yang takkan tahan dengan perlakuan kecuekanku. Walau pahit tapi ia memilih menghindar. Mataku akhirnya hanya terpanah ketika bis yang membawanya pergi kian hilang dari pandanganku. Lalu aku bingung untuk melakukan apa selanjutnya.

Dan pada akhirnya sejak terakhir aku melihatnya berurai air mata, mendengarnya berkata “aku tak mau merepotanmu”. Sejak itulah aku tidak pernah lagi menjumpainya, melihat senyum manisnya lagi yang ramah menyambutku atau mendengar celoteh lembut bibir mungilnya. Dan penyesalan itu selalu datang terlambat setelah ku tahu aku tidak dapat menemuinya lagi saat mataku terjaga.img_2480.jpg

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *