Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (1)

Menggapai Puncak Tertinggi Tanah Jawa, Mahameru (1)

Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya menuju ke Gunung Semeru yang lebih dikenal Mahameru dari Belitung-Babel. Saya akan memulai tulisan dari setiap tahapan perjalanan dengan beberapa bagian untuk mencoba menerangkan setiap tahapannya. Mulai dari persiapan keberangkatan, perjalanan darat, pendakian, summit, bonus wisata pasca pendakian hingga kepulangan kembali ke Belitung-Babel.
Butuh 6 bulan bagi saya untuk mematangkan rencana perjalanan ke Mahameru, mengingat saya tinggal di luar Pulau Jawa sehingga benar-benar harus mempertimbangkan soal waktu, biaya, teman pendakian, peralatan hingga yang terpenting fisik dan mental. Secara tak sengaja teman Pramuka saya, Irna anak Sulawesi Tenggara menawarkan untuk berangkat sama-sama ke Mahameru bersama beberapa teman-teman lainnya. Saya langsung katakan ikut serta hingga kemudian bertambah menjadi teman lainnya, Wawan dari Lombok-Nusa Tenggara Barat, tiga orang dari Kalimantan Barat yakni Eni, Resty dan Rudi.
Oh iya, saya tinggal di kepulauan, tepatnya Belitung dikenal juga dengan negeri Laskar Pelangi, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Setelah memastikan dapat mengambil cuti full 12 hari pada tahun 2013 akhirnya saya punya waktu di bulan Desember. Jadwal tersebut dipaskan dengan teman-teman dari daerah lain sehingga sepakat bertemu di Surabaya tanggal 8 Desember.

Mengingat cuti yang cukup panjang, akhirnya saya memutuskan berangkat dari Belitung tanggal 5 Desember dengan bersantai satu malam di Jakarta. Lalu pada pagi harinya bertemu dengan teman di daerah Salemba, Depok hingga kemudian bertemu teman saya yang dari Sulawesi, Irna di Stasiun Kota Jakarta.

Kita nyaris terlambat karena alasan klise orang Indonesia, telat datang ke stasiun, beruntung masih bisa naik kereta walau sempat lari-larian. Kereta perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menggunakan kereta api ekonomi jam 11.30 WIB dengan tujuan akhir stasiun Gubenk. 14 jam lebih perjalanan saya lalui bersama Irna, cukup lama namun saya cukup enjoy dengan perjalanan kereta sekarang yang pasti dapat tempat duduk. Walaupun kelas ekonomi tapi sudah dilengkapi AC di setiap gerbongnya.

Perjalanan dengan kereta menurut saya adalah pelengkap petualangan ala backpacker. Tidak sah rasanya tanpa naik kereta yang selain ekonomis juga penuh cerita. Perjalanan kereta ekonomi dengan menyinggahi sejumlah stasiun bisa menyempatkan kita sesekali untuk bersantai atau mengabadikan moment dengan berfoto. Tentunya sajian pemandangan indah ditambah, bertemu penumpang hingga kenalan baru sesama teman backpacker yang kebanyakan juga pergi ke gunung.
Sekitar jam 2 malam kami tiba di Stasiun Gubeng. Pertama kali menginjak kaki di stasiun kereta kelas ekonomi Surabaya ini suasananya relatif standar. Walau banyak orang yang menawarkan angkutan namun masih aman dan tidak terlalu membuat khawatir. Saya dan Irna menunggu beberapa saat kedatangan kakak saya yang sedang dalam perjalanan.
Sedangkan penumpang lainnya termasuk teman-teman backpacker sudah mulai melanjutkan perjalanan. Ada yang menumpang angkot, ada juga memakai taksi dengan cara patungan. Barulah sekitar 20 menit kemudian kakak saya tiba dan kami meninggalkan stasiun untuk menuju kediaman kakak saya di daerah Wiyung. 3 hari kami menginap di Surabaya.

*Metting Point Surabaya-Malang-Tumpang-Ranu Pani

Jadwal kami agak meleset dari rencana yang semula karena masih menunggu temen-temen Kalbar datang. Saya dan Irna sempat menikmati tempat santai di Surabaya seperti Taman Bungkul hingga objek wisata air terjun di Tretes, Malang bersama kakak saya dan istrinya. Dari jadwal semula tanggal 7 Desember mulai berangkat akhirnya kami baru bertemu tanggal 8 Desember.

Wawan teman asal Lombok juga tiba tanggal 7 Desember serta menginap di Kantor Pramuka Jawa Timur. Saya dan Irna menyusul tanggal 8 Desember malam, sedangkan temen-temen Kalbar masih terhambat di Tasikmalaya akibat kehabisan tiket kereta ekonomi. Setelah menyusul Wawan, kami mulai menghitung kekuatan personil dan perlengkapan.
Ternyata yang bener-bener pernah naik gunung hanya aku dan Wawan. Sedangkan yang lainnya belum, sehingga kami agak terkendala dari segi perlengkapan. Beberapa peralatan kami penuhi dengan cara meminjam dan ada yang dibeli di Surabaya, cukup menguras budget. Kami juga harus men set ulang rencana karena temen-temen Pramuka di Surabaya yang semula bakal menjadi pemandu batal turut serta.
Baru besok malamnya tanggal 9 kami lengkap berkumpul bersama teman-teman Kalbar. Karena terlalu lama menunggu, kami sepakat malam itu juga menuju Malang. Dibantu temen-temen Surabaya kami diantar ke Terminal Purabaya yang dikenal juga dengan Terminal Bungurasih Surabaya. Karena sudah jam 9 nan malam jalanan tidak terlalu macet. Sekitar 20 menit berangkat dari Jalan Kertajaya Utama menuju ke Terminal Bungurasih.
Beruntung masih tersedia bus ke Malang dan kami dapat bus Patas AC malam itu. Sepanjang perjalanan praktis kami tertidur semua, sampai-sampai perjalanan 3 jam lebih tidak terasa dan kami dibangunkan kernet karena telah tiba di Terminal Arjosari, terminal terbesar di Malang. Suasana Terminal Arjosari pada jam 2 pagi waktu itu benar-benar sudah sepi, hanya beberapa mobil saja yang berdatangan.
Beberapa orang menawarkan angkutan ke kami dan melihat style kami dengan carrier langsung tawarannya untuk sewa angkot ke Pasar Tumpang. Namun kami memutuskan menunggu di terminal, karena Wawan memiliki temen di Malang yang akan datang memberi petunjuk bagi kami selanjutnya. Sekitar satu jam kemudian, teman si Wawan yang bernama Sahrul tiba, karena situasi masih malam dan kalau melanjutkan perjalanan ke Tumpang mesti carter mahal, kami memutuskan untuk menunggu pagi.
Sebenarnya tidak menjadi masalah tanpa guide juga, kondisi Terminal Arjosari relatif aman. Kami lalu memutuskan beristirahat di depan emperan toko dekat tempat mangkal angkot menuju Pasar Tumpang. Tidak begitu nyenyak tidur dalam posisi waktu tanggung, ditambah saat jam 05.30 WIB kondisi Terminal Arjosari sudah ramai. Kami pun bangun dan Sahrul mulai melobi salah satu angkot. Akhirnya karena kami tidak menunggu penumpang lainnya dan langsung berangkat, per orang dikenakan Rp 10 ribu, biasanya kalau ikut antri Rp 5 ribu. Setelah barang dinaikkan ke bagian atap angkot dan diikat tali, perjalanan dimulai dari Terminal Arjosari ke Pasar Tumpang.

Sekitar satu jam perjalanan menuju Pasar Tumpang mulai memberikan aura gunung yang dingin dan sejuk. Tiba di Pasar Tumpang dengan suasana kota dalam sebuah desa, cukup ramai namun kesan tradisional lokal masih sangat kuat. Suasananya santai dan relatif nyaman plus aman. Kami diturunkan ke sebuah rumah yang dipintu dan jendelanya banyak stiker organisasi pecinta alam.
Beberapa orang terlihat keluar masuk.

Ternyata ini rumah singgah atau semacam basecamp bagi backpacker yang hendak ke Semeru, yang punya namanya Mbak Nur, sebuah rumah dan tuan rumah yang luar biasa karena menyediakan penginapan gratis, cas hp gratis, mandi gratis, dibuatkan teh dan kopi gratis serta keramahan tentunya. Tapi kalau ada kelebihan uang boleh lah disisikan untuk Mbak Nur sebagai wujud terimakasih kita.

Di Pasar Tumpang, kami mampir sebentar sambil menyiapkan logistik. Tidak perlu khawatir, di Pasar Tumpang cukup banyak menyediakan logistik termasuk keperluan pendakian. Termasuk juga bagi yang belum memiliki surat keterangan sehat dokter bisa dibuat di Puskesmas Tumpang selagi hari kerja. Puskesmas Tumpang adalah Puskesmas terakhir sebelum menuju Semeru. Jangan coba melanjutkan perjalanan tampak surat keterangan sehat karena nanti repot sendiri.

Setelah merasa cukup perlengkapan logistik, kami kemudian berkumpul dan bersiap berangkat ke Ranu Pani. Tidak susah, karena Mbak Nur sebenarnya memiliki konektivitas dengan sejumlah pemilik mobil sewaan, termasuk juga angkutan ke Ranu Pani. Untuk penghematan kami digabungkan dengan pendaki lain dalam sebuah mobil truk.

Sekitar 12 orang masuk ke mobil truk dan kami berangkat jam 10 pagi itu.  Perjalanan ke Ranu Pani lagi-lagi memberikan nuansa beda bagi saya yang tinggal di kepulauan. Biasa saya merasakan panas, tapi menuju Ranu Pani begitu sejuk dengan kiri kanan banyak hamparan alam nan hijau. Jalan berkelok-kelok, naik turun menjadi ciri khas menuju ke kaki gunung.

Temen-temen mesti menyiapkan memory card dan baterai kamera, karena banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan seperti perkebunan rakyat di perbukitan, termasuk yang paling membuat decak kagum saya ketika melintasi perbukitan dengan savana bromo, luar biasa kerennya. Kami semua terpaku atas keindahan ciptaan Tuhan yang tiada duanya itu, Subhanallah.

Savana Bromo, Bukit Teletubbies yang terlihat saat perjalana Tumpang menuju Ranu Pani
Savana Bromo, Bukit Teletubbies yang terlihat saat perjalana Tumpang menuju Ranu Pani

Jalanan menuju Ranupani yang sempit dan berkelok juga membuat spot jantung. Harga Rp 35 ribu per orang untuk angkutan truk rasanya tidak mahal dengan resiko yang sangat besar bagi sopir. Terkadang mobil yang melintas harus berhenti mengantri giliran untuk lewat bila berpas-pasan dengan mobil lain, karena jalan sempit.

Di dalam truk bersama Wawan
Di dalam truk bersama Wawan

Sekitar dua jam tanda-tanda Desa Ranu Pani telah tampak, rumah-rumah penduduk cukup banyak, ada sekitar ratusan kepala keluarga. Bentang jalan sekitar 2KM dari awal memasuki Desa Ranupani akhirnya bertemu sebuah danau, yup itu Danau Ranu Pani. Kondisinya yang dekat pemukiman membuat Danau Ranu Pani ini kurang terlalu eksotis, karena agak tandus akibat aktivitas manusia. Beberapa ratus meter kemudian kami berhenti dan pemberhentian terakhir ini adalah posko pendaftaran pendakian semeru, pintu masuk Ranu Pani.
Saya dan Wawan setelah menurunkan carrier dan mengumpulkan administrasi berupa fotocopy KTP, materai 6 ribu 1 lembar per kelompok, surat keterangan sehat segera menuju ke loket pendaftaran. Petugas kemudian menerima registrasi kami, lalu sejumlah pembayaran dikenakan seperti karcis masuk, biaya pembawaan kamera dan biaya pembawaan tenda. Hikss…pendakian Semeru paling banyak menguras biaya saat di pintu masuk.

Setelah mendapat tanda bukti pembayaran kami bersiap, beberapa pendaki terlihat ada yang turun dan juga baru tiba. Dampak film 5CM memang menghipnotis orang-orang ke Semeru terlihat dari naiknya sejumlah biaya pendakian, dan lebih parahnya lagi meningkatnya sampah di sepanjang trek Semeru. Yah, Semeru pada akhirnya tidak lagi hanya menggoda pendaki yang hanya identik berkutat dengan alam, remaja putri dengan stelan ke mall atau kampus pun terlihat di Semeru. Walau sebenarnya pendakian ke gunung menyangkut masalah keselamatan tetapi sepertinya di Semeru tidak sepenuhnya berlaku bila melihat style beberapa orang yang kami temui. Hehehe…

Perjalanan Dimulai
Perjalanan Dimulai

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *