Menelusuri Beberapa Tempat di Negeri Minangkabau

Menelusuri Beberapa Tempat di Negeri Minangkabau

*Memanfaatkan Momen Disporseni UT di Kota Padang
Tidak diduga saya mendapat kesempatan untuk ke Kota Padang. Perjalanan ke negeri yang dikenal dengan Minangkabau, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) saya dapat dari Universitas Terbuka (UT) setelah terpilih sebagai peserta Debat Ilmiah, Pekan Olahraga dan Seni (Disporseni), mewakili UPBJJ UT Pangkalpinang.

Awalnya sekedar mencoba ikut tes untuk mata lomba Debat Ilmiah karena diajak yunior sekaligus teman, Nia Erawati. Sempet ragu karena gak punya pengalaman untuk lomba itu. Tetapi disuruh mencoba mendaftar, karena menurut Nia pasti bisa dengan pengalaman yang saya punya.

Setelah memenuhi tes di UPBJJ UT Pangkalpinang, akhirnya saya dikabarkan menjadi peserta debat ilmiah. Pada bagian ini saya mengucapkan terimakasih untuk Nia yang telah memberi motivasi untuk ikut tes tersebut. Sebenarnya obsesi ke Padang ada dua, pertama saya ingin napak tilas lokasi cerita Novel dan Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka. Yang kedua saya ingin ke Gunung Kerinci, gunung merapi tertinggi di Indonesia.

Rupanya saya lebih berkesempatan untuk menyentuh objek karya Buya Hamka walau tidak keseluruhan. Sempat terpikirkan ingin memisah diri dari rombongan usai kegiatan untuk lanjut mendaki ke Gunung Kerinci, tapi pertimbangan persiapan yang minim akhirnya saya batalkan. Next time….

Tiba kemudian waktu keberangkatan pada Rabu 19 Agustus 2015. Kami berkumpul di Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Ada 14 orang rombongan kami, peserta berbagai lomba termasuk official. Berangkat pukul 06.45 WIB selama 55 menit menggunakan Sriwijaya Air lalu kami transit di Bandara Soekarno Hatta. Kemudian terbang lagi ke Bandara Minangkabau Padang pukul 09.00 WIB menggunakan Sriwijaya Air juga.

#Tanah Minangkabau
Perjalanan berjalan lancar, dan kami tiba dengan selamat di tanah Minangkabau. Aroma kisah engku Zainudin dan rangkayo Hayati pada cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck semakin terasa. Tapi saya harus melupakan itu dahulu karena kami segera menuju tempat penginapan di LPMP Provinsi Sumbar yang berdampingan dengan Universitas Negeri Padang (UNP).

Dari bandara kami melintasi jalur perkotaan dengan kiri kanan jalan terdapat rumah dan perkantoran identik atapnya khas Minangkabau, rumah gadang. Cuaca Kota Padang saat kami datang cukup panas. Jadinya setelah sampai di LPMP kami memilih untuk istirahat. Sebagian lainnya ada juga jalan-jalan ke mall matahari tidak jauh dari LPMP.

Sore harinya saya yang satu kamar dengan Septian Valdano, peserta lomba bulutangkis asal Pangkalpinang berjalan ke daerah belakang LPMP, masih kawasan kampus UNP. Banyak terdapat rumah warga yang sebagiannya mempunyai usaha seperti warung makan, fotocopy, rumah kost dan sebagainya.

Malam hari kami secara normatif mengikuti acara welcome party Disporseni, dilanjutkan dengan technical metting mata lomba. Sesudah itu karena baru hari pertama dan tubuh agak terasa capek, saya dan Septian memutuskan kembali ke kamar untuk istirahat.

#Hari kedua di Kota Padang saya mulai mengikuti lomba Debat Ilmiah. Dalam undian kami berhadapan dengan utusan UPBJJ UT Palembang. Partner debat saya adalah Citra (jangan pikir cewek ya, tapi cowok). Lomba debat ilmiah dengan undian pilihan pro dan kontra atas topik yang disiapkan membuat kami tak ada beban. Easy going, dan akhirnya dapat pro yang merupakan posisi tak menguntungkan bagi peserta debat kali ini.

Debat selama 28 menit berlangsung cukup atraktif antara saya dengan salah satu-satu bapak-bapak utusan dari Palembang. Rasa-rasanya waktu masih kurang. Sementara peserta lain lebih tekstual dalam menyampaikan. Tapi sejak awal tak berharap banyak akan menang dengan komposisi 3 dewan juri yang semuanya berasal dari Padang.

Selesai lomba debat ilmiah beban serasa lepas dan memulai fokus untuk yang saya inginkan. Apalagi kalau bukan segala tentang Padang termasuk mengenai Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Akhirnya malam itu kami putuskan untuk wisata ke Bukit Tinggi esok hari.

#Hari ketiga di Kota Padang hampir semua menyelesaikan pertandingan lomba. Hanya Septian yang masih lomba final bulutangkis dan Yulia untuk final tenis meja. Kami pun langsung memenuhi tempat pertandingan untuk jadi suporter.

Saya yang satu kamar dengan Septian tentunya fokus ke final bulutangkis. Akhirnya tidak sia-sia teriakan saya untuk Septian yang menang Juara 1 bulutangkis. Sementara Yulia mendapat juara 2. Setelah itu kami bergegas kembali ke kamar dan bersiap berangkat menuju Padang Panjang, dan Bukit Tinggi.

Nah, ini adalah daerah yang diceritakan Buya Hamka pada novel dan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Perjalanan kami mulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan jalanan mulai meninggalkan perkotaan berganti sawah, perbukitan dan gunung. Jalan berkelok-kelok naik turun akhirnya membawa kami tiba di Air Terjun Telaga Lembah Anai.

Air Terjun Telaga Lembah Anai
Air Terjun Telaga Lembah Anai
Mejeng bentar di Telaga Lembah Anai
Mejeng bentar di Telaga Lembah Anai

Tempat ini direkomendasikan Pak Boy Yandra, Kabag Humas Pemkab Bangka untuk dikunjungi, beliau asal Minangkabau juga. Akhirnya saya bisa mulai menikmati Negeri Minangkabau dengan tipe saya yang lebih suka hal-hal natural atau mempunyai makna tertentu berkaitan dengan traveller.

Sejuk....
Sejuk….
tuh kan rame....
tuh kan rame….

Air terjun Lembah Anai berada di samping jalanan umum. Sudah menjadi objek wisata yang dikelola masyarakat setempat. Air terjun dengan tinggi hampir 30 meter ini membentuk kubangan di bawahnya. Jernih, bersih dan dingin. Moment tersebut kami gunakan untuk bersantai sejenak. Untuk masuk ke kawasan air terjun Lembah Anai cukup membayar karcis masuk Rp 3 ribu per orang. Sekitar 30 menit di air terjun Lembah Anai kami kemudian melanjutkan perjalanan kemudian ke Bukit Tinggi.

Aura kampung Hayati dan Zainudin semakin terasa. Rumah-rumah khas Minangkabau semakin mudah dilihat. Negeri Minangkabau juga sangat religius untuk agama Islam. Terlihat dari aktivitas masyarakatnya mulai anak kecil, pelajar maupun di masjid-masjid banyak menjalankan aktivitas Islami.

Sampai di Bukit Tinggi kami makan siang di rumah makan padang. Cukup lumayan rasanya, begitu juga dengan harga. Dengan menu disaji, dalam rombongan berjumlah 15 orang kami membayar Rp 600 ribuan, atau sekitar Rp 40 ribuan per orang. Usai makan kami kemudian mengunjungi Jam Gadang Kota Padang, salah satu icon Negeri Minangkabau.

Letaknya berada di pusat kota Bukit Tinggi dekat rumah Bung Hatta. Jam Gadang salah satu destinasi populer yang ramai dikunjungi warga serta wisatawan. Terdapat juga pusat perbelanjaan dan pertokoaan. Cukup murah untuk harga oleh-oleh di area Jam Gadang.

Jam Gadang
Jam Gadang                                        
Pegunungan selalu bikin sensasi tersendiri
Pegunungan selalu bikin sensasi
Sisi lain area jam gadang
Sisi lain area jam gadang

Pemandangan dan suasananya juga lumayan menarik karena berada di ketinggian sehingga bisa memperlihatkan sisi lain Bukit Tinggi dengan latar belakang pegunungan. Usai berfoto ria dan membeli beberapa oleh-oleh di seputaran Jam Gadang kami melanjutkan perjalanan ke Lobang Jepang.

Lobang Jepang
Lobang Jepang
Lorong Lobang Jepang
Lorong Lobang Jepang

Sebuah tempat masa penjajahan dulu yang merupakan basis tentara Jepang. Tempat ini berupa lorong bawah tanah yang menyimpan kisah miris. Untuk memasukinya kita harus membayar karcis Rp 8 ribu per orang dan bisa menyewa guide Rp 100 ribu sekali trip.

Kondisi lobang gua sangat unik dan meninggalkan kisah-kisah tentang aktivitas tentara Jepang, mulai dari masyarakat Indonesia sebagai pekerja romusa, lorong barak, lorong penjara bawah tanah. Termasuk juga beberapa lorong yang menjadi tempat penyergapan, lorong menuju jurang eksekusi dan sebagainya.

Masuk ke lobang Jepang sebaiknya siapkan mental karena aroma mistis dan kesedihan cukup terasa. Sebaiknya tidak usah masuk bila merasa tidak yakin. Dan kalau memang baru pertama kali ke situ sebaiknya menggunakan guide, atau kalau tidak pakai guide jangan jauh dari rombongan wisatawan lainnya. Lorong lobang Jepang memiliki beberapa labirin sehingga membingungkan kalau kita baru pertama kali mengunjunginya.

Ternyata Lobang Jepang adalah akhir perjalanan saya sesungguhnya di Negeri Minangkabau, setelah itu kami kembali lagi ke Kota Padang karena hari sudah sore. Perjalanan ke Padang ditempuh sekitar 2 jam lebih dan kembali melintasi telaga Lembah Anai, cukup menenangkan saat melihat air terjunnya.

Setiba di LPMP Sumbar kami melanjutkan rutinitas biasa. Malamnya mengikuti penutupan dan kami menambah juara 2 lomba menyanyi solo pria yang didapat Ervan. Sementara lomba lainnya termasuk debat ilmiah yang saya ikuti tidak berhasil menjadi pemenang.

Malamnya saya Nia dan Indah mencari makan di area belakang LPMP dan bertemu sebuah kafe tidak jauh dari perempatan. Harganya murah, tempatnya rapi. Nasi goreng dengan porsi dan rasa lumayan hanya Rp 8 ribu. Jam 11 malam lewat kami kembali ke penginapan untuk istirahat.

#Hari terakhir di Padang kami gunakan mengunjungi Pasar Raya untuk berbelanja oleh-oleh. Termasuk juga ke toko oleh-oleh Christine Hakim yang cukup terkenal di Kota Padang. Dan saya memilih kripik Sanjay sambal balado sebagai oleh-oleh.

Tidak jauh dari Pasar Raya dekat halte Trans Padang terdapat sebuah lapangan yang gazibu atapnya juga khas Minangkabau. Di tempat ini kami menyempatkan untuk berfoto ria kembali sebelum kembali ke LPMP.

Rumah Gadang dekat Pasar Raya Padang
Rumah Gadang dekat Pasar Raya Padang

Barulah kemudian sekitar pukul 10.00 WIB kami kembali ke LPMP dengan menumpang bus lalu menuju Bandara Minangkabau Padang sekitar pukul 12.00 WIB untuk kembali ke Pangkalpinang. Demikian perjalanan saya ke Negeri Minangkabau yang bisa saya bagikan.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *