Soal Hidup

Menasbihkan bintang indah di langit tinggi
Menatap cahyanya yang berkerling terang
Nostalgia tanpa perlu bersua

Telinga mendengar nyanyian semesta
Yang nadanya mengetar hingga masuk ke aliran darah
Tak perlu mudah untuk menerka atau diterka
Sebab hidup tidak selalu pada kepastian
Kemungkinan selalu datang dalam banyak rupa

Jejak berpijak pada tanah basah
Lalu tersapu hujan lebat di tengah tanah lapang
Selalu ada genangan yang kemudian mengering
Laksana hidup dalam bingkai pahit dan kenikmatan.

Sabtu, 13052017, 08.52 WIB.

Untaian Ilusi Cinta

Untaian ilusi cinta
Memacu kasih memadu rasa
Dalam dekap peluk
Merasakan denyut nadi

Diambang cinta berujung bias
Pada tatapan mesra sang penasbih hati
Merajut kisah lamban menepi
Riak tak lagi sepi
Di ujung rasa teruntai kasih

Soal Kehilangan Dan Dirimu

Ini tentang cinta yang telah pergi
Dalam ikatan semu menyisahkan rindu
Kalau ada rasa yang tak terbendung
Maka sebuah kesedihan di ambang jurang terdalam
Sampai kemudian sebuah gerbang Nirwana membuka lebar

Hati kemudian berjalan menapaki
Kisah yang menjadi takdir di ujung kepahitan
Rasa terus berjalan walau realita kian saling meninggalkan
Peduli apa tak akan ada yang pernah bisa memahami
Sama seperti soal pertanyaan mengapa matahari terus berpijar walau bumi diselimuti malam ataupun hujan

Pucuk pucuk cinta mengalun Indah
Dalam dekapan sunyi usai rasa tak ber Tuan, juga bukan milik Puan

Kadang hidup soal mengadu peruntungan
Dalam perjalanan yang tak kita bisa tebak kemana arah kaki kan melangkah
Tak jarang harus memutar arah atau merubah belokan ketika di persimpangan

Namun tetap akan ada perhentian yang mengarahkan kita pada sejuta tujuan
Imaji kian larut dalam keriuhan gaduh yang tak ternilai
Menjadi makna, namun akan ada sesuatu yang menuntunmu pada keputusan

Tanpa perlu memikirkan hasil akhir lalu kemudian batasmu takkan bisa terhalangi untuk sebuah mahakarya
Hidup yang penting bagi dirimu dan butuh kepedulian atas dirimu sendiri

Mentari yang Dirindukan

Tentang mimpi mentari semalam
Yang hangatnya pelukan sinar masih terasa
Membebaskan segenap jiwa raga dari beku

Rasanya enggan lepas dari belaian cahaya senja
Seperti tak ingin terbangun saat mimpi perjumpaan itu
Karena rasanya itu adalah sebuah siang hari yang lama dinanti usai malam berkepanjangan

Cahaya jatuh teduh ke wajah laksana tatapan seorang ibu yang menenangkan
Menuntun waktu dari fajar hingga petang
Melanjutkan denyut nadi kehidupan yang nyaris mati rasa

Ternyata perjumpaan itu masih tergiang di kala terjaga
Pada siang yang menghempaskan malam
Saat terjaga menyelesaikan tidur dalam perjumpaan
Dan rasanya mentari itu patut dirindukan
Walau sebatas mimpi

 

 

Tentang Engkau

Engkau bahkan tak peduli sepi itu hinggap

Kendati jadi gelap dan tak bisa melihat sekeliling

Karena hatimu terus menuntun jalan bersama insting
Menapaki sisa hidup dalam hentakan tapak kaki
Ujung senja kan menyisahkan hangatnya
Pertanda dunia belum kiamat
Mesti dunia berfikir engkau bodoh
Namun yakinmu tak Gentar atas cemoohan itu
Ada satu kekuatan yang membuat kakimu tetap melangkah mesti berdarah
Dan tetap mendengar rerintihan jelata akibat tirani itu
Atau terus memberi petuah tenang walau engkau getir
Lalu sejenak mata kian terbuka walau telah buta
Ada kala semua mata hati akan melihat engkau‎
Dalam kegigihan menapaki malam
Yang engkau yakini esok adalah terang dari cahaya mentari
ILusi Mentari,
Kamis, 16-2-2017, 22.40 WIB‎

Listening to Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih) by Banda Neira

Banda Neira Sampai Jadi Debu

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

Listening to Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih) by Banda Neira

Preview it on Path

Perihal Sesuatu

img_20150211_175122
Seperti mencoba membiarkan sesuatu pergi sesaat
Pada batas waktu selama mentari terbenam hingga terbit lagi
Setelah dijalani bumi terasa melambat
Langkah kaki gontai kian merayu untuk berhenti
Apa artinya itu, sungguh pasti jelas
Sebuah pertanda pada singsasana senja
Yang dirindukan ujung langit dari pelupuk mata
Bertepi menorehkan merah di garis datar membiru
Tenggelam dalam pekat petang
Ke dalam dasar samudra palung terdalam
Bercampur asin mengkerdilkan buih terapung
meredam gemuruh badai dalam riak gelombang
Satu momen kemudian kembali hadir cahaya
Di ufuk timur turun ke tanah bersama embun
Memberi nafas hidup hijau dedaunan muda
Memekarkan kuncup-kuncup menjadi bunga
Decak kagum mengalun syahdu
Pertanda rindu tak lagi merayu
Walau esok mungkin kembali semu
Hingga waktu yang tak memberi makna tentu
Lalu ada mata pada hati terpendam
Melihat darah mengalir memompa jantung
Ada genggam enggan terlepas
Pertanda tautan ingin terus bersanding
Jumat, 5-1-2017

Sajak tentang Hujan, Hujan Merindu-Hujan Kembali Merindu

hujanHUJAN MERINDU

Hujan,..

Aku kembali merasakan rindu yang mendalam
Pada setiap tetes yang lebat kau hujamkan ke bumi
Rindu itu kian terasa menelusuk relung hati

Hujan…

Ada rindu di tiap rintiknya
Yang satu persatu menetes jatuh ke tanah
Hujan…
Adalah bahasa rindu alam semesta
Tentang isyarat langit ingin mecumbui tanah
Namun langit sadar tak mungkin menggapainya
Lalu ia sampaikan rindu lewat rinai hujan
Lalu suatu ketika dingin merasuki hati
Mengaliri aliran darah dan ikut berdetak pada jantung
Rindu pun menasbihkan dalam helaan nafas
Sejenak aku termangu seraya meresapi gemericiknya hujan
Yang mengalun pelan ke telinga
Dalam dingin gelap tak bermentari
Ada matamu bertahta di benakku
Bersemayam tersenyum seperti kuingat kalah kita bertemu sebelum berpisah
Dimana takjub kurasakan kala itu
Sampa kemudian, rinai hujan terus membanjiri tanah
Menggenangi kerinduan hati untukmu
Yang selalu tak bosan kuinginkan
Untuk kembali merajut rasa canda dan tawa
Dalam rinai hujan yang merindu
 ————————————————————————–
HUJAN KEMBALI MERINDU
Hujan,..
Derai rinaimu tak lagi sekedar membasahi tanah yang kering
Tapi tlah meresap ke pori-pori dan lapisan tanah
Sama halnya seperti rinduku padanya
Yang kian merasuk aliran darah dan segenap jiwa
Hujan kini rindu kian menjadi
Di sudut bangku pada sebuah meja
Sendiri kadang menyergapi damba
Akan hadirnya hati seseorang yang terus dinanti
Tapi hujan…aku lihat hari ini kau terus turun
Tanpa menyisahkan mentari bercahaya
Bahkan tak mungkin menghadirkan pelangi usai kau turun
Hujan yang merindu,..
Mungkin rindu itu kian membeku
Bersama dingin yang kau curahkan dari banyaknya tetes airmu
Kan kujaga rindu itu dalam setiap hadirmu
Sampai kau merasa cukup membahasi tanah dan rerumputan, yang sebenarnya itu persuaan
Aku yakin hadirmu pasti kan dirindukan,
Seperti kemarau pada tanah gersang atau sungai yang mengering
Sama seperti pelangi yang kan hadir usai kau pergi
Untuk bersanding di cakrwala langit biru bersama awan putih.
Rabu, 28 Desember 2016

Untuk Mentari yang Enggan Mengeringkan Embun

IMG_20161126_153531.jpgDingin menyeruak di antara malam menuju pagi. Dalam derai tetesan embun terbawa kabut atau embun yang terjatuh dari dedaunan, dingin.

Desiran angin membawa hujan bersama air yang semakin membekukan pagi.
Rasanya enggan beranjak dari segala kehangatan dan tetap berlindung di dalamnya
Ibarat sebuah hati yang membeku pada seorang yang terjebak masa lalu.
Melangkah kedepan telah menjadi nyata tapi jiwa tertinggal pada zaman yang telah usai
Lalu dingin kian memasuki pori-pori, mengaliri aliran darah dan meresap ke tulang.
Ini prihal sebuah rasa yang tak tergantikan di hati, tentang seseorang yang memberi kesan lalu pergi.
Alam terlalu jujur membuat isi hati terutarakan, di antara liukan pohon-pohon perdu kecil, awan-awan yang bergelantungan atau kabut berterbangan.
Makna terbias mungkin kan tersaji antara nada dan ekpresi jiwa atau lewat lantunan-lantunan lagu bersama petikan gitar, mengalun syahdu.
Ada seseorang yang tak peduli pada nasib hatimu, rasanya melebih beberapa orang yang banyak tak peduli karena mengotori alam mu.‎
Di Puncakmu Palas-Maras, kepadamu pagi kan memohon disinggahi dingin, untuk memercikkan air-air bening kehidupan dari serpihan hidup.
Dan kali ini tertuju kepada Mentari yang enggan mengeringkan embun, hingga pagi ini begitu dingin. Mentari mungkin tetap ada, ia masih bersembunyi pagi ini. Mungkin mentari dalam ketidakpeduliannya atau lupa kalau hari tak lagi malam, sementara seorang penjelajah ketulusan sedang menanti cahayanya.
Maras, 27 November 2016
ILusi Mentari

Aku dan Kamu yang Kian Menjauh

Aku adalah detik-detik yang membiarkanmu tetap direlung hati. Menggapai hari dalam kepergianmu yang terus menyisahkan penantian.

Lalu sesekali kaki ini berjalan, mengajak mata menerawang senja yang memerah. Yang sebenarnya aku harap engkau tiba-tiba menghampiri dan berada disampingku menikmati senja itu.

Peluh ku bercucuran kala pikir ku terkuras mencari cara engkau kembali. Engkau pergi ketika aku tlah terlanjur menyerahkan hati ini sepenuhnya padamu. Walau dahulunya engkau yang berharap aku disisimu dan tak kau perkenankan pergi.

Sesekali jiwa berontak atas perlakuanmu, seperti kuda yang tak rela dipelecut terus dengan cambuk. Namun semuanya kembali menjadi daya yang tak mengubah keadaan, dan hanya menjadi penantian panjang.

Mungkin raga masih ada di sini yang terjangkau dalam ukuran jarak dan tak butuh lama untuk kau cari. Tapi sungguh jiwa ku telah terasa jauh ketika engkau terasa terus berlalu pergi tanpa lagi melihatku di sini.

ILusi Mentari, Senin 21 November 2016.

*Titipan temen