Kisah dari Merbabu, Jogja, Jakarta

Kita, Tak sepenuhnya saling Kenal, Akhirnya bersama di Puncak Merbabu

Perjalanan ke Gunung Merbabu 3.142 MDPL ini harusnya saya tulis bulan Agustus lalu, tapi baru bisa terwujud sekarang. Sebuah perjalanan bersama temen, Marwan alias Mandor alias Riesta Pradtya serta Junika Rafizi alias Ii.

Rencana sejak satu tahun sebelumnya ini sengaja membidik Merbabu yang lebih bersahabat untuk pemula namun memiliki view menakjubkan, seperti sabana dan edelweis. Tebaran saya untuk share cost pun disambut beberapa teman dari luar Bangka yang kemudian fix dalam rombongan Nurhadi (Cibubur), Katiwidia (Cilandak), Andi (Ani) asal Sulawesi Tenggara namun stay di Jakarta.

Satu lagi Gaya Trioktalina asal Bangka stay Bandung turut serta. Sebenernya, ada beberapa yang hendak joint namun terpaksa ditolak karena kuota saya batasi 8 orang. Komunikasi intens lewat grup wa kami lakukan satu bulan sebelum pendakian. Persiapan pembokingan tiket pesawat dan kereta kami lakukan secara terpisah, kebetulan saya, Mandor bersamaan, menyusul Ii dan temen-temen di Pulau Jawa dengan tiket kereta.

*Pra keberangkatan :
Pra keberangkatan kami melakukan latihan fisik masing-masing. Saya, Mandor dan Ii sempat latihan bersama dalam beberapa hari di Bukit Siam, dan Bukit Matras berupa latihan joging. Yang lainnya latihan masing-masing, walaupun kenyataannya sulit untuk maksimal karena semua pada sibuk banget.

Hingga kemudian 2 minggu sebelum keberangkatan kami membagikan perlengkapan tim, mengingatkan perlengkapan pribadi serta membuat itenerary perjalanan ke Merbabu dan spot lainnya.

berdoa sebelum meninggalkan rumah
foto bareng ayah ibu sebelum berangkat

*10 Agustus
Kami dari Bangka berangkat menggunakan pesawat Lion Air penerbangan sore yang kemudian delay hingga tiba di Jakarta malam. Dari bandara kami lanjut ke Terminal Rawamangun untuk menuju kontrakan Vivi, kakak dari Ii. Kontrakannya di daerah Prumnas Klender. Dari Rawamangun kami menggunakan grab car ke kontrakan Vivi yang kemudian tiba sekitar jam 9 nan.

Sempat bersantai sejenak, mandi dan makan kami kemudian keluar mencari perlengkapan pendakian yang kurang. Kebetulan Mandor dan Ii mencari jaket waterproof dan beberapa barang lainnya. Sedangkan saya membeli botol minuman saja karena yang lainnya sudah cukup. Paginya, kami bersiap menuju ke Stasiun Senen dengan terlebih dahulu berjalan ke arah stasiun KRL Buaran. Lalu dari Stasisun Buaran menuju ke Stasiun Senen sebagai metting point kami.

*11 Agustus
Tiba di Stasiun Senen sekitar pukul 9.30, dan kereta kami berangkat 11.25. Kami pun nge print e tiket, termasuk juga e tiket teman-teman yang lain. Tidak lama kemudian tiba Gaya, disusul Nurhadi dan Kati. Untuk pertama kalinya kami saling bertemu.

Lalu menyusul kemudian Ani yang ternyata temannya bernama Erma juga ingin ikut. Namun sayangnya Erma belum beli tiket yang kemudian kami cari ke loket dan masih tersedia. Saat bersamaan juga Nurhadi sama Kati harus berangkat duluan jam 10 dengan kereta berbeda, sedangkan tiket Erma 1 jam setelah keberangkatan kami dengan harga 300 san ribu. Cukup mahal tiket Erma karena dibanding kami yang tak sampai Rp 100 ribu.

Waktu pun tiba, kami harus berangkat duluan sedangkan Erma dalam perjalanan dari Cikarang ke Senen menggunakan ojek online. Di kereta kami pisah gerbong, saya dan Mandor satu gerbong, Ii, Gaya dan Ani satu gerbong.

Kabar sedihnya, Erma akhirnya tertinggal kereta dan batal joint ke Merbabu bersama kami. Fix akhirnya kami ber 7 orang ke Merbabu dengan menumpang kereta tujuan Stasiun Solo Purwosari. Perjalanan di kereta kami nikmati dengan bercerita berbagai hal termasuk soal pendakian, keadaan teman-teman ataupun membahas fenomena yang terjadi selama perjalanan.

Beberapa kali pemberhentian di stasiun kami sempatkan juga untuk turun menikmati udara segar maupun sekedar berfoto-foto. Sekitar jam 9 malam akhirnya kami tiba di Stasiun Solo Purwosari yang telah menunggu duluan Nurhadi dan Kati di sana.
Tidak menunggu lama, saya sudah berkomunikasi dengan mas Budi dari Basecamp Pak Parman Selo yang menjemput kami. Ia sudah menunggu di parkiran sehingga sebentar saja kami bertemu dengan mobil pick up-nya.

Tancap gas, kami pun meninggalkan stasiun menuju ke Boyolali dengan kecepatan cukup cepat karena jalanan sedang sepi. Sempat di tengah perjalanan kami singgah makan di warung pecel lele karena lapar “berteriak”.

Menu lele, ayam, dan ikan menjadi pilihan kami dengan memilih tempat lesehan untuk makan. Malam pertama kami utuh bersama, 3 laki-laki, 4 perempuan di Boyolali. Mas Budi pun ikut makan dan saat itu ia sempat bertemu dengan temannya.

Usai makan kami meminta hitung ke penjual, berulang kali penjual menyebutkan sudah dibayar sama teman mas Budi. Kami pun berulang kali bertanya yang kami berapa, namun ia kembali menjawab sudah dibayar teman Mas Budi. Tak puas kami sempat bertanya ke Mas Budi makan apa, dia bilang hanya dia saja yang sudah dibayar temannya, dan ternyata teman Mas Budi membayar Mas Budi dan kami semua. Rasanya,,,,,gak nyangka…kenal nggak, tapi kita dibayarin semua. Terimakasih temannya Mas Budi, murah rejeki dan sehat selalu ya.

wajah seneng abis ditraktir hehe

Setelah itu kami sempat membeli beberapa barang di minimarket depan tempat kami makan. Lalu kemudian melanjutkan perjalanan hingga memasuki area perkampungan di kaki gunung. Jalan menanjak, berkelok, sempit, kiri kanan jurang rasanya sangat ekstrim malam itu. Tapi kepiawaian Mas Budi benar-benar mampu menaklukkan jalan yang hampir 30 menit harus kami tempuh. Sekitar 2 jam dari Stasiun kami akhirnya tiba di basecamp yang telah penuh pendaki lainnya. Hasil lainnya di perjalanan Gaya dan Ani muntah perdana akibat kelokan Selo.

Basecamp Pak Parman yang merupakan rumah orang tua Mas Budi sangatlah besar, banyak kamar tidur dan juga kamar mandi. Cuaca dingin membuat kami tak terlalu banyak bisa melakukan apa-apa, ditambah letihnya perjalanan. Singkat saja kami langsung mengambil posisi tidur dengan berselimutkan SB.

*12 Agustus Kami bersiap setelah subuh. Kembali packing, mandi, membeli beberapa perlengkapan yang kurang hingga sarapan di basecamp. Sekitar pukul 8.30 kami bertolak meninggalkan basecamp dengan menitipkan beberapa barang bawaan di basecamp.

Pagi disamping Basecamp Pak Parman
Basecamp Pak Parman di Pagi yang cerah
Suasana pedesaan diantara beberapa basecamp pendaki
Pagi yang cerah di Basecamp Pak Parman

Jarak basecamp Pak Parman dengan posko taman nasional sangat dekat hanya 100 meter saja. Kami pun registrasi ke petugas yang kemudian dikenakan biaya karcis masuk Rp 5 ribu per orang, asuransi Rp 1 ribu plus bonus beberapa stiker Merbabu dan brosur peta jalur Merbabu.

Lagi nungguin simaksi
Pos pendaftaran Simaksi

Perjalanan dimulai…Dari gerbang pendakian Kantor Resort Semuncar Taman Nasional Gunung Merbabu sebenarnya sudah di ketinggian 1.800 Mdpl. Trek masih relatif landai dengan jalan setapak. Masih terasa nuansa perkebunan hingga kemudian setengahnya baru terasa menanjak. Butuh 1 jam lebih mencapai Pos 1 dengan melewati pos 1 bayangan. Trek sebenarnya mulai berdebu karena maraknya pendakian lewat jalur Selo ini. Kondisi tim terdapat personil yang sempat drop yakni Ii dan Gaya. Gaya bahkan sempat muntah namun lanjut kembali.

Sempat tepar
Pos 1 masih semangat

Kami tidak berlama di Pos 1 kemudian melanjutkan perjalanan ke Pos 2 yang tidak jauh berbeda. Namun medannya semakin menanjak dan beberapa trek berada di pinggir jurang. 1 jam lebih harus kami tempuh Pos 2 dan sudah masuk tengah hari.

Kami kemudian memutuskan untuk ishoma di Pos 2 yang terdapat juga pendaki lain. Di Pos 2 ini terdapat monyet yang cukup agresif sehingga disarankan tidak memanjakannya dengan memberi makanan ataupun terlalu dekat karena bisa aja malah kita diserang.

masih bisa senyum…

Di Pos 2 Kami istirahat sekitar 30 menit lalu berkumpul semua, termasuk Kati dan Nurhadi yang berada di belakang kami. Menuju ke Pos 3 trek semakin terbuka, panas dan berdebu. Cukup menguras stamina sehingga beberapa kali kami harus berhenti menghela nafas.

Sekitar 2 jam tampak beberapa pohon edelweis yang menjadi pemantik untuk terus berjalan. Menuju Pos 3 kita bisa menjumpai edelweis yang tampak mulai terlihat di sisi kiri kanan trek. Edelweis sedang berbunga, walau terkena debu tetap saja terlihat cantik. Momen awal bertemu edelweis di Merbabu ini tak kami lewatkan berfoto.

pos 3 agak tepar…
pose dalem mikirnya
ketemu lagi kati….

Kami pun berhasil menginjakkan kaki di Pos 3 yang cukup luas. Pos 3 menjadi pertemuan dengan jalur pendakian lainnya ke Merbabu. Pos 3 sangat luas, bisa ratusan tenda berdiri namun rentan badai karena terlalu terbuka. Di Pos 3 kami kembali istirahat sekitar 20 menit sambil menguatkan tenaga untuk menghadapi trek ke Sabana 1. Pos 3 disebut juga Batu Tulis sudah dalam ketinggian 2.593 Mdpl.

berjuang lagi nanjak

Sambil meregangkan otot, kami melihat para pendaki yang naik ataupun turun. Beberapa pendaki menyarankan kami nge camp di Pos 3 untuk menghemat tenaga. Tetapi kami akhirnya memutuskan lanjut ke Sabana 1.

Sudah ditebak perjalananke Sabana 1 adalah trek terberat di Merbabu ini. Jalanan berdebu, licin, panas, beban di pundak dan kelelahan menjadi tantangan. Kami harus berkali-kali istirahat mengatur nafas, demikian juga pendaki lainnya. Harus hati-hati melewati trek yang rentan membuat terpeleset ini.

Sekitar 2 jam harus menaklukkan trek ke Sabana 1 yang kemudian sampailah di area camp dengan hamparan sabana dan di sela-sela pohon edelweis.

kangen tempat ini
yang gak ditemuin di tempat tinggal, edelweis

Keindahan Merbabu semakin mempesona, saya, Mandor, Ani, Gaya, Ii tiba di Sabana 1 duluan. Setelah berfoto kami memutuskan untuk lanjut ke Sabana 2 karena tinggal 1 bukit lagi. Kami memutuskan untuk menunggu Nurhadi dan Kati di Sabana 2.

ah…merapi, gagahmu mempesona, awan pun merunduk

Menuju Sabana 2 tidak lah terlalu terjal dibanding tanjakan dari Pos 3 ke Sabana 1. Walau juga berdebu dan licin namun trek ini bisa kami selesaikan 30 menit. Rasanya lega bisa mencapai camp Sabana 2 sebelum petang.

Sejenak kami bersantai hingga kemudian memutuskan mencari tempat mendirikan tenda. Sebentar saja mendirikan tenda kami nikmati sore di Sabana 2 bersama pendaki lain. Angin kencang menjadi karakter Gunung Merbabu yang merupakan hamparan savana. Posisi tenda kami di antara sabana dan awan yang terlihat dibawah kami.

Kami tidak bisa terlalu banyak berbuat di malam hari, ditambah faktor kelelahan. Setelah makan saya memilih istirahat, sedangkan teman-teman lainnya sempat saya dengar bercengkrama dengan pendaki tenda sebelah. Sampai malam Nurhadi dan Kati tidak tiba di Sabana 2 yang kami yakini mereka camp di Sabana 1.

Oh ya, tidak ada sumber air sepanjang jalur Selo sehingga kami mengandalkan air yang kami bawa dari bawah.

13 Agustus

Sulit untuk bangun di dinginnya Merbabu. Rasa kantuk dari tidur yang tak nyenyak karena terpaan angin membuat saya baru bisa bangun jam 4.30, padahal target sebelumnya jam 3. Teman-teman lainnya juga sulit untuk dibangunkan, namun saya tetap berteriak agar mereka segera bangun bila ingin summit.

Sambil menunggu mereka bangun saya memasak air panas untuk summit. Angin kencang membawa debu ke arah tenda yang sempat membuat mata saya kelilipan. Teman-teman terpaksa saya “ancam” untuk segera bangun atau saya tinggalkan kalau saya selesai masak air.

Pastinya tak ingin hilang moment di puncak, saya lihat temen-temen mulai bangun, dimulai Mandor dan disusul yang lainnya. Akhirnya kami memulai pendakian summit hampir jam setengah 5 pagi. Beberapa pendaki tampak sudah lebih dulu berjalan.

Karena angin sangat kencang di Sabana 2 kami putuskan untuk merobohkan tenda supaya tidak melayang. Menuju summit lebih dahulu menyusuri jalanan datar di Sabana 2 hingga akhirnya menanjak. Treknya jangan ditanya lagi, licin dan berdebu sehingga harus pandai-pandai memilih pijakan kaki. Kami pun melewati jalanan yang terus menanjak ini hingga kemudian terpecah menjadi 2 tim kecil.

Saya dan Ani di depan, Mandor, Ii dan Gaya di belakang. Saya dan Ani tiba duluan saat matahari sedang keluar dengan kemerahannya yang bulat. Sebagai penghargaan kepadanya, saya persilahkan Ani yang untuk pertama kalinya ke gunung untuk menjejaki puncak Merbabu duluan.

kala sang surya mulai hadir
sun rise merbabu

Di puncak Kenteng Songo sebagai sebutan salah satu puncak Merbabu tampak banyak pendaki. Moment langkah ini kami abadikan dengan berbagai pose foto. 30 menit kemudian barulah tiba Mandor, Ii dan Gaya yang kemudian kami sempatkan foto bersama. Saya dan Ani juga sempat ke Puncak Triangulasi namun tidak lama karena debu anginnya terlalu massif berhembus.

duo Pelawan Babel

Baru saja kami hendak pulang ternyata Nurhadi dan Kati tiba summit. Jadinya kami menunda kepulangan dan bercerita hingga berfoto. Mereka memang memutuskan camp di Sabana 1 karena sudah kemalaman.

Mengabadikan moment di Puncak Kenteng Songo Merbabu
Para pecinta ketinggian

Merbabu hari itu cerah, dengan latar belakang Merapi, Sindoro, Slamet dan Sumbing adalah pemandangan istimewa. Hamparan savana di perbukitan dengan awan putih dibawah langit biru begitu sulit untuk ditinggalkan. Belum lagi edelweis yang sedang mekar-mekarnya. Tapi pada akhirnya kami harus merelakan diri untuk meninggalkan puncak.

Mandor dan Ani foto terus
masih semangat…

Menuruni puncak hanya butuh berhati-hati karena licin namun lebih mudah ketimbang naik. Sebentar saja kami tiba di Watu Lumpang dan di Sabana 2. Namun hari yang sudah siang memaksa kami bergegas memasak dan packing.

Dari kejauhan, tenda di sabana 2
Merbabu dengan savananya, takjub

Cukup menyita waktu untuk melakukan itu semua sehingga kami baru bisa meninggalkan Sabana 2 sekitar pukul 11. Tidak terlalu jauh menggapai Sabana 1 dari Sabana 2 dan kami bertemu dengan Nurhadi dan Kati. Mereka pun sudah rampung packing sehingga hanya istirahat sebentar saja kami kemudian melanjutkan perjalanan. Beberapa bekal kami tinggalkan untuk pendaki yang masih nge camp 1 malam lagi.

Selanjutnya, perjalanan menuruni Sabana 1 terasa ringan namun ekstra hati-hati karena sangat lah licin. Separuh waktu cukup untuk menuruni Sabana 1 dibanding saat menaikinya. Tiba di Pos 3 pun kami tak berlama dan memilih lanjut ke Pos 2. Di Pos 2 kami sempat beristirahat sejenak untuk sholat zuhur.

Jalan pulang ini terasa ingin segera kami sudahi bahkan Gaya memutuskan untuk lebih duluan di depan karena alasan panggilan alam. Jadinya setelah lepas Pos 2 kami tertinggal jauh dari Gaya. Mandor dan Ani pun tak kalah semangatnya, saya dan Ii di belakang mereka.

Walau kaki sudah mulai pegel tapi kami terus berjalan dan hanya sebentar saja beristirahat menuruni Pos 1. Butuh waktu 4 jam dari Sabana 2 hingga akhirnya kami tiba di basecamp Pak Parman. Sementara Nurhadi dan Kati tiba 1 jam kemudian setelah kami.

Seketika beban di pundak bisa kami turunkan dan kami memilih untuk bersantai dahulu satu malam. Pendaki lain rupanya memutuskan untuk pulang malam itu yang pada akhirnya tinggal kami saja di basecamp malam itu.

Malam hari kami manfaatkan untuk berbagi cerita selama di pendakian, tentang kelelahan, kedinginan, keindahan serta perkenalan dengan pendaki lain. Termasuk juga hal-hal yang sedikit berbau mistik dari cerita pendaki lain.

makan bareng di basecamp, enak…

Semalaman di basecamp kami memesan makanan ke ibu pemilik Basecamp yang murah meriah. Ada menu soto, nasi goreng, mie dan telur dadar. Kami pun membuat perencanaan kepulangan yang pada akhirnya disepakati untuk sama-sama main ke Jogja dahulu sebelum pulang ke tempat masing-masing.

*14 Agustus

Pagi hari kami bangun di perkampungan nan asri. Sinar mentari di sela-sela hutan jatuh ke pertanian warga. Perkampungan di kaki Gunung Merbabu ini tampak damai dengan kesahajaannya. Kami bersiap meninggalkan Selo, usai sarapan langsung bersiap pulang dengan terlebih dahulu membeli souvenir di kedai basecamp.

belanja-belanja…
sebelum ninggalin basecampp

Dengan menumpang mobil pick up kami kemudian berganti mobil elf di rumah saudara Mas Budi. Meninggalkan Selo kami melintasi perkampungan yang di siang hari tampak lebih leluasa memandangi keindahannya. Ntah kapan kan kembali lagi ke tempat indah ini dan kami harus benar-benar pulang. Harus rela untuk melanjutkan tujuan kami ke stasiun Solo Balapan dalam perjalanan sekitar 2 jam.

mobil satu ke mobil dua, transisi ganti mobil
bawaan nya seneng udah turun
tiga pejantan tanggung,,,,

Tiba di Stasiun Solo Balapan selanjutnya kami ke Jogya menumpang KRL seharga Rp 3 ribu. 1 jam perjalanan saja membuat kami tiba di Stasiun Lempuyangan. Tujuan kami selanjutnya adalah Asrama Isba Bangka di Jalan Ibu Ruswo sebagai tempat kami bermalam setelah sebelumnya saya hubungi pihak Isba.

Di sini kami diterima Yogi selaku Ketua ISBA Bangka di Jogja bersama teman-temannya, termasuk Sugeng yang juga hobi mendaki. Kami beristirahat sebentar hingga akhirnya mencari makan siang, dan sore hari saya sempat menemani Mandor ke jembatan Saidan menumpang becak. Senang sekali dia bisa berfoto di jembatan itu.

Malamnya, kami menuju alun-alun yang secara kebetulan dapat tumpangan gratis dari salah satu mahasiswa. Kami diantar menggunakan mobil ke alun untuk “Uji Nyali” melewati 2 pohon beringin. Hasilnya tidak ada yang berhasil termasuk saya yang dulunya pernah berhasil ikut gagal dan berjalan melenceng jauh malam itu.

odong-odong alun-alun
kalau wanita bersatu, odong-odong pun melaju

Setelah itu kaum srikandi bermain odong-odong dan kami kaum lelaki memilih bersantai di lesehan sambil ngopi.

ngopii alun2..
masih soal ngopi ceritanya

Puas bersantai di alun-alun kami menuju ke Malioboro menggunakan becak. Sayangnya malioboro sedang diperbaiki sehingga seputaran depan Benteng Vredebug yang biasanya nyaman sama sekali tak asik dinikmati. Karena sudah letih dan ngantuk juga, kami kemudian memutuskan untuk kembali ke asrama.

*15 Agustus

prambanan temple
ratu boko temple

Kami bersiap menuju ke Prambanan dengan menumpang grab car. Setelah mendapatkan mobil 2 unit kami menuju Prambanan yang hampir satu jam perjalanan. Di Prambanan kami mengambil paket Prambanan, Candi Ratu Boko tempat syuting AADC2 seharga Rp 75 ribu orang.

sok imut semua…

Puas berkeliling di Prambanan dan Ratu Boko kami bergegas pulang karena kereta ke Jakarta jadwalnya jam 14.30 WIB. Beberapa teman-teman sempat membeli oleh-oleh di seputaran Jalan Ibu Ruswo yang kemudian sebagiannya berangkat duluan ke Stasiun Lempuyangan. Terimakasih banyak untuk teman-teman Isba Bangka atas bantuannya, Yogi, Sugeng dan lainnya.

jogja..ngeleseh

Menuju ke stasiun kami nyaris telat karena Kati sama Nurhadi sedang berbelanja, beruntung walau sempat lari-larian saat di stasiun akhirnya kereta bisa kami naiki sebelum jalan. Sepanjang perjalanan posisi kami sudah bersama, hanya Ani yang pesan tiket gak sama-sama berbeda tempat duduk. Sedangkan Gaya langsung naik kereta jurusan ke Bandung.

akhirnya di kereta satu bangku

Perjalanan pulang cukup seru karena tempat duduk hanya kami saja untuk yang berhadapan sehingga keakraban kian intens. Malam hari sekitar jam 9 kereta tiba di Stasiun Jatinegara dan kami berpisah. Saya dan Mandor lanjut ke Sekretariat Backpaker Jakarta (BPJ), Ii ke tempat kakaknya, Ani, Nurhadi dan Widia ke tempatnya masing-masing.

Setelah menumpang grab car, saya dan Mandor berhasil menuju sekretariat BPJ di Cawang-UKI. Saya dan Mandor disambut Bang Arif cs dari BPJ dan akhirnya kami bermalam di sekretariat BPJ.

*16 Agustus Bersantai di sekretariat BPJ, bertukar pikir mengenai komunitas. Dan saya berterimakasih karena telah dikenalkan Ketua Gapabel, Pifin alias Tilenk ke Bang Wija BPJ hingga akhirnya bisa mampir ke sekretariat mereka dan mendapat pengetahuan banyak hal.

ngopi bareng bang wija BPJ

Sore hari akhirnya bertemu dengan Bang Wija yang kami kemudian ngopi dan berbicara banyak hal hingga malam. Bang Wija pun menyampaikan ketertarikannya untuk membawa temen-temen BPJ ke Bangka untuk pertama kali dalam rangka mendukung pariwisata Bangka yang kami gaungkan di sepanjang ekspedisi Merbabu.

*17 Agustus

Saya sudah ada planning ke Cibubur untuk melihat kegiatan akbar Pramuka Penegak dan Pandega, Raimuna Nasional. Maklum sebelum suka mendaki saya habiskan waktu banyak di Pramuka walau sekarang sudah sangat minim sekali nimbrung di Pramuka. Menumpang metromini ke Cibubur akhirnya saya ditemani Mandor tiba di Buperta Cibubur dan langsung masuk ke arena Raimuna.

Tidak ada hal yang membuat saya bertahan lama. Setelah menyambangi stand Kwarda Babel akhirnya saya dan Mandor pulang untuk menuju rumah Nurhadi. Ketika singgah ke Cibubur Junction ada beberapa temen Pramuka bertanya keberadaan saya namun saya memutuskan tak lagi ke Buper.

Saya kemudian melanjutkan jalan dengan Mandor ke rumah Nurhadi dengan satu kali angkot. Tak disangka akhirnya bisa melihat daerah tempat tinggal Nurhadi. Saat itu ada juga Kati yang sedang datang. Jadinya kami melihat acara 17 san yang mana Nurhadi jadi Ketua Panitia sekaligus melihat Nurhadi sedang ikut lomba panjat pinang.

Nurhadi lagi usaha manjat pinang

Seru-seruan sore itu jadi pertemuan terakhir kami dengan Nurhadi dan Kati. Walau tak lama tapi terasa kalau kami punya tambahan teman dalam hidup ini. Lalu, karena saya ada reuni lagi dengan temen-temen purna Dewan Kerja Nasional dan Dewan Kerja Daerah 2003-2008 akhirnya kami pamitan ke Kati dan Nurhadi.

Saya dan Mandor pun pisah arah. Mandor langsung balik ke sekretariat BPJ, saya menuju Madu Pramuka di Buperta. Dan….selanjutnya saya mengikuti reuni dengan temen-temen Pramuka se Indonesia di Hotel Ciputra Cibubur, malamnya balik lagi sekretariat BPJ dan langsung menuju tempat kakak saya di Cengkareng.

*18 Januari

Di Cengkareng tempat kakak saya hanya istirahat saja. Baru sore saya dan Mandor menuju ke Kota Tua. Yup, saya sudah ada janji dengan temen-temen pendakian Kerinci tahun lalu, Feby dan Akunk. Sebenarnya satu lagi, Bang Cen tapi dia tidak bisa meninggalkan kerjaannya. Menumpang Grab Car saya dan Mandor ke Kota Tua yang tidak lama kemudian tiba Akunk dan Feby. Pertama kalinya kami bertemu usai pendakian. Saling berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing mewarnai pertemuan kami hingga akhirnya malam memisahkan.

reunian personil ekspedisi kerinci 2016 di Kota Tua
Komitmen persahabatan

Akunk kembali beraktivitas dalam pekerjaannya, saya dan Mandor ditemani Feby pulang sampai Grogol. Pertemuan malam itu mengakhiri perjalanan saya yang kemudian keesokan harinya kami sudah kembali lagi ke Bangka bersama Ii yang akan menyusul di Bandara Soekarno Hatta.

*Maaf ya kalau tulisan ini gak menarik, mungkin kehilangan ruhnya karena terlalu lama baru dibuat, dan belum pandai menulis. Semoga masih ada manfaatnya bagi yang baca.

Catatan :
-Contact Person Basecamp Parman untuk antar jemput stasiun, bandara, terminal ke basecamp :
Mas Budi : 0852 2846 4669
-Basecamp Gratis tidak dipungut biaya, tetapi sumbangan sukarela untuk kebersihan. Ada kotak sumbangan dekat kamar mandi
-Bisa pesen makanan untuk pendakian, makan selama di basecamp.
-Peralatan pendakian tersedia toko basecamp seperti matras, senter, buff, logistik (mie, snack, gas), dll
-Terdapat sewa wifi di basecamp.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *