Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (4)

Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (4)      *Perjalanan Pulang Kalimati-Ranu Kumbolo-Tumpang-Surabaya

Perjalanan pulang dari Kalimati ke Ranu Kumbolo kami lakukan setelah makan siang. Sekitar jam 2 siang kami memulai perjalanan dari Kalimati dalam kondisi cuaca mendung dengan sesekali turun rintik hujan. Aku memutuskan jalan dahulu dengan rombongan lain karena terlalu lama menunggu teman-teman tim ku. Lagian trek Kalimati ke Ranu Kumbolo sudah terukur dan disepakati nge-camp kembali satu malam.

Perjalanan ke Ranu Kumbolo dengan beban carrier lebih berat akibat beberapa perlengkapan basah oleh hujan. Perjalanan yang lebih banyak menurun sedikit membantu walau panjangnya trek tetep terasa. Tidak terlalu sering kami berhenti, hanya agak bersantai setelah sampai di Cemoro Kandang. Menikmati savana di kiri kanan padang lavender memang menyenangkan, aku kembali mengabadikan moment lewat beberapa jepretan. Aku pikir belum tentu lagi seumur hidupku nanti akan ke sini, tempat yang pasti ngangenin. Aku memilih berjalan di belakang agar bebas menikmati keindahannya

Tidak lama kemudian setelah naik ke tebing menuju Tanjakan Cinta, pertanda Ranu Kumbolo di depan mata. Tidak terlalu sulit melintas padang lavender lalu naik tebing menuju Tanjakan Cinta dan menuruninya. Dengan sajian indah penuh imajinatif sekejap saja sudah sampai di Ranu Kumbolo dalam perjalanan kurang lebih 3 jam dari Kali Mati.

Sore Menuju Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta
Sore Menuju Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta

Sore di Ranu Kumbolo memang indah, deretan tenda telah berdiri. Pendaki-pendaki menikmati Ranu Kumbolo yang begitu tak ada habisnya dipandangi. Sambil mendirikan tenda yang aku posisikan di tengah-tengah segaris lurus belahan savana di sebelah timur. Cuaca dingin menemani sore hari menjelang petang. Usai magrib rasa capek mendera begitu berat sehingga aku memilih di dalam tenda.
Beberapa saat kemudian terdengar sayup kedatangan rombongan Wawan yang bertanya dimana tendaku. Namun akhirnya karena hari telah malam letak tenda kami berpisah dan saya sendirian diantara tenda-tenda pendaki lain. Dalam dinginnya Ranu Kumbolo saya menyerah menikmati malam, hanya berpasrah di dalam tenda berselimutkan sleeping bag melawan dingin yang membuat sekujur tubuh menggigil hebat.

Walau sempat terdengar tawaran makan malam itu saya tidak lagi terlalu tertarik, hanya sekedar snack biskuit yang menjadi pengganjal malam itu dan bertahan sampai pagi. Walau tidur tidak terlalu nyenyak namun saya tetap bisa bangun pagi, sayang rasanya melewati pagi di Ranu Kumbolo. Saat membuka pintu tenda serasa syurga terbentang indah, pagi yang sangat menakjubkan dan saya beruntung bisa menikmatinya.

Usai menikmati pagi Ranu Kumbolo dengan cara sendiri dengan mengambil beberapa sudut Ranu Kumbolo saya kemudian bergabung ke teman-teman. Rasanya perut mulai bergejolak, berontak karena lapar. Hebatnya Semeru sudah ada penjual nasi uduk dan saya tidak sabar lagi untuk membelinya, faktor semalam tidak makan (jangan ditiru, hehe…).

Sisi Lain Ranu Kumbolo
Sisi Lain Ranu Kumbolo

Teman-teman sempat saya tawarkan tapi belum mau, dan pagi itu saya sarapan nasi uduk Ranu Kumbolo yang harganya 3 kali lipat dari harga normal di pedesaan, hehehe. Oh ya aqua yang 1,5 liter biasa Rp 4 ribu dijual Rp 10 ribu, mahal?, iya. Tetapi perjuangan mereka juga luar biasa membawa barang jualan berat-berat melintasi bukit dan lembah penuh resiko, jadi tak apalah harganya segitu.

Stamina saya mulai pulih setelah sarapan sehingga menikmati Ranu Kumbolo semakin leluasa. Berbagai sudut saya coba jelajahi di pagi terakhir Ranu Kumbolo yang sudah saya sadari detik itu akan membuat rindu nantinya. Bahkan kembali kerinduan itu menyeruak luar biasa saat saya membuat tulisan ini. Ranu Kumbolo luar biasa, tak tahu lagi kata-kata apa yang bisa saya tulis untuk mengungkapkannya. Seorang teman pernah sekali menyebutkan tidak mudah membuat tulisan dari sebuah “true story”.

ranu kumbolo
ranu kumbolo

Setelah beberapa kali sampai puas mengabadikan moment lewat lensa kamera, kabut mulai menyelimuti Ranu Kumbolo dan kami bersiap mem-packing perlengkapan untuk pulang. Berat meninggalkan Ranu Kumbolo, rasanya kami semakin solid saja, namun mau tidak mau perjalanan pulang harus kami lakukan, pendakian ada batasnya. Logistik tersisa kami tinggalkan untuk pendaki lain yang masih nge-camp.

Sebelum Meninggalkan Ranu Kumbolo
Sebelum Meninggalkan Ranu Kumbolo

Jam 9 nan kami bersiap untuk pulang dengan berfoto bersama pendaki lainnya yang kebetulan juga mau turun. Praktis ini tim yang sama orangnya sewaktu mau summit. Usai foto bersama kami memulai perjalanan pulang meninggalkan Ranu Kumbolo melintasi trek yang penuh savana. Trek yang kami lewati adalah jalur ayek-ayek, berbeda dengan jalur pergi kemarin.

Turun via Jalur Ayek-ayek
Turun via Jalur Ayek-ayek

 

 

 

 

 

 

Infonya jalur ayek-ayek lebih terjal namun lebih dekat. Kami mengikuti jejak penduduk yang kebetulan juga mau pulang, namun langkahnya begitu cepat sehingga rombongan besar kami tertinggal jauh. Jalur ayek-ayek lebih indah dengan savana dan pohon bunga edeilweiss yang masih cukup banyak. Edeilweiss berada di tepian jurang dan ada yang sedang berbunga cukup besar mekarnya.

Jalur Ayek-ayek dengan Savana
Jalur Ayek-ayek dengan Savana

Perjalanan siang lewat ayek-ayek yang benar-benar menanjak terus menguras tenaga, cukup lama kami harus menghabiskan waktu menaklukkan tanjakan Gunung Ayek-ayek, hampir 4 jam. Setelah benar-benar habis tanjakan, jalur Ayek-ayek mendatar dan menurun habis, tak ada lagi tanjakan. Lagi-lagi Desember membuktikan bulannya, hujan mengguyur selepas matahari naik. Rombongan kami mulai saling berpencar, dan saya memilih sesekali melahap turunan ayek-ayek dengan berlari.

Tapi benar-benar jalur turunan ayek-ayek begitu panjang, sekilas kelihatan sudah dekat tetapi belum juga. Begitupun ketika sudah mulai masuk jalur perkebunan masyarakat ternyata jalanan yang kami lewati masih panjang. Cuaca hujan membuat langkah kami semakin hendak cepat menghabiskan turunan ini. Lelah, dingin, lapar menjadi satu, namun karena serba tanggung kami terus melangkah hingga pada akhirnya semakin terlihat banyak pondok-pondok kebun penduduk.

Tak lama kemudian rumah-rumah semakin tampak jelas dan harapan nyata tujuan akhir semakin jelas ketika pos Ranu Pani di depan mata. Tuntas sampai Ranu Pani sekitar jam setengah empat sore. Total perjalanan Ranu Kumbolo-Ranu Pani via ayek-ayek 6,5 jam. Di Ranu Pani semua beban serasa lepas, mobil jemputan sudah bersedia menyambut kami. Namun kami bersantai dulu melepas penat, menunggu teman-teman lain sambil menikmati hangatnya teh manis di warung-warung seputaran Ranu Pani.

Ranu Pani
Ranu Pani

Di Ranu Pani menjadi tempat untuk bersantai membersihkan kaki-kaki yang kotor berlumpur, selain itu juga mengisi perut kosong karena belum makan siang. Beberapa toko di Ranu Pani banyak menyediakan souvenir Semeru seperti gantungan kunci, baju, bed bordiran dan sebagainya. Hampir satu jam kami berada di Ranu Pani, setelah semua personil lengkap kami meninggalkan Ranu Pani dengan mobil jemputan.

Suasana hujan mengiringi perjalanan kami dari Ranu Pani ke Tumpang. Kondisi tubuh sudah mulai lelah, jalan berkelok menurun dan sudah malam membuat kami hanya berlindung di dalam terpal mobil truk. Ada yang tidur dan bercerita hingga tak terasa hampir dua jam kami tiba di base camp kediaman Mbak Nur di Pasar Tumpang. Kami memutuskan menginap satu malam karena mobil agak susah dan relatif mahal kalau harus carter.

Menginap di basecamp milik Mbak Nur menyenangkan, karena keramahannya. Kami memaksimalkan pembersihan diri dengan mandi setelah beberapa hari mandi tidak jelas serta mengecas handphone yang telah empat hari mati suri. Malamnya kami menikmati suasana Pasar Tumpang yang dingin, cukup asik. Banyak jualan menjadi pilihan menu makan malam.

Tidak cukup kuat kami bergadang malam hari pasca pendakian, sekitar jam sebelas malam semua sudah tepar. Ruangan basecamp Mbak Nur penuh dengan pendaki yang hampir 30 an orang. Ruang tamu, ruang tengah sampai ke dapur ramai. Tapi saya pilih tidur di kursi panjang dekat dapur dan nyenyak seketika akibat dampak lelah pendakian.

Keesokan harinya kami usai sarapan meninggalkan Tumpang yang memberi kesan tersendiri. Rombongan kami usai menumpang angkot terpisah jadi dua, saya, Wawan dan Irna ke Surabaya sedangkan Eni, Rudi dan Resti ke Malang. Ke Surabaya kami menuju ke Terminal Arjosari Malang dan kembali bertemu temannya Wawan, Sahrul.
Sahrul menemani kami sampai dapat mobil bus ekonomi menuju Surabaya. Dengan menumpang bus ekonomi pejalanan menuju Terminal Bungurasih Surabaya mencapai hampir 4 jam karena beberapa jalan kondisinya macet. Di Terminal Surabaya saya dijemput kakak dan Irna dijemput pacarnya. Sedangkan Wawan menginap satu malam ikut saya di tempat kakak. Keesokan harinya Wawan balik ke Lombok lewat Terminal Bungurasih.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *