"Jumat Menulis", untuk Lahirkan Penulis Cilik

Fithrorozi bersama Buku Rintisannya yang berisi karya penulis cilik
Fithrorozi bersama Buku Rintisannya yang berisi karya penulis cilik

“Tulisan bukanlah tugas yang dituangkan di atas kertas. Tulisan adalah ekspresi dari apa yang dialami anak-anak dalam keseharian. Perlu kebersamaan untuk membuat tulisan menjadi menarik untuk dibaca. (Fithrorozi, penulis, pelaku seni dan budaya Belitong).

“Jumat Menulis”, untuk Lahirkan Penulis Cilik

KEPEDULIAN menumbuhkan jiwa menulis pada anak-anak sejak dini memang tidak mudah. Karena di era modern seperti sekarang, anak-anak khususnya yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) lebih cenderung tertarik bermain dengan alat-alat canggih seperti playstation, game online dan sebagainya. Padahal menulis terlebih menulis dengan tangan banyak hal yang didapatkan, tidak sekedar belajar menulis indah untuk merangkai kata yang baik menjadi sebuah kalimat maupun paragraph.

Tetapi, menulis adalah sebuah proses melatih ingatan/merekam setiap hal yang sudah terjadi, sedang terjadi ataupun akan terjadi. Terlepas itu bersifat faktual maupun imajinasi. Menumbuhkan jiwa penulis-penulis sejak dini itulah yang sedang dirintis, Fihtrorozi salah satu penulis Belitong sekaligus pegiat seni dan budaya di sela-sela kesehariannya yang saat ini tercatat sebagai PNS dan memangku jabatan sebagai Sekretaris Kecamatan Tanjungpandan.

Fihtrorozi saat ini sedang memacu anak-anak SD di Tanjungpandan untuk menulis apapun yang menjadi cerita kehidupannya. Tidak mudah memang, tapi ternyata ada banyak cerita fantastis telah terkumpul dari anak-anak SD walau baru saja kegiatan ini dilaunching. Program menulis dengan sebutan “Jumat Menulis” ini sedikitnya telah ada 205 karya anak-anak berhasil dirangkum.

Tulisan tangan anak SD tersebut kemudian ia salin menjadi ketikan sekaligus diedit untuk selanjutnya akan ia rencanakan diterbit dalam sebuah buku yang memuat kumpulan kisah anak-anak Belitong. Seperti Jumat (9/5) kemarin, Fihtrorozi baru saja mengambil kumpulan tulisan dari penulis-penulis cilik, murid SDN 37 Tanjungpandan.

“Tulisan bukanlah tugas yang dituangkan di atas kertas. Tulisan adalah ekspresi dari apa yang dialami anak-anak dalam keseharian. Perlu kebersamaan untuk membuat tulisan menjadi menarik untuk dibaca. Karenanya peran bersama wali murid, masyarakat, pendidik dalam menciptakaan tradisi menulis menjadi sangat penting,” ungkap Fihtrorozi ditemui di Tanjungpandan dalam sela-sela kesibukan kerjanya.

Pria yang juga tergabung dalam Komunitas Telinsong Budaya, komunitas musikal tutur Belitung dan Republik Ngejungak Kelekak Belitong merangkum tulisan anak SD dalam rangka menjalankan program komunitas “Jum’at Menulis”. Kepada setiap anak akan diberikan royalti walau tak terlalu besar dari kocek pribadinya, sebagai motivasi anak-anak untuk menulis. Ini juga sebagaimana yang diterima oleh penulis-penulis pada umumnya.

“Dengan demikian diharapkan, anak-anak merasa dihargai hak intelektual mereka,” ujar Fihtrorozi yang memiliki mimpi sekian tahun mendatang akan banyak lahir penulis-penulis hebat dari Belitung.

Hingga tiga minggu Program Jumat Menulis berjalan, terkumpul 205 tulisan anak-anak SD yang ia tulis kembali agar enak dibaca. Semakin tinggi kelas, ternyata semakin banyak yang ditulis, dari hanya 5 baris hingga lebih dari 500 baris.

“Mereka belum piawai menempatkan tanda baca tetapi dialog yang mereka tulis menunjukkan mereka telah berupaya menyajikan tulisan,” cerita Fihtrorozi.

Meski hanya sedikit kata dan baris, kejujuran terungkap kisah keseharian penulis-penulis cilik tersebut. Fihtrorozi mengelompokkan tulisan ke dalam 19 tema. Porsi tertinggi penulis cilik dalam karyanya berbicara tentang pantai. Porsi kedua tentang candaan, cara mereka membuat permainan. Porsi ketiga tentang kasih sayang, alam, sepeda dan soal air yang mengalir.

Porsi keempat, penulis cilik bicara soal gerak, bintang. Porsi Kelima, tentang perilaku manusia, mencuri buah-buahan, dan wisata. Porsi keenam, mengungkapkan keusilan mereka dengan orang gila, binatang dan trend permainan modern saat ini. Dan Porsi paling sedikit tentang dunia khayal, dunia ghaib dan belajar di sekolah.

“Keberagamaan tema yang mereka tulis cukup menarik. Mungkin bisa jadi cermin orang dewasa melihat perkembangan anak-anak. Setidaknya 205 judul tulisan ini mereka ungkapan dengan bahasa yang lugas dan jujur,” tandas Fihtrorozi yang telah menerbitkan berbagai buku, diantaranya berjudul Meruang Masa.

Menutup perbincangan, rencana penerbitan buku Kisah Anak Belitong yang ditulis dari 100 lebih penulis cilik ini akan diwujudkannya walau diakui tidak mudah. Fihtrorozi berangan, kisah anak-anak Belitong ini akan menjadi inspirasi dan motivasi bagi semua kalangan dalam membudayakan tradisi menulis sejak dini.

“Kecil-kecil sudah punya karya dan sepatutnya juga sudah punya hak intelektual yang layak diapresiasi,” tutup Fithrorozi. (*)

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *