Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (2)

Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (2)

*Ranu Pani-Ranu Kumbolo

Setelah memastikan selesai, jam 12.30 WIB kami kemudian memulai perjalanan, tentunya dimulai dengan doa bersama. Kami gunakan jalur umum yang direkomendasikan ke arah kiri setelah resort pendaftaran Ranupani. Melewati perkebunan penduduk dan kiri kanan bukit lalu bertemu pintu gerbang selamat datang Gunung Semeru.

Pintu Gerbang Selamat Datang Semeru via Ranu Pani
Pintu Gerbang Selamat Datang Semeru via Ranu Pani

Jalur Ranupani via Watu Rejeng relatif landai dan tidak terlalu membosankan bagi saya. Banyak tempat-tempat yang unik baik pepohonan, batu, bukit maupun awan yang kebetulan cerah. Jalur trek cukup jelas dengan keterangan jaraknya yang terpampang pada beberapa papan. Begitu juga tanda-tanda yang diikat dalam beberapa pohon sebagai petunjuk sangat jelas.

Perjalanan Ranu Pani ke Watu Rejeng
Perjalanan Ranu Pani ke Watu Rejeng

Sekitar 3 KM dari Ranu Pani sampai di Pos 1 dengan nama Landeng Dowo, perjalanannya sekitar 1 jam lebih. Lalu perjalanan selanjutnya menuju ke Watu Rejeng yang cukup jauh dengan jarak sekitar 4,5 KM. Butuh waktu sekitar 3 jam lebih sampai di Pos Watu Rejeng. Perjalanan di Watu Rejeng sedikit terhambat karena salah satu teman kami Wawan agak drop.

Wawan sempat meminta berhenti bahkan mengajak ngecamp. Namun mengingat kondisi Watu Rejeng kurang bagus untuk ngecamp kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Tim kemudian kami pecah dua. Saya dengan Irna berangkat duluan ke Ranu Kumbolo untuk segera sampai dan mendirikan tenda, sementara rombongan Wawan, Resti, Rudi dan Eni menyusul. Wawan yang drop terpaksa harus disupport penuh termasuk carrriernya dibawa bergantian oleh Resti dan Rudi. Yup, Resti is wonderwoman saat itu.

Saya dan Irna berusaha melangkah cepat walau terkadang harus beristirahat karena medannya ternyata cukup masih jauh. Ditambah lagi cuaca mulai gelap membuat kecemasan mulai menyinggapi. Tanda-tanda Ranu Kumbolo sekitar 30 menit perjalanan sudah mulai tampak, tapi ternyata harus melewati perbukitan lagi. Barulah kemudian benar-benar bisa melihat secara jelas Ranu Kumbolo dan sumpah itu indah banget.

Ranu Kumbolo mulai terlihat
Ranu Kumbolo mulai terlihat

Ranu Kumbolo jelang magrib begitu indah dengan savana di sekelilingnya. Tapi rupanya posisi camp masih harus menuruni lembah dan naik bukit lagi. Butuh waktu 30 menit kami sampai di camp Ranu Kumbolo yang sudah berjejer tenda-tenda para pendaki, termasuk juga rombongan pendaki yang satu mobil dengan kami tadi siang. 1 jam lebih perjalanan dari Watu Rejeng ke Ranu Kumbolo

Saya kemudian langsung mencari posisi mendirikan tenda yang berjejeran dengan pendaki lain di tepi danau. Malam itu juga dibantu oleh pendaki lain untuk mendirikan tenda dome yang saya bawa. Saat bersamaan dari kejauhan tampak cahaya senter mengarah kepada kami. Dan itu adalah rombongan Wawan. Cahaya sinar seperti meminta bantuan dan mengundang tanya pendaki lain.

Rombongan anak Akademi Maritim Jakarta merespon hal itu dan bertanya rombongan siapa. Saya lantas menjelaskan itu teman kami yang terlambat karena ada satu orang sakit. Lalu mereka kemudian berniat menyusul untuk membantu. Akhirnya saya ikut menyusul dan Irna menunggu di tenda.

Butuh hampir 30 menit lagi menuju Wawan cs. Dan kami bertemu di lembah sebelah utara Ranu Kumbolo. Untung kami jemput karena jalur ke camp Ranu Kumbolo agak sulit dicari pada malam hari, sebab terdiri dari beberapa jalan. Saya kemudian membantu membawa carrier Wawan yang berkapasitas hampir 100 liter, cukup berat. Hehehe.

Setelah kembali bersusah payah mendaki bukit di pinggiran Ranu Kumbolo akhirnya kami sampai di lokasi camp dan saya akhirnya tepar. Semua teman-teman langsung mendirikan tenda dan Wawan juga langsung berselimutkan sleeping bag di dalam tenda. Dalam kondisi baru sampai kami kemudian memasak nasi dan masak untuk makan malam.

Makan malam di Ranu Kumbolo dinikmati dalam kondisi dingin yang cukup menusuk ke tulang. Dan baru saja bersantai usai makan kami dikejutkan dengan informasi salah satu pendaki minta ditemani turun. Rupanya salah satu dari rombongan temen-temen Akademi Maritim Jakarta hiportemia.

Kami balik mencoba memberi pertolongan. Kondisi teman pendaki satu ini benar-benar hiportemia akut. Seluruh tubuhnya kaku kedinginan. Sleeping bag kami berikan kepadanya, bahkan kakinya kami panaskan dengan parapin dan api kompor gas. Teman-temannya sempat panik ingin membawa turun, beruntung oleh Eni dan Resty bisa diatasi dan akhirnya terbebas dari hiportemia.

Dan malam itu saya harus merelakan tidur tanpa sleeping bag. Cukup dingin, tapi selamat juga sampai pagi. Pagi terbangun di Ranu Kumbolo tidak ingin saya lewatkan, embun pagi tampak menguap dari Danau Ranu Kumbolo lalu berangsur dilengkapi kemunculan mentari. Cuaca kurang bagus, sunrise tidak begitu jadi. Namun momentnya tetap kami abadikan dengan jepretan kamera.

Pagi di Ranu Kumbolo
Pagi di Ranu Kumbolo

Lalu setelah itu kami bersiap memasak untuk sarapan pagi di Ranu Kumbolo yang indah. Latar belakang tanjakan cinta dan birunya langit di atas bukit bersavana serasa kami berada di syurga. Ini yang saya rindukan dan ingin saya rasakan kembali, tapi gak tahu kapan bisa ke sana lagi.

Menyiapkan sarapan pagi di Ranu Kumbolo
Menyiapkan sarapan pagi di Ranu Kumbolo

Menikmati keindahan Ranu Kumbolo rasanya tak pernah habis, berkali-kali kami berfoto. Namun lagi-lagi dampak pendakian yang jumlahnya melonjak sejak booming film 5CM adalah sampah menumpuk di Ranu Kumbolo, serasa kesuciannya ternoda. Pagi itu saya benar-benar berusaha menikmati Ranu Kumbolo semaksimal mungkin sebelum akhirnya kami packing untuk perjalanan selanjutnya.

Ranu Kumbolo yang ngangenin
Ranu Kumbolo yang ngangenin

 

 

 

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *