Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (3)

Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (3)                  

*Ranu Kumbolo-Summit

Kisaran jam 9 pagi tanggal 11 Desember 2013 kami mulai meninggalkan Camp Ranu Kumbolo yang indah dengan target Kali Mati sampai sore hari. Memulai perjalanan dari Ranu Kumbolo langsung disajikan Tanjakan Cinta yang indah penuh sensasional, sekaligus bener-bener langsung nanjak. Mitos Tanjakan Cinta dimana bila naik terus tanpa menoleh ke belakang sambil berdoa memohon orang yang kita inginkan menjadi milik kita akan terkabul bila dilakukan sampai puncak benar-benar menjadi hal yang ingin dicoba.

Hampir semua pendaki termasuk saya mencobanya, hehe. Saya mencoba terus berjalan sambil menguatkan diri serta dalam hati menyebut nama seseorang. Sesekali saya dengar teriakan menggoda untuk menoleh ke belakang ataupun teriakan kegagalan teman-teman yang kecapean dan terpaksa menoleh ke belakang juga.

DSCN4109
Tanjakan Cinta Ranu Kumbolo

Setelah berjuang cukup lumayan menguras semangat, sekitar 10 menit saya berhasil sampai di puncak Tanjakan Cinta, senyum lebar pun mengembang. Sejenak hanya duduk melihat kelucuan teman-teman yang mengikuti mitos Tanjakan Cinta ataupun teman-teman yang gagal terus berceloteh. Dan terpenting keindahan Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta semakin sempurna, benar-benar ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna.

Menaklukkan Tanjakan Cinta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta
Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta

Tidak begitu lama kami berada di Tanjakan Cinta lalu melanjutkan perjalanan. Melewati Tanjakan Cinta langsung disuguhkan lagi oro ombo dengan kiri kanan bukit savana. Semeru memang gak ada habisnya membuat saya terkagum-kagum, itupun sebenarnya belum terlalu indah karena padang lavender di oro ombo tidak sedang berkembang.

Oro Ombo, sayang padang lavendarnya belum berkembang
Oro Ombo, sayang padang lavendarnya belum berkembang

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebelum Cemoro Kandang, Masih Oro Ombo
Sebelum Cemoro Kandang, Masih Oro Ombo

Lagi-lagi melintasi oro ombo menuju ke Cemoro Kandang membuat saya serasa berada di dunia lain, dunia penuh keindahan, damai dan tenang bebas dari hiruk pikuk. Dari Tanjakan Cinta ke Cemoro Kandang tidak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit saja. Di sini beberapa penduduk yang berjualan makanan ringan, gorengan serta minuman, sama seperti di Ranu Kumbolo. Cemoro Kandang informasinya merupakan tempat terakhir penduduk jualan sebelum Kali Mati, walau terkadang mereka harus main kucing-kucingan dari petugas taman nasional.

Cemoro Kandang
Cemoro Kandang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tuh kan ada yang jualan di Cemoro Kandang
Tuh kan ada yang jualan di Cemoro Kandang

Perjalanan dari Cemoro Kandang ke Kalimati cukup panjang dan menurut saya relatif seimbang antara trek landai, tanjakan maupun turunan. Resiko berangkat di bulan Desember harus kami terima, karena di musim penghujan. Di pertengahan jalan kami terpaksa memasang jas hujan lalu cuaca panas terpaksa kami lepas lagi. Sempat terjadi hujan lalu reda dan hujan lagi, begitu seterusnya.

Desember Musim Hujan,,,,Pasang Jas...
Desember Musim Hujan,,,,Pasang Jas…

Perjalanan saya ke Kalimati lebih sering bersama Wawan karena teman-teman lebih duluan di depan sementara Wawan belum sepenuhnya fit sehingga saya putuskan untuk menemaninya. Beberapa pendaki juga sering kami temui berpas-pasan, sesekali kami berenti untuk minum makan snack maupun meregangkan otot kaki serta pundak yang pegal.

3 jam berjalan dari Cemoro Lawang belum juga sampai di Kali Mati, sebenarnya lelah mulai menghinggap serta memudarkan semangat kami. Di tengah jalan dalam rerintisan hujan, saya dan Wawan bertemu dengan pendaki seorang ibu-ibu berusia 60 tahun lebih. Seketika tercengang melihat ibu itu yang terus berjalan dengan trekking pole-nya. Masih sempat ia membalas sapaan kami dan inilah yang memberi suntikan semangat baru untuk melangkah. Rasanya malu untuk menyerah menuju Kalimati karena ibu itu yang seusia ibu kandung saya masih sanggup ke Semeru, akhirnya secara reflek akibat semangat bertambah mempercepat langkah kami.

Kebetulan trek cenderung landai sehingga semakin mempercepat langkah kami dan akhirnya bertemu papan bertuliskan “Anda berada di Kali Mati”. Beberapa menit kemudian mulai kelihatan bangunan dan tenda-tenda pendaki. Bangunan tidak terawat ini dipergunakan benar-benar bagi pendaki untuk mendirikan tenda karena cuaca hujan cukup ekstrem dinginnya. Jam 4 sore tiba di Kali Mati setelah itu langsung kami mendirikan tenda, kebetulan dapat sebuah ruangan yang pas untuk tenda saya.

Kali Mati...
Kali Mati…

Kurang asik sebenarnya, namun hujan yang turun deras membuat kami berlindung untuk menjaga kondisi tubuh terhindar dari hiportemia. Hujan benar-benar mengguyur hingga sore hari. Akhirnya kami pun benar hanya sebatas di seputaran dari tenda ke tenda. Persediaan air yang menepis membuat kami harus menadah air hujan dengan seng bekas lalu disalurkan ke bekas botol air mineral. Alhamdulillah masih bisa untuk kebutuhan memasak, minum dan persediaan air summit.

Setelah bersusah payah masak dan makan, kami kemudian memutuskan untuk wajib istirahat dan berencana bangun pada jam 11 malam. Tidur dalam kondisi dingin memang sulit, tapi harus tetap istirahat untuk stamina summit yang membutuhkan tenaga lebih. Saya sendiri tidak terlalu nyenyak tidur memang “penyakit” saya kalau berada di alam sering susah tidur sendiri. Jadinya jam 11 serasa tidak lama dan saya tidak terlalu bisa tidur.

Cukup sulit untuk membangunkan teman-teman dalam kondisi tidur tanggung. Baru sekitar jam 12 teman-teman bangun begitu juga dengan pendaki dari rombongan lain bisa bangun semua. Setelah makan seadanya, menyiapkan bekal, kami berkoordinasi dengan pendaki lainnya yang hendak summit untuk berangkat sama-sama.  Pasalnya selain belum satupun rombongan kami pernah summit, juga jauh lebih aman bila bergabung bersama dalam kondisi cuaca kurang bagus.

Jam 1 malam akhirnya kami baru benar-benar siap. Setelah selesai kompromi singkat, kami kemudian memulai perjalanan, beruntung hujan mereda hanya sebatas besaran jarum rintiknya.  Saya didaulat berjalan di depan, bangga sekaligus deg-degan. Tidak mudah karena pertama kalinya saya menjadi pembuka jalanan untuk rombongan yang mencapai puluhan orang.

Namun dengan modal keyakinan jalur yang cukup jelas ditambah bantuan headlamp saya mulai merintis perjalanan summit. Menjadi terdepan memiliki tanggungjawab untuk dapat memberi jalan yang pasti, mudah dan aman. Selain itu harus bertenaga lebih fit. Perjalanan yang saya tuntun hingga Arcopodo relatif lancar. Trek benar-benar tanpa basa basi dengan terus menanjak tanpa memberi bonus.

Arcopodo
Arcopodo

Rombongan besar kami tentunya yang drop lebih dari satu orang sehingga tak jarang dalam interval beberapa menit dan meter diantara kami ada yang meneriakkan “break” atau istirahat. Perjalanan summit begitu benar-benar menguji dimana selain dingin dan jalur terus menanjak kami juga harus waspada dengan jurang di kiri dan kanan hampir pada sepanjang jalan. Beberapa tempat yang kami lewati menyajikan sejuta renungan tersendiri, seperti di camp Arcapodo banyak terdapat tugu-tugu simbol pendaki lengkap dengan nama-nama. Kami menyempatkan berdoa kepada pendaki yang menghebuskan nafas di Semeru tersebut, cukup banyak dengan umur yang beragam.

Prasasti Pendaki yang Menghembus Nafas Terakhir di Mahameru
Prasasti Pendaki yang Menghembus Nafas Terakhir di Mahameru

Trek hutan belantara dari Kalimati menuju Arcapodo terus berlanjut hingga sampai benar di penghujung hutan belantara yang kami tempuh hampir 3 jam perjalanan. Mahameru kemudian menyisahkan puncaknya yang membuat pelajaran berharga bagi diriku.  Di sini benar-benar saya takluk oleh alam, oleh egoisme saya sendiri dan benar-benar jadi pelajaran penting bagi saya.

Ceritanya begini, usai melewati hutan belantara kami istirahat seperti “break” biasa. Setelah memutuskan untuk lanjut jalan saya masih berposisi di depan, namun dalam pandangan saya puncak Mahameru tinggal 20-30 meter lagi. Yang ada dalam benak, saya ingin sampai duluan di sana agar benar-benar menjadi yang pertama, mengukir kebanggaan pada diri saya. Lagi pula waktu itu saya berfikir setelah sampai di atas temen-temen pasti tidak lama akan menyusul karena tidak jauh lagi.

Setelah berfikir demikian saya kemudian mulai berjalan meninggalkan teman-teman dan tidak lagi terlalu mengacuhkan teriakan seperti break atau apapun. Langkah kaki saya cepatkan untuk cepat sampai walau dingin semakin terasa. Namun setiap saya berjalan sejauh 20-30 meter tidak pernah saya gapai puncak itu. Lalu puncak itu seperti terlihat 20-30 meter di depan dan saya berfikir sama seperti sebelumnya, jalan dulu, sampai, bersantai tunggu teman-teman di puncak.

Ternyata hingga berulang-ulang kali lebih dari sepuluh melakukan dan berfikir hal sama belum juga kaki saya memijaki puncak. Keputusan saya berjalan duluan cukup memberi jarak yang jauh dengan teman-teman. Hanya dua orang yang bisa bersama dengan saya, yang pertama Santo temen pendaki asal Palembang dan Fitriyanto asal Yogyakarta. Sampai pada akhirnya saya benar-benar kehabisan tenaga menapaki pasir Semeru yang seperti lumpur. Saya kena serangan sakit gunung yang mungkin levelnya rendah menuju sedang.  Saya bener-bener lemas dan lebih-lebih lagi mengantuk.

Saya tahu Santo dan Fitriyanto menyusul saya. Kemudian saya putuskan berhenti, berbaring dan sempat tertidur. Sekitar 10-15 menit hingga kemudian saya merasa haus dan lapar. Dalam kondisi itu, tidak lama lewat Irna bersama temen salah satu dari rombongan Akademi Maritim Jakarta. Saya tanyakan apakah ada membawa snack. Beruntung mereka punya dan saya minta roti plus susu cair kental. Setelah saya makan roti dan minum air putih barulah kemudian seolah tenaga saya pulih.  Beberapa orang potter yang membawa beban berat lewat dan ikut terus memberi motivasi.

Setelah merasa memiliki semangat dan tenaga lagi saya mulai menapak kaki meniti summit Semeru. Di tengah cahaya mentari yang sulit muncul terhalang kabut tebal memang menjadikan bulan Desember kurang menguntungkan untuk pendakian Semeru, cuaca benar-benar kurang bersahabat. Saya terus menapak jalanan Semeru yang benar-benar terus menanjak. Hingga tidak lagi sekedar menapak kaki tetapi juga merayap kemiringan trek Semeru yang mencapai 45 derajat.

Hujan juga turun sehingga aku pikir mesti berjalan agar kehangatan tubuh tetap terjaga. Segala macam berdatangan dalam pikiranku mulai merasa sangat kecil sekali atas Allah SWT dengan segala ciptaannya, inget banyak dosa. Bayangan orang-orang tercinta saya terpikirkan, ibu, ayah, kakak, adik dan teman-teman semua terlintas. Bahkan saya berfikir apakah benar saya gagal menggapai summit Semeru. Di tengah perjuangan yang luar biasa itu saya pasrah berdoa meminta diberi kesempatan menggapai puncak tertinggi tanah Pulau Jawa itu.

“Ayo mas, dikit lagi,” seorang potter kembali memberi semangat.
“Kira-kira berapa jauh lagi mas,” tanyaku.
“Dua ratus meter,” katanya.
Aku antara percaya dan tidak, tapi tidak berharap benar dari pada nanti tidak sesuai harapan. Perjalanan semakin terjal menyisahkan pasir dan bebatuan hingga kemudian agak berkelok. Beberapa orang mulai semakin tampak terlihat dan itu adalah porter-porter yang mendahuluiku.
“Bentar lagi mas,” sebutnya.
Aku hanya tersenyum dan ternyata permukaan jalur mulai berkurang terjalnya hingga benar-benar mendatar dan aku bertemu lagi porter lainnya.
“Kemana lagi ini mas,” tanyaku.
“Ini sudah puncaknya mas, Mahameru, selamat ya,” ucapnya. “Mahameru mas, benar?,” tanyaku lagi seolah tak percaya.
“Benar mas,” jawabnya meyakinkan.
Kali ini aku benar-benar percaya karena tidak ada lagi tebing terjal, lalu aku menembus kabut yang tebal dalam angin kencang dan udara dingin. Perlahan dua orang semakin jelas terlihat yang aku kenal berada di dekat sebuah tiang dengan plat bertuliskan “Puncak Mahameru 3676 MDPL”, mereka adalah Santo dan Fitriyanto. Sekitar 6 jam Semeru tertaklukkan.

“Bro…kamu di belakangku?, aku kira tadi kamu dah duluan makanya aku terus berjalan, gak taunya sampai sini gak ada siapa-siapa. Aku kira kamu sudah sampai lebih dulu,” kata Santo yang beberapa saat kemudian dikatakan serupa oleh Fitriyanto.
Yup mereka berdua mengira aku tetap di depan dan duluan sampai. Santo cukup bagus fisiknya tiba duluan, sedangkan Fitriyanto paling unik dalam pendakian ini dan aku bilang luar biasa. Fitriyanto hanya mendaki dengan sandal gunungnya, celana pendek, baju kaos, slayer dalam cuaca dingin. Sementara saya dan kebanyakan teman-teman lain luar biasa lengkapnya dengan sepatu, lengan panjang, jaket, sarung tangan dan kupluk. Tapi fisik Fitriyanto luar biasa bisa menjadi nomor dua duluan sampai di antara kami. Apa rahasianya?, selain dia enjoy menikmati pendakian dengan pemutar musik yang selalu dimainkan dan lonceng kecil berbunyi di tas pinggangnya, dia juga sering olahraga. Yup dia atlet panjat dinding, heehee…olahraganya rutin, fisiknya terjaga.

Sesampai di puncak langsung kami berpelukan dan mengabadikan moment dengan berkali-kali jepretan. Sayang lagi-lagi cuaca kurang mendukung, benar-benar berkabut sehingga pemandangan indah Mahameru tidak begitu bagus. Sujud syukur saya lakukan sebagai pencapaian tertinggi bagi saya pribadi untuk pendakian tertinggi di tanah Jawa.

Tidak lama kemudian beberapa teman-teman tiba, Resty, teman-teman pendaki lainnya, Irna dan Wawan. Sayang Eni dan Rudi terhadang hujan dan badai saat berada sekitar beberapa ratus meter dari puncak. Mereka bersama beberapa temen-teman Akademi Maritim Jakarta sempat mencoba bertahan dengan memakai jas hujan. Namun cuaca yang membuat dingin luar biasa membuat mereka memutuskan turun menghindari hal lebih fatal.

Dengan kondisi cuaca kurang bagus tidak sampai satu jam kami berada di atas lalu turun lagi. Perjalanan turun praktis kami lakukan sambil berlari ibarat bermain sky pasir, seru dan beresiko. Beruntung walau pernah jatuh tapi tidak fatal dan terus kami lakukan turun dengan cara sky pasir yang seru dan cepat. Sebentar saja melumat turunan pasir Semeru dan memasuki hutan belantara.

Tidak lama kemudian hujan turun lebat sehingga membuat kami menjadi lebih mempercepat langkah. Tidak terasa Arcapodo terlewatkan hingga kemudian setelah hampir 2 jam Kali Mati hampir dekat. Sebuah camp didirikan sebelum Kali Mati dan kami ditawarkan untuk mampir, ternyata di situ ada rombongan Eni, Rudi dan lainnya. Aku sempat berhenti dan menikmati kopi mencoba menepis dingin. Eni dan Rudi bercerita kegagalannya namun tak kami bahas lebih jauh.

Karena kondisi pakaianku basah kuyup akhirnya tidak lama aku melanjutkan ke Kali Mati yang tidak sampai 10 menit telah sampai. Cuaca mulai mereda dan waktu tersisa saya pakai untuk istirahat serta membuat makanan. Satu hal pelajaran yang aku dapat setelah summit adalah, terpenting bukan sekedar menaklukkan tebing terjal, sejatinya adalah menaklukkan diri sendiri yang terkadang melekat rasa angkuh dan egois.

Summit Mahameru dalam kondisi hujan berkabut
Summit Mahameru dalam kondisi hujan berkabut

 

 

Bersama Teman-teman saat Summit Mahameru
Bersama Teman-teman saat Summit Mahameru

 

 

 

 

 

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *