Kami, Dalam Perjalanan Kerinci dan Danau 7

Tugu Macan Kersik Tuo Kerinci
Tugu Macan Kersik Tuo Kerinci

Ini cerita kegilaan saya bersama temen-temen yang sebelumnya kita ga kenal satu sama lain. Perjalanan ini ditulis saat kami mengadakan pendakian ke Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi.

Latar belakang kami hanya terdiri dari para pencinta gunung saja, saya bersama Feby dan Akhunk dari Jakarta serta Cen dari Gunung Tujuh-Kerinci. Rencana kami bermula ketika ide saya mencari teman untuk berbagi biaya (share cost) ke Kerinci. Saya posting ke web bpi di www.backpackerindonesia.com dan web saya yang sekarang ini. Tanggal 29 Juli-2 Agustus merupakan waktu perjalanan dengan misi utama menggapai atap Sumatera, Gunung Kerinci 3.805 Mdpl yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Satu bulan sebelumnya saya sudah posting dan beberapa orang bertanya dan menyatakan ingin bergabung. Target saya awalnya 6 orang lalu diciutkan menjadi 5 orang untuk menyesuaikan kapasitas mobil carteran. Sempat ada 8 orang yang minat joint hingga dengan berbagai alasan seperti tak dapat cuti, wisuda diundur dan sebagainya pada akhirnya tinggallah 3 orang. Walaupun beberapa diantara yang batal joint sudah sempat beli tiket pesawat ke Padang.

Tidak mudah membuat kepercayaan kepada teman-teman yang mau ikut joint, apalagi kami belum saling kenal. Bahkan Feby sempat berniat keluar hari rencana perjalanan yang saya tawarkan. Yup, mungkin faktor grup non profit yang tidak bisa fix langsung diawal. Namun Feby kemudian memilih tetap bertahan sama dengan Akhunk.

Jadilah kami bertiga berangkat ke Padang. Sedangkan Cen yang merupakan kenalan Feby adalah warga Gunung Tujuh Kerinci dan bersiap menyambut kedatangan kami di basecampnya. Setelah berbagi perlengkapan pendakian seperti nesting, kompor, tenda serta saling mengingatkan untuk perlengkapan pribadi, selanjutnya kami bertemu di Bandara Minangkabau Padang-Sumbar.

*Jumat, 29 Juli 2016

Saya sendirian dari Bangka dengan penerbangan ke Padang transit di Batam, sedangkan Feby dan Akhunk satu penerbangan dan tiba lebih duluan. Tidak terlalu mengalami delay pesawat kami, hanya lewat 30 menit dari waktu yang kami prediksi dan sekitar pukul 11.00 WIB pada 29 Juli 2016 kami bertemu di Bandara Minangkabau Padang.

Feby dan Akhunk menunggu saya di depan kedatangan bandara, yang kemudian untuk pertama kalinya kami ber 3 berjumpa. Setelah menghubungi Bang Nek (Travel SKW) kami menunggu sekitar 30 menit untuk selanjutnya menumpang mobil minibus Xenia yang dikemudikan bang David. Perjalanan kami praktis langsung keluar meninggalkan bandara dan menyempatkan makan siang di salah satu rumah makan Padang, masih di Kota Padang. Menu khas warung padang dengan harga relatif standar, masih kisaran belasan ribu untuk porsi seperti nasi+rendang.

Sebenarnya setelah memasuki jalanan berkelok menanjak saya mulai mengalami gejala kurang nyaman, tiba-tiba mual. Namun masih bertahan hingga 2 jam lebih perjalanan, walau sempet saya berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat pemandangan hijau dari jendela mobil, menghirup udara segar tetap saja mual. Bang David menyetir dengan gaya cool bersama lagu mellownya sesekali ia ikut bersenandung. Ia hanya bicara seperlunya sesuai yang kami tanyakan.

Menuju Kerinci bersama bang David
Menuju Kerinci bersama Bang David

Feby sama Akhunk terlihat tertidur pulas hingga kemudian terbangun saat memasuki Kabupaten Solok. Pemandangan yang semakin menarik untuk dipandang membuat Feby tak henti-hentinya ingin memfoto dari jendela mobil. Saya kebagian memfoto dengan ponselnya karena pas berada di kanan jendela sesuai posisi pemandangan yang menarik dibidik kamera.

Danau Bawah di Kabupaten Solok
Danau Bawah di Kabupaten Solok

Danau Bawah kata penduduk setempat yang kami lalui saat satu jam memasuki Solok, sebuah danau luas diantara perbukitan, dan menyambung dengan Danau Atas. Penduduk setempat ada yang bilang kedua danau itu dikenal Danau Kembar karena posisinya berdekatan dan hampir sama. Beberapa objek danau dari penglihatan kami tampak ditumbuhi sejenis pinus, cemara serta semacam savana. Tentunya nuansa alami terasa dan menjadi menarik untuk diabadikan.

Setelah itu saya akhirnya tidak bisa bertahan dengan mualnya perut. Masuk angin membuat apa yang ada diperut termuntahkan, walau sudah pakai plaster di pusar serta minyak kayu putih tak terhitung beberapa kali saya muntah, pastinya lebih dari 10 plastik yang tersedia di depan kursi saya habis terpakai.
Walau kemudian sempat berhenti di sebuah warung dan memesan teh pahit hangat namun saat melanjutkan perjalanan tetap saja muntah. Ternyata efek kurang tidur malam sebelumnya ditambah tidak sarapan dan kecapean membuat angin berontak.

Perjalanan yang diselingi hujan tidak menghentikan mual saya, walau sempat tertahan tetapi dalam waktu tertentu kembali muntah. Perjalanan pun masih panjang hingga habis Kabupaten Solok kami menelusuri Kabupaten Solok Selatan. Kabupaten Solok Selatan tidak jauh berbeda dengan jalanan sebelumnya. Rumah-rumah dengan arsitektur khas atap Minangkabau menjadi pembeda daerah urang awak ini.

Jalanan pun masih sempit sehingga tidak bebas untuk kendaraan melaju kencang. Suasana muslim sangat kental yang terlihat dari hilir mudik pelajar berhijab maupun berkopiah, memang demikianlah Sumbar dengan mayoritas penduduk muslim. Beberapa kali kami bertanya apakah masih lama, ketika waktu menunjukkan jam 4 sore. Bang David sama 1 penumpang bilang masih satu jam lagi.

Hingga kemudian jalanan semakin sempit dan sepi dengan hutan yang lebih padat. Kami mulai meninggalkan Solok Selatan dan masuk ke Kabupaten Kerinci. Masih saja saya sempat mengeluarkan muntah walau tidak pusing ataupun lemas. Hingga kemudian sekitar jam 5 sore bang David menanyakan kami turun dimana.

Untuk memastikan tujuan, Feby menelpon Cen yang kemudian ponsel diberikan ke Bang David. Terdengar pembicaraan khas Kerinci yang tidak kami pahami, namun sepertinya Bang David mengerti posisi basecampnya Cen. Usai menelpon, Bang David bilang tidak jauh lagi, sekitar 15 menit, bukan di Kersik Tuo tapi di Simpang Pelompek, Gunung Tujuh.

Alhamdulillah, rasanya sedikit lega mengurangi PHP yang sebelumnya kami alami, hehe…..Walau demikian jalan masih terus berkelok dan saya masih saja sempet mengeluarkan isi perut yang benar-benar terkuras habis. Hingga kemudian mobil akhirnya memasuki jalanan dengan lebih banyak perumahan penduduk dan mobil kami mulai melaju pelan.

Dari kejauhan terlihat seseorang berdiri seperti menunggu, sementara kami pun melihat-lihat tempat yang akan dituju. Sempat terlewat sedikit lalu Feby berteriak, “Itu orangnya”. Yup, Cen yang ia maksud, dan orang yang diyakini Cen pun mengisyaratkan itu dirinya ketika kami sapa. Akhirnya kami tiba sekitar jam setengah 6 sore itu di Indrapura Basecamp namanya.

Mobil berhenti dan kami mengeluarkan barang bawaan untuk dimasukkan ke basecamp, setelah berterimakasih dengan Bang David rasanya bebas penderitaan saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membuang hasil karya dari masuk angin ke tempat sampah belakang basecamp (maaf bang Cen y, hehe). Seketika rasanya terbebas dari mual itu.

Saya benar-benar menikmati berada di basecamp Cen Dkk. Mereka ramah, baik, tempatnya lumayan, pas lah buat backpackeran atau travelan seperti kami. Kondisi basecampnya cukup luas terdiri dari beberapa ruangan. Ada 4 ruangan bisa untuk tidur, satu ruang untuk parkir kendaraan, dapur, dua kamar mandi.

Beruntungnya disiapkan air hangat buat perut saya yang hancur dihajar angin. Demikian juga makan malam sudah disiapkan oleh Cen cs. Rasanya spesial sekali, mana kebetulan basecamp sedang kosong cuma ada kami yang datang. Kondisi basecamp malam itu ada sekitar 8 orang temen-temennya Cen. Cen kami lihat merupakan pimpinan di komunitas Indrapura, sekaligus juga belakangan kami ketahui rumah sebagai basecamp tersebut milik keluarganya.

Malamnya setelah makan kami sempat berbagi cerita, saling mengenalkan, saling bertanya dan tukar informasi. Tidak butuh waktu lama untuk kami akrab, rasanya cair begitu saja seperti teman lama yang kembali berjumpa. Perencanaan pendakian pun kami diskusikan untuk esok hari, dan tidak terlalu berbeda dengan prediksi kami untuk fase-fase pendakian.

Malam itu Feby sesuai janjinya akan membuat Puding Cokelat, jadinya dia bersama beberapa temen di basecamp lebih banyak di dapur. Kami bersepakat untuk esok keluar dari basecamp jam setengah 8 pagi. Tidak terlalu lama menunggu malam kami kemudian tidur dalam dinginnya Basecamp Indrapura Simpang Pelompek Danau Gunung Tujuh di ketinggian lebih dari 1.500 Mdpl. Alasan untuk ‘ngecas’ tubuh setelah muntah seharian, saya tidur duluan. Hehe…

*Sabtu, 30 Juli 2016

Pagi-pagi kami sudah bangun melakukan persiapan, mandi, sarapan, packing ulang. Yah namanya janji untuk cepat ada-ada saja ga tepatnya (kurang disiplin ya, hihi). Jadinya setelah dengan segala macam keperluan mulai dari untuk tim sampe pribadi kami baru bisa meluncur jam 8 nan dari basecamp. Setengah jam lebih lewatnya dari rencana semula.

Kami kemudian menumpang mobil Kijang Minibus yang rupanya milik keluarga Cen. Turut serta juga bapak bang Cen mengantar kami. Perjalanan meninggalkan basecamp melintasi persimpangan Pelompek lalu menuju ke arah kanan. Belum terbayang akan kemana, yang pasti dalam benak kami menuju titik awal pendakian Kerinci.

Simpang Pelompek didominasi toko-toko, kalau saya prediksi beberapa tahun mendatang akan benar-benar menjadi pusat bisnis seperti kawasan pasar. Sementara kata Bang Cen pasar di daerah itu hanya satu minggu sekali, setiap hari Senin. Toko-toko pertanian cukup banyak sesuai kondisi daerah dengan dominasi bidang pertanian.

Akses jalan belum lah terlalu bagus hanya berupa pengerasan dengan batu bercampur pasir. Itu pun sedang dalam pengerjaan sehingga cukup berdebu. Sekitar 25 menit kami tiba di Kersik Tuo, yang diwarnai pemandangan perkebunan teh milik PTPN.

Nah kerinci menggoda banget
Nah kerinci menggoda banget

Kami singgah disebuah warung untuk membeli lauk makan siang, sedangkan nasi kami bawa dari basecamp. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan berfoto di Tugu Macan, kawasan yang disebut juga Simpang Macan. Terdapat patung macan di pagar dengan latar belakang hamparan teh menghijau dan gagahnya gunung Kerinci.

Tugu Macan Kersik Tuo
Tugu Macan Kersik Tuo

Kami juga mengabadikan diri dibawa baleho bertuliskan selamat datang ke Gunung Kerinci. Sekitar 10 menit kami kemudian jalan lagi dan berhenti di R10 yang jaraknya dekat.

Simpang Tugu Macan, Selamat Datang di TNKS
Simpang Tugu Macan, Selamat Datang di TNKS
Ah kerinci bikin deg gan.nyampe ga yah.
Ah kerinci bikin deg gan.nyampe ga yah.

Cen turun dan saya pun ikut turun. Tampak ada seorang petugas yang sudah saling kenal antara Cen dengannya. Saya cuma mendengar-dengar saja percakapan mereka dalam dialek Kerinci, tanpa paham artinya. Hanya kemudian sempat tersirat ada pendaki tanpa melapor yang kemudian ketahuan dan dikejar oleh petugas TNKS.Setelah memfoto beberapa sudut R10 sebagai tempat pendaftaran kemudian saya membayar biaya pendakian Rp 30 ribu untuk 3 orang, 2 hari 1 malam.

R10 Posko pendaftaran
R10 Posko pendaftaran

Kami kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 10 menit menuju tempat yang dinamakan Pondok Bambu. Batas akhir kendaraan mobil cukup maksimal di sini, mirip sebagai tempat transit petani untuk mengantarkan hasil taninya sebelum diangkut dengan kendaraan. 2 pendaki asal Pariaman juga telah tiba dan berencana naik. Kami kemudian bersiap menyandang carrier, lalu kemudian berdoa sebelum berangkat. Yupp, akhirnya pendakian benar-benar dimulai jam 9.30.

Pondok Bambu-Gerbang Rimba hanya sekitar 10 menit, dengan jalanan berbatu, demikian juga Gerbang Rimba ke Pintu Rimba cuma 10 menit namun jalanan mulai mengecil. Rugi lah kalau tidak mengabadikan moment di tempat ini, mumpung juga dandanan masih kece, fisik masih fresh, semangat juga sedang on fire, heheee.

Pintu Rimba
Pintu Rimba
Pintu Rimba
Pintu Rimba
Gerbang Rimba
Gerbang Rimba

Nah mulai dari pintu rimba, Kerinci uda nunjukin banget treknya yang basah, hutan lebat. Jadinya trek kebanyakan becek berair yang katanya walau kemarau sekali pun sulit untuk kering karena lebatnya hutan dan sinar matahari ga maksimal sampe ke jalanan trek. Hutannya masih asri banget, terlihat beberapa hewan masih ada seperti ayam hutan, lutung, maupun suara kicauan berbagai jenis burung.

Basah banget kan treknya
Basah banget kan treknya

Namun trek relatif belum menanjak lah, yang kemudian dari Pintu Rimba menuju Pos 1 bisa kami tempuh 30 menit. Lanjut dari Pos 1 ke Pos 2 masih terkendali medannya walau mulai menanjak dan diwarnai pohon tumbang.

Basah banget kan treknya
Basah banget kan treknya

30 menit kami kemudian tiba di Pos 2, terdapat sebuah beton untuk istirahat dan sebuah pondok. Di pos ini kami sempat bertemu dengan pendaki lokal yang kompak. Terlihat dari sepatuny,  hehehe…. tapi fisik mereka bagus.

Kompak kan sepatu mereka
Kompak kan sepatu mereka
Sampah selalu jadi masalah
Sampah selalu jadi masalah

Perjalanan kemudian kami lanjutkan ke Pos 3 yang mulai semakin terasa medannya. Trek licin, becek, berakar, pohon tumbang semakin banyak.

pos 1
pos 1

Dalam perjalanan saya sempat berhenti di sebuah pohon berlubang, yang selintas saya pikir pohon ini cukup memberi keteduhan kalau hujan, saking besar dan berlobangnya. Namun jangan-jangan dulunya tempat sarang macan. Baru saja berhenti di depan pohon itu, Cen malah suruh jalan cepat, katanya istirahat di depan saja. Saya menuruti saja walau sempat terpikir ada sesuatu kayaknya yang membuat Cen suruh cepat.

Kami kemudian tiba di Pos 3 dalam waktu 45 menit kemudian. Lanjut dari Pos 3 ke shelter 1 lumayan menguras tenaga dan kami mulai mengatur kapan berjalan, kapan berhenti. Jarak kami sedikit terpisah walau tidak jauh. Beberapa pendaki yang naik mulai kami temui, demikian juga pendaki yang turun. Hujan pun sempat turun sehingga kami harus mengeluarkan ponco.


Kehujanan
Kehujanan

Perjalanan hujan cukup menyulitkan dengan trek licin dan menanjak, jadinya kami baru tiba sekitar 1 jam 45 menit.

pose dulu bentar
pose dulu bentar

Shelter 1 saya pertama kali tiba dengan Akhunk. Ada 2 pendaki lokal juga telah tiba. Kami memutuskan untuk makan siang di sini. Namun sayang saat kami tiba kondisi air kering.

Shelter 1
Shelter 1

Baru saja berapa menit berada di shelter 1 cuaca hujan, dan kami berlindung di pondok yang tersedia. Tidak lama kemudian datang rombongan pendaki dari Malaysia yang turun, ada sekitar 10 orang. Jadinya kami sama-sama berteduh menunggu hujan.

Setelah itu kami kemudian makan siang sekalian istirahat agak lama, sekitar 45 menit. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju shelter 2 dengan trek yang begitu panjang, serasa tak sampai-sampai. Beberapa kali saya dan Akhunk harus duduk dan berhenti. Sementara Cen lebih banyak menemani Feby yang mulai keteteran dengan dasyatnya trek Kerinci.

Hingga kemudian di trek yang sedikit datar kami kembali istirahat dan bertemu pendaki turun. Dari bahasanya mereka sedang melakukan penjelajahan, terdengar ungkapan “menuruni air terjun, air bah, pencarian terakhir. Kedengarannya bukan pendakian biasa”. Saya kemudian mencoba bertanya kepada salah satu diantara mereka. Ternyata mereka sudah 1 minggu di Kerinci, gabungan dari pencinta alam Bekasi dan Padang. Tujuan mereka menelusuri beberapa sisi Kerinci dengan misi mencari rekan mereka yang hilang akhir tahun 2014 lalu.

lembah dewa
Lembah dewa

“Luar biasa!”. Sejenak saya terdiam dengan yang mereka lakukan. Walau secara logika saya pikir akan sulit untuk menemukan rekan mereka, tetapi semangat kesetiakawanan, semangat juang mereka luar biasa. Resiko yang dihadapi pun mengancam nyawa tapi itu lah tingginya solidaritas pecinta alam, dan saya masih jauh dibawah mereka berkali-kali lipat jauhnya, baik mental, skill, dan sebagainya.

Cen dan Feby kemudian tiba dan mengatakan kami baru menempuh 1/4 untuk menuju shelter 2, padahal perjalanan rasanya sudah lama. Namun kalau pun terus mengeluh hanya membuat trek semakin berat. Cen menyebutkan trek mencapai setengah ke shelter 2 setelah sampai di tumbuhan kantong semar.

Kami kemudian berjalan dengan trek mulai makin tertutup, terowongan dari akar-akar dan tumbuhan jenis resam mulai mendominasi trek. Sempit, becek, licin, minim pegangan mulai merajalela. Cen bilang trek ini sangat membosankan, sepertinya benar. Semakin saya sama sekali tidak ngotot untuk cepat sampai sejak awal, namun juga tidak terlalu lama kalau istirahat.
Ntah berapa kali harus mengatur nafas yang berdegup tak beraturan. Melepas sejenak carrier yang membuat pegal pundak, atau menyandarkan carriel ke pohon tumbang. Trek dengan terowongan yang terasa gelap tak jarang menimbulkan berbagai pikiran aneh-aneh, ntah itu mistis atau hewan buas.

Hati pun terus berdoa smoga diberi keselamatan dan kekuatan. Mata tak lepas mencari tanah mana baik dipijak, akar mana kuat untuk jadi pegangan. Sulitnya trek menuju shelter 2 lengkap dengan kembali turunnya hujan. Jas hujan yang telah terkemas dan belum kering kembali dikeluarkan. Tentunya tak mudah berjalan dalam keadaan hujan, beban terasa berat disertai kekhawatiran jatuh sehingga tidak maksimal melangkah lebih cepat.

Perjuangan ke shelter 2 baru usai menjelang magrib, catatan waktu saya hampir 4 jam saya baru tiba, beberapa menit di belakang saya Akhunk. Sedangkan Cen bersama Febi tiba setelah menempuh waktu 4 jam 10 menit. Kami memutuskan untuk beristirahat di shelter 2. Tidak ada yang nge camp hari itu di shelter 2. Ada juga rombongan pendaki lain yang tiba bersama kami dan sama-sama istirahat.

Shelter 2
Shelter 2
shelter 2
shelter 2

Waktu magrib kami manfaatkan untuk memasak air panas, membuat kopi dan makan berbagai snack. Saya juga menyempatkan Magrib dalam kondisi seadanya. Baru lah setelah merasa cukup siap kami melanjutkan sisa perjalanan ke shelter 3, target tempat nge camp. Dari informasi yang kami baca dan cerita pendaki trek termasuk yang diberitahu Cen untuk ke shelter 3 bisa ditempuh 1-2 jam, tetapi medannya terjal sekali.

Perjalanan malam memang tidak memperlihatkan trek yang terjal secara jelas. Namun rasanya jelas sekali menguras otak dan tenaga. Treknya betul-betul curam, licin dan sempit. Selain itu kondisinya tertutup dengan pepohonan yang membentuk lorong-lorong gua. Bergelantungan di akar, memastikan pijakan kaki menjadi aktivitas menyusuri trek ini. Kelelahan kadang membuat frustasi untuk melangkah, tetapi kami tidak boleh berhenti sebelum sampai shelter 3 karena tidak memungkinkan sekali bermalam di trek ini.

Satu jam lebih dan jarak kami berjauhan. Saya pun agak jauh dengan Akhunk dan terdapat 2 pendaki bersama kami. Cen berada di belakang menemani Feby dan meminta kami berdua untuk duluan agar bila sampai shelter 3 bisa segera mendirikan
tenda. Di perjalanan saya mendengar percakapan hangat yang terasa seperti di dalam tenda, itu adalah harapan bagi kami para penakluk trek, pertanda tidak lama lagi sampai.

Setelah saya dekati hanya ada 1 tenda, ketika mereka menyapa saya lalu saya tanyakan apakah sudah shelter 3?. “Bukan bang, ini shelter 3 bayangan, masih di depan shelter 3-nya” jawab salah satu wanita di dalam tenda. Ternyata belum lah tiba walau sebenarnya tidak juga terlalu jauh. Namun setelah berjalan lebih dari 10 jam rasanya sisa jarak tersebut masih terasa jauh dan berat.

Dengan membulatkan tekad dan sesekali melihat cahaya senter di belakang pertanda Akhunk tak jauh saya pun berjalan melangkah. Riuh obrolan pendaki, alunan gitar, cahaya tenda pun kian jelas yang kemudian mengantarkan saya tiba di shelter 3 sekitar jam 9 malam. 15 menit kemudian Akhunk tiba dan kami mencari tempat mendirikan tenda. Lalu sekitar jam setengah 10 malam Cen bersama Feby ikut tiba. Bisa dibilang 12 jam kami baru tiba di shelter 3. Hmmm,,, perjalanan yang panjang.

Lalu kami mendirikan tenda dalam tiupan angin yang mendinginkan tubuh. Harus ekstra sabar karena kelelahan harus membuat kami tetap fokus. Namun pastinya tenda tetap berdiri walau tali frame tenda Cen saya lihat sempat harus diperbaiki dahulu. Setelah itu saya menyerah dan memilih di dalam tenda dengan berselimut SB. Dinginnya membuat saya bergetar, namun beruntung Cen dan Akhunk masih mau menyiapkan makan malam.

Jam 11 san malam saya bangun dan kami makan bersama walau selera makan saya sudah rusak. Namun demi menjaga kondisi tubuh, perut harus mendapat asupan makanan. Setelah itu kami bergegas tidur dan berjanji untuk summit jam 4 pagi. Alarm pun dipasang pada ponsel Akhunk dan dalam dingin kami berusaha tidur melawan dingin yang menyerang hebat di bagian kaki.

Minggu, 31 Juli 2016

Tidur tentunya tidak nyenyak yang kemudian tidak lama serasa sudah ramai sekali suara-suara di shelter 3. Yup penghuni tenda lainnya telah bangun, mereka bersiap summit, sementara kami masih sulit untuk bangun walau alarm telah berbunyi. Hingga kemudian suasana sekeliling tenda kami benar-benar sunyi, cuma ada suara kami. Feby lebih rame karena berbicara tentang indahnya pagi bersama awan, mentari dan hijau hutan di hadapan shelter 3.

Dari Shelter 3
Dari Shelter 3

Akhirnya jam 6 kami baru benar-benar bangun semua, walau sebelumnya Cen sempet bangun dan membuat sarapan untuk kami. Setelah berkompromi kami memutuskan untuk summit pada jam 7. Memulai dengan kurang keyakinan akhirnya kami melangkah bertiga, saya, Akhunk, Febi, sedangkan Cen memilih tidak ikut.

Berat rasanya melangkah summit dari shelter 3 dengan beban waktu sudah siang. Tampak dari kejauhan juga pendaki sudah mulai turun. Namun kapan lagi?, begitu lirih dalam hati terus bergumam. Jadinya kami coba menelurusi trek yang tentunya menanjak untuk menuju summit.

Sekitar 45 jam perjalanan saya yang duluan bertemu rombongan pendaki yang sudah bersantai dengan menikmati kopi hangatnya. Mereka berhasil summit dan tinggal turun. Saya sempat berhenti ngobrol dan menikmati kopi sambil menunggu Akhunk tiba bersama Feby. Tidak lama kemudian turun pendaki lain yang gagal summit. Mereka mengatakan gagal muncak karena hawa belerang naik menyebabkan mata perih dan sesak nafas. Kami pun oleh rombongan ini disarankan tidak summit, apalagi waktu sudah siang.

Sempat syok rasanya, tetapi kami terus menguatkan diri. Aku berfikir kapan lagi kalau bukan sekarang, Akhunk pun sama dan lebih mengajak lihat situasi dulu. Akhirnya kami putuskan menuju tugu Yudha dulu untuk kemudian menentukan lanjut atau tidak ke puncak.

Menuju summit
Menuju summit
Kawasan Tugu Yudha
Kawasan Tugu Yudha
masih dari Tugu Yudha
Masih dari Tugu Yudha

Sekitar 30 menit menuju Tugu Yudha kondisi ek melipir ke kanan menanjak. Kawasan tugu Yudha cukup luas, terdapat bendera merah putih. Saya kembali duluan tiba dan bertemu pendaki dari Jambi. Mereka juga tidak summit karena khawatir cuaca buruk ditambah aktifnya kawah Kerinci. Cukup lama saya menunggu di sini hingga kemudian Akhunk dan Feby tiba. Dari kejauhan tampak beberapa pendaki mulai naik lalu kemudian berada di atas hingga akhirnya turun.

Kami berbincang seputar summit mereka barusan. Mereka dengan antusias menyemangati saya agar naik, tinggal pandai-pandai membaca arah angin pesannya. Menurut mereka, summit masih bisa dilakukan dengan menghitung arah angin. Apabila angin ke arah kita maka harus segera berhenti atau turun beberapa langkah. Namun secepatnya mesti naik apabila angin ke arah lain.

Dengan keyakinan dan petunjuk itu kami kemudian sepakat menuju puncak Kerinci. Saya beberapa kali harus berhenti dan turun beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Sementara langkah Feby terlihat berat dituntun oleh Akhunk. Kerja tim benar-benar harus terjalin dimana saya harus memastikan situasi “clear” untuk menuju summit, dan Akhunk bisa membawa Feby menyusul.

Setelah beberapa kali “main petak umpet” dengan angin dan belerang akhirnya kami dapat momen menuju puncak. Saya yang duluan tiba meminta Akhunk dan Febi segera naik. Semangat mereka pun muncul melihat saya sudah tiba di puncak dengan berlari-lari kecil menyusul. Perjuangan menggapai atap Sumatera pada Kerinci 3805 Mdpl tercapai seketika.

Pukul 11 kurang kami tiba, dengan kondisi kawah kabut sehingga tidak bisa melihat pemandangan arah Kersik Tuo dan Danau Gunung Tujuh. Kami pun bergegas mengabadikan beberapa moment foto. Sekitar 7 menit cukup mengingat labilnya arah angin waktu itu ditambah hujan abu vulkanik jauh ke arah kami.

Top Kerinci 3805 Mdpl
Top Kerinci 3805 Mdpl
Puncak Indrapura
Puncak Indrapura
Top 3805 Mdpl
Top 3805 Mdpl

Walau kesiangan rasanya lega bisa menggapai Top Kerinci, kami pun segera turun menghindari hadangan angin yang membawa belerang. Namun langkah Feby masih berat dan tidak bisa cepat untuk turun. Saya memilih duluan sampai ke Tugu Yudha. Setelah mereka terlihat dari pandangan dan tidak terlalu jauh saya kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat diwarnai kabut.

Trek pun sempat terbatas untuk dilihat, namun petunjuknya adalah patok besi yang terpasang dalam jarak sertiap 25 meter. Sesekali kabut pergi dan memperlihatkan tenda-tenda di shelter 3. Saya pun melihat ke belakang untuk memastikan Akhunk dan Feby tetap terpantau. Setelah Akhunk dan Feby turun dari Tugu Yudha saya mempercepat langkah dan tiba di shelter 3 jam 12.30 WIB atau 1,5 jam dari Top Kerinci.

Patok Petunjuk Jalan
Patok Petunjuk Jalan

Hanya tersisa tenda kami dan tenda satu rombongan pendaki. Tenda yang semalam berjumlah belasan sudah tidak ada, mereka telah turun semua.

Cen terlihat duduk di depan tenda, rupanya dia pun rada-rada cemas menunggu kami yang tak kunjung datang. Namun melihat saya tiba ia sedikit lega dan batal melakukan pengecekan ke arah summit sesuai rencana yang ia pikirkan.

Setelah sempat ngobrol-ngobrol dengan Cen, shelter 3 terasa dingin dan saya memutuskan untuk masuk tenda. Cen pun memilih untuk istirahat. Sekitar 30 menit kami memejamkan mata lalu Akhunk bersama Feby tiba sekitar jam 2 siang. 3 jam waktu mereka turun dari summit.

Aktivitas kami lanjutkan dengan makan siang masakan nasi goreng Cen kami. Kami kemudian bersiap packing untuk turun. Akhirnya jam 4 sore kami mulai meninggalkan shelter 3. Saya dan Akhunk masih di depan sedangkan Cen bersama Feby. Sambil mengetes stamina saya mencoba mencicil turunan Shelter 3 ke Shelter 2 yang ternyata jauh sekali. Kondisi siang sangat jelas terlihat terjalnya dibandingkan malam yang tertutupi gelap.

Pose Personil Lengkap di Shelter 3 sebelum turun
Pose Personil Lengkap di Shelter 3 sebelum turun

38 menit saya tiba di shelter 2, sedangkan Akhung sekitar 58 menit. Di shelter 2 ada 1 tenda yang nge camp. Sambil menunggu Cen dan Feby kami bersantai di Shelter 2 dan bertemu dengan pendaki yang baru naik. Cen dan Feby tiba 1 jam lebih atau sekitar jam 5 sore lewat sedikit. Kami beristirahat sebentar lalu sekitar jam 17.30 WIB kembali melanjutkan perjalanan.

Saya dan Akhunk jalan bersama dan memutuskan tidak berjauhan karena trek ini sangat panjang. Di perjalanan kami bertemu pendaki yang mendirikan tenda. Ada juga rombongan pendaki asal Jakarta baru naik. Kami sempat istirahat di trek yang menghadap lembah dewa untuk kemudian sholat maghrib.

Usai sholat maghrib Cen dan Feby belum juga tiba menyusul kami. Kami kemudian memutuskan untuk jalan dan menunggu di Shelter 1. Butuh sekitar satu jam untuk mencapai shelter 1. Tepatnya sekitar jam 19.10 wib saya dan Akhunk tiba di Shelter 1. Beberapa tenda tampak terlihat di Shelter 1 dan kami pun memutuskan untuk istirahat sambil menunggu Cen dan Feby.

Setelah beberapa saat ngobrol kami pun gabung dengan salah satu rombongan pendaki yang rupanya asal Kerinci. Pendaki tersebut kenal juga dengan Cen sehingga memudahkan kami untuk ngobrol akrab disertai suguhan kopi. Mereka baru akan naik dan memutuskan bermalam di shelter 1.

Cukup lama kami menunggu Cen dan Feby yang baru tiba pukul 20.30 WIB. Setelah mereka tiba dan beristirahat kami memutuskan untuk tetap turun malam itu. Sekitar jam 21.00 WIB kami melanjutkan kembali perjalanan dengan komitmen untuk ‘rapat’. Cen juga sempat membisikkan kepada saya agar hati-hati di pohon lubang dan dari Pos 2 ke pintu rimba.

Tanpa bertanya apa maksud hati-hati itu namun pikiran saya sudah tertuju ke hal mistis, heehee…Setelah itu kami betul-betul membentuk formasi rapat dengan saya di depan, Cen, Feby dan Akhunk di belakang. Tidak berubah sampai ke bawah. Perjalanan yang sudah menginjak malam tersebut membuat kami benar-benar ekstra hati-hati.

Saya yang berada di depan memiliki peran untuk memastikan kondisi trek bisa dilewati. Oh ya satu lagi, berkali-kali saya mengarahkan senter ke pohon besar di sebelah kiri untuk memastikan pohon berlubang. Bukan apa-apa, selain ingin tahu kondisinya seperti apa kalau dilewati malam hari juga ingin lebih mewaspadai diri sendiri dan teman-teman.

Perjalanan dengan mengimbangi Feby yang tetap ceria dan semangat namun fisiknya drop abis berjalan slow motion, hehehe… Dari shelter 1 ke Pos 3 hampir 1 jam kami tempuh, kami istirahat sebentar di Pos 3. Setelah itu dari Pos 3 ke Pos 2 sekitar 35 menit dan lanjut ke pos 1 sekitar 25 menit. Kami tidak terlalu lama berhenti dan terus berjalan karena waktu sudah larut malam, hingga kemudian berhasil menempus pintu rimba 30 menit kemudian.

Dari pintu rimba ke gerbang rimba 15 menit dan dari gerbang rimba ke pondok bambu 10 menit. Mobil yang menjemput kami awalnya bapak Cen namun karena sampai jam 11 malam kami belum tiba akhirnya mereka pulang. Mobil lainnnya yang dikendarai anak-anak basecamp pun sempat datang lalu keluar lagi karena kami belum tiba hingga pukul 00.00 WIB.

Pendakian kami malam itu tuntas sampai di Pondok Bambu sekitar jam 1 dinihari, lalu dengan menumpang mobil jemputan sebuah carry pick up kami berbaring di atas bak sambil menikmati taburan bintang. Ada letih, senang, bahagia, sedih, haru bercampur jadi satu. Tak menyangka, perjuangan yang melelahkan ke Kerinci selesai kami tuntaskan. Jam 2 malam kami tiba di basecamp dan lagi-lagi telah disiapkan makan oleh anak-anak Indrapura.

“Mereka memang TOP”.

Setelah perut kenyang, bersih-bersih (ga berani mandi takut masuk angin) kami kemudian bersiap tidur dalam balutan SB (masih dingin banget soalnya). Sempat saya bertanya ke bang Cen mengenai pohon lubang di jalur Kerinci tadi (berani nanya karena udah di basecamp). Akhirnya keluar cerita bang Cen tentang mistik Kerinci yang ternyata pohon lubang itu diyakini pintu gerbangnya alam gaib di Gunung Kerinci, uaaaa sereeem. Termasuk juga apa yang mereka lihat sebagai penampakan selama turun dari Shelter 1 ke pintu rimba, Akhunk pun merasa melihat sesuatu.

Anehnya baik saya dan bang Cen pas turun tidak bertemu pohon lubang itu, mungkin kami pada jalur yang lain (kadang ada jalur yang bercabang walau akhirnya ketemu jalur utama). Namun bagus lah ga ketemu, kalau ketemu mungkin jadi serem dan kenapa-kenapa ya.

Cerita kemudian berkembang ke lokasi lainnya yang tak perlu lah saya jelaskan detail. Termasuk juga cerita bang Cen sewaktu menjadi guide pendaki indigo, luar biasa mistisnya diceritain setelah mereka turun dari Kerinci. Setelah puas bertanya tentang hal mistis ke Cen dan mendapat penjelasannya saya kemudian memutuskan tidur duluan. (Pada bagian cerita mistis ini Feby gak ikutan, karena lagi sibuk di kamar mandi, mandi sih. Belakangan dia protes ga diajak ngobrol hal ini).

Senin, 1 Agustus 2016

Bangun di basecamp sengaja dimalas-malasin. Seperti balas dendam dari keletihan kemarin. Setelah bangun kami masing-masing sibuk dengan keperluannya. Feby sibuk buatin sarapan sama anak-anak basecamp, Akhunk dan Bang Cen masih selimutan, saya bersihin sepatu.

Sekitar jam 9 nyawa kami semua baru “on” lagi. Sarapan, mandi, mengecek perlengkapan dan sebagainya. Hingga kemudian pro kontra untuk ke Danau Gunung 7. Saya dan Akhunk sudah tidak bernafsu ke sana karena masih capek dan memikirkan Feby (kasian dia, hehee). Cen keliatan netral-netral saja ngikutin keputusan kita.

Feby dengan semangatnya kemudian merayu dan “memaksa” kita ke Danau Gunung 7. Walau sempat sudah diputuskan akan pulang ke Padang jam 10 malam nanti namun akhirnya kami putuskan berangkat ke Danau Gunung 7. Sebelumnya mencari oleh-oleh yang ternyata di Kersik Tuo dekat Simpang Macan.

Jam 1 siang kami berangkat dari basecamp ke Kersik Tuo membeli oleh-oleh. Febi saya lihat beli baju sama stiker, saya teh Kersik Tuo, stiker dan bordiran TNKS, kalau Akhunk stiker sama apa saya lupa. Usai dari situ kami lanjut ke Danau Gunung 7 yang ternyata poskonya di belakang rumah ortu Cen. Kami sempat singgah membeli air minum dan snack.

Orang taunya Cen geleng-geleng kepala karena kami baru mau naik ke danau. Yup, sangat kesorean sekali, tetapi tekad anak muda terlalu bulat untuk dihentikan. Kami tetap lanjut. Dari rumah Cen ke titik awal pendakian sekitar 10 menit. Sekitar jam 2 siang lewat sedikit kami memulai pendakian.

*Danau Gunung 7

Trek Danau Gunung 7 dimulai dari sebuah aliran sungai kecil yang treknya basah becek. Menanjak sudah menyambut trek yang normal ditempuh 2-3 jam ini. Benar saja setelah itu treknya walau relatif kering tetapi terus menanjak konsisten. 20 menit perjalanan seorang ibu-ibu menyusul kami dan terlihat akrab ngobrol bersama Cen. Setelah kemudian dekat dengan saya baru saya ketahui bahwa beliau adalah neneknya Cen.

Mulai Menyusuri Trek Danau Gunung Tujuh
Mulai Menyusuri Trek Danau Gunung Tujuh

Neneknya bang Cen juga hendak ke Danau Gunung 7 menyusul kakek. Kakek Syahril namanya yang tinggal di danau mengusahakan perahu-perahu sewaan serta menjaring ikan. Nenek sempat menyemangati saya untuk berjalan tanpa memungkiri pasti akan letih. Ia pun memberi informasi jarak tempuh yang ia sesuaikan dengan kemampuan fisik saya. “Ini udah setengah, setengah jam lagi sampai puncak, jam setengah empat lah, sekarang jam 3 kan” kata nenek.

Saya pun bersemangat dan sempat memberi tahu Akhunk. Saya katakan telat-telat kita jam 4 tiba. Hujan kemudian menghadang hingga kami kemudian terpisah. Saya memutuskan untuk melanjutkan jalan. Akhunk dan nenek saya lihat sempat berhenti, Feby dan Cen ga kelihatan. Perjalanan dengan hujan yang lebat membuat saya hanya bisa mengandalkan jaket waterproof yang ga safety seperti waktu baru beli, hehehee.

Yah akhirnya jam 4 tiba di puncak bertuliskan Top dua ribu sekian….mdpl (lupa saya berapa). Karena hujan, saya tidak berlama dan hanya terlihat satu jalan ke arah kiri. Langsung saja saya turuni jalan itu yang saya pikir danau tidak jauh lagi. Ternyata danau setelah 10 menit berjalan menurun belum juga ada tanda-tandanya. Hujan yang tak kunjung henti sempat menimbulkan cemas, “jangan-jangan saya salah jalan” pikir saya.

Danau yang tak terlihat sama sekali sempat membuat saya ingin kembali ke atas, karena yang terdengar justru air terjun. Saya kembali terpikirkan kalau saya malah menuju air terjun bukan danau. Setelah menimbang dengan melihat jam akhirnya saya putuskan untuk terus turun. Terlepas bukan danau dan hanya air terjun maka saya akan telusuri sampai bawah.

Terasa sekali jauhnya menuruni trek sendirian dalam cuaca hujan, dan gelap. Sementara suara gemuruh air terjun semakin kencang dan danau juga belum ada terlihat. Baru setelah hampir 30 menit saya melihat hamparan putih luas tak bergeming seperti awan putih tebal. Setelah saya perhatikan seksama pemandangan berbeda dan saya turuni trek, ternyata itu lah danau.

Sedikit lega rasanya melihat danau walau rasanya berada ke dunia lain. Danau yang terselimuti kabut dan hujan seperti wajah tanpa ekspresi, sempat gimana gitu rasanya. Setelah terus turun baru saya lihat ada tenda dome dan danau semakin nyata. Saya pun menyakinkan diri dengan bertanya kepada yang ngecamp, “Ini benar danau gunung 7 bang?”.

Mereka kemudian mengiyakan, inilah danau gunung 7 yang didatangi orang-orang. Danau yang luas dan sangat masih alami. Hujan pun terus mengguyur sehingga saya memutuskan untuk berteduh. Beruntung mereka sangat baik dan mempersilahkan saya berteduh, mereka yang ngecamp berasal dari Kerinci juga.

Dalam obrolan saya dengan mereka, saya ceritakan perjalanan kami. Namun saya juga merencanakan akan kembali naik ke atas kalau jam 17.15 WIB kalau mereka belum tiba. Pilihan tersebut harus diputuskan untuk mengantisipasi teman-teman memutuskan tidak jadi ke danau karena hujan. Selain itu, apabila saya sendirian pulang harus secepatnya supaya tidak terlalu malam karena tidak membawa headlamp.

Beruntung sekitar 20 menit saya menunggu tiba-tiba muncul Akhunk sendirian, tidak lama kemudian nenek Cen juga tiba. Saat itu lah saya agak lega karena ada teman. Akhunk bilang Cen dan Feby ikut turun karena sudah melewati titik TOP. Kami kemudian memutuskan menunggu yang kemudian sekitar 15 menit tiba Cen dan Feby.

Kami langsung diajak menuju ke pondok kakek. Ternyata harus menggunakan perahu sendiri karena kakek tidak mengindahkan teriakan nenek yang minta jemput. Nenek yang kemudian menepihkan perahu mengajak kami turut serta. Dalam dingin dan tubuh gemetaran kami kemudian mengarungi danau yang tenang tetapi kami tahu ini tak dalam.

Awalnya rasa khawatir datang, namun kemudian berubah jadi menikmati. Saya didepan melihat nenek mendayung, Cen juga dayung memakai papan karena dayung cuma 1. Feby membuang air yang masuk ke perahu, dan Akhunk di tengah sempat memfoto dan videokan perjalanan kita.

Berperahu di Danau Gunung Tujuh
Berperahu di Danau Gunung Tujuh

Setelah lumayan berjuang barulah sekitar 25 menit kemudian kami berlabuh di dekat pondok kakek. Sebuah gubuk seperti di kebun seukuran kurang lebih 3×3 M. Nenek yang sepanjang jalan di perahu marah-marah karena kakek tak menjemput semakin marah setelah perahu merapat, tapi kakek pun tetap saja diam.

Kami kemudian masuk ke pondok yang telah ada perapian dari kayu bakar. Awalnya kami cuma memanaskan kaki dan tangan. Lalu kemudian masak air membuat minuman, makan snack. Ternyata kakek memiliki logistik yang banyak. Kata Cen kakek sering mendapat pemberian logistik dari orang-orang yang nge camp di danau.

Setelah kaki dan tangan panas mula-mula kami memanggang jaket di atas kayu-kayu perapian. Kemudian saya lihat Cen buka baju dan memanggang bajunya. Spontan saya ikut yang akhirnya Akhunk juga ikutan walau sempet malu-malu. Feby cuma ketawa ketiwi lihat tubuh kita yang “kekar” bertelanjang dada.

Tapi rasanya lepas begitu saja tak ada jaim, tak ada malu walau sebenernya kita baru kenal. Demikian juga nenek yang tadinya sempat marah-marah ke kakek malah tenang baring mengenakan selimut di samping kakek. Rahasia alam yang menyatukan kami lewat perapian sepertinya dipahami sekali oleh kakek.

Kami yang awalnya basah kuyup, kedinginan akhirnya jadi kering dan panas, namun gak kehitung berapa buah kayu bakar kakek kualitas yahud kami pakai untuk membuat perapian. Setelah merasa cukup kering dan yakin, ditambah hari sudah malam kami memutuskan untuk bersiap pulang.

Baiknya kakek, kami disediakan jas hujan semuanya. Walau jas hujan bekas para pengunjung tapi masih bagus. Beruntung juga Cen sudah membatalkan mobil pesanan malam ini ke Padang sehingga kami tak repot buru-buru. Kami kemudian meninggalkan pondok kakek yang sedang ada nenek dengan suka cita dan amat berkesan.

Detik itu juga saya pastikan akan merindukan hal yang saya alami ini, dalam hangatnya pondok Kakek Syahrir. Gelap melepas kepergian kami bersama kakek yang berada di tepi danau, sama ketika kami baru datang sore tadi. Pukul 19.30 WIB kami mendayungkan perahu dari tepi daratan pondok kakek.

Saya dan Cen mendayung di posisi belakang, saya di kanan Cen di kiri. Feby duduk di tengah memegang senter ponselnya dan Akhunk di depan juga ikut mendayung. Patokan kami adalah lampu tenda yang ngecamp di danau. Awalnya jelas, lalu akibat angin, kabut dan kurang mahirnya komposisi pendayung (hanya Cen yang mahir) kami sempat kehilangan arah.

Lampu tenda sebagai petunjuk sempat tak terlihat, pandang benar-benar berjarak pendek akibat kabut. Parahnya lagi kami merasa justru terbawa ke arah lain. Lalu kami putuskan untuk menepi ke arah kanan. Pelan-pelan kami mendayung akhirnya terlihat pohon di sebelah kanan yang sedikit melegakan kami.

Persoalan kami belum selesai sampai di situ karena perahu kami kemudian malah tersangkut kayu pada pohon tumbang di dalam air. Kayu yang nyangkut di bagian depan lambung perahu bisa kami lepaskan setelah dicongkel memakai dayung. Baru jalan berapa menit, perahu kami yang masih menyusuri pinggiran malah tersangkut kayu lagi.

2 kayu sekaligus menjepit perahu di bagian depan dan belakang. Cukup sulit melepas kayu yang mencengkram di depan dan belakang. Setelah terlepas bagian belakang, bagian depan masih tersangkut, demikian juga sebaliknya. Hampir 10 menit kami berjibaku, terutama untuk melepas dari kayu yang menyangkut di bagian depan. Setelah bersusah payah melepas dengan dayung akhirnya kami berhasil menjauh. Saat perahu terlepas dari kayu terlihat jelas kayu yang mencengkram bagian depan bercabang 3 mirip garpu, wajar saja sulit untuk lepas.

Setelah terlepas kami mulai mengayuh perahu agak ke tengah, menghindari resiko tersangkut. Perlahan perahu kami melaju dan berhasil melihat lagi cahaya lampu tenda. Harapan kembali melegakan, karena petunjuk kami temukan lagi. Kami terus mendayung walau rasanya sulit untuk melaju cepat karena dalam kondisi angin cukup kencang.

Namun tujuan kami berlabuh semakin jelas dibantu cahaya senter dari teman-teman yang nge camp di tepi danau yang terus memberi petunjuk. Sekitar 30 menit akhirnya kami tiba ke tepian dengan selamat disambut hujan. Karena sudah malam kami tidak lagi menunggu, tetapi terus melanjutkan perjalanan. Tidak lupa saya sempat menyapa temen-temen yang nge camp dan mengucapkan terimakasih karena telah memberi cahaya senternya sehingga kami bisa mendapat panduan.

Hujan terus mengguyur sejak berjalan menuju meninggalkan danau. Jalanan dari danau menuju puncak terasa lamban untuk didaki, licin dan menanjak. Feby juga harus kami tuntun dan kali ini kami membentu formasi Akhunk di depan Cen, Feby dan saya di Belakang. Sekitar 25 menit kami dari danau ke tulisan Top perbukitan.

Hampir kami tidak melakukan istirahat karena cuaca hujan dan malam. Menuruni trek dalam kondisi hujan memang tidak mudah, gerak tidak bisa dipaksakan cepat karena khawatir terpeleset dan cedera. Kami juga mempertimbangkan Feby sehingga harus bersabar menapaki setiap trek. Beberapa kali Feby dan Cen jatuh bersamaan sehingga saya memilih berada di belakang mereka. Pernah sekali Feby terjatuh dan di bawah kepalanya sudah menanti akar pohon yang keras, beruntung tangan saya merespon menahan kepalanya sehingga tidak kontak langsung dengan akar kayu.

Trek harus kami turuni dengan waktu 3 jam. Beberapa trek diwarnai dengan cacing-cacing yang keluar. Cukup banyak cacingnya, mungkin mereka bersuka cita karena hujan melembabkan tanahnya. Cacing berukuran panjang 10 cm itu sempat membuat saya agak geli (baca :jijik) hehehee. Alhamdulillah akhirnya titik parkiran mobil sebagai awal pendakian berhasil kami tempuh.

Sebelum tiba kami melihat cahaya senter, pertanda ada orang. Setelah kami sampai di parkiran rupanya ayah dan adik Cen menunggu kami. Mereka menunggu karena khawatir kami belum juga pulang, sementara cuaca hujan. Selain itu, mereka juga menuntun jalan dengan cahaya lampu motor karena lampu mobil putus. Terimakasih ayah dan adiknya Cen.

Segera setelah itu kami masuk ke mobil dan pulang. Perjalanan sekitar 10 menit lalu kami singgah di kediaman Cen. Yup, lagi-lagi kami dengan baiknya dilayani, disuruh makan malam. Cen bilang, khawatir nanti di basecamp anak-anak ga masak, walau saya yakin anak-anak basecamp pasti masak.

Kami makan malam di rumah ortu Cen yang penuh keramahan. Cuaca dingin, perut lapar membuat saya khususnya bernafsu sekali makan malam itu. Tidak lama rasanya menghabiskan nasi sepiring. Sekitar 30 menit kami di rumah Cen lalu bersiap kembali ke basecamp. Cen pun menyiapkan beberapa barang bawaan untuk ke Padang. Jadi lah kami pulang ke Padang besok subuh diantar Cen.

Perjalanan yang tidak jauh dari kediaman ortu Cen ke basecamp hanya butuh waktu 15 menit saja. Sesampai di base camp kami langsung menjemur jaket yang basah. Saya memutuskan untuk mandi dengan air hangat. Setelah itu kami ngobrol santai, tentunya dengan suasana yang jauh lebih akrab di malam terakhir di basecamp Indrapura Kerinci.

Anak-anak basecamp sudah saya lihat terlelap, mungkin mereka ngantuk menunggu kami.

Selasa, 2 Agustus 2016

Jelang subuh alarm saya sudah berbunyi. saya bangun dan menyelesaikan sisa packing. Beberapa kali saya harus membangun Feby dan Akhunk, karena kami berjanji ke Padang sehabis subuh. Beruntung walau sempat sulit dibangunkan mereka kemudian perlahan beranjak dan bersiap untuk ke Padang. Bang Cen pun ikut bangun dan memanaskan mobil.

Tanpa mandi, hanya cuci muka dan gosok gigi kami kemudian meninggalkan basecamp. Detik itu saya sudah merasakan, pasti akan rindu dengan kehangatan dan keramahan Indrapura basecamp. Tapi kami harus pergi. Beruntung diantar Cen dan adiknya, sehingga punya waktu lagi di hari terakhir.

Masih dalam kondisi ngantuk dan dingin, saya putuskan membawa selimut basecamp untuk kami tidur di mobil. Sementara Cen terlihat menyopir pake kain sarung sampai Padang, lucu juga bang Cen begitu.

Itu tuh Cen dengan sarungnya saat nyopir ke bandara
Itu tuh Cen dengan sarungnya saat nyopir ke bandara

Perjalanan awal sekitar 2 jam kami manfaatkan untuk tidur menyimpan tenaga mengobati kantuk. Bangun-bangun kami sudah meninggalkan kabupaten Kerinci dan memasuki Kabupaten Solok Selatan. Kami kemudian berhenti sarapan namun langsung makan berat pada jam 8. Tempat makan kami memperlihatkan pemandangan Gunung Kerinci dari kejauhan. Cukup bernafsu makan pagi kami waktu itu.

Perjalanan pulang kerinci ke Padang
Perjalanan pulang kerinci ke Padang

Oh ya satu catatan lagi, alhamdulillah saya tidak sampe mual alias mabuk perjalanan seperti pas pergi dari Padang ke Kerinci.

Perjalanan kemudian berlangsung melewati Kabupaten Solok yang terasa cepat. Saat bersamaan juga kami berpapasan dengan peserta Tour de Singkarak yang lagi berjuang menaklukkan tanjakan di Solok. Kami sempat berhenti di sebuah SPBU untuk ke toilet.

Perjalanan kemudian terjebak macet ketika memasuki Padang ditandai cuaca yang terik. Aura pegunungan yang sejuk hilang seketika. Cukup lama perjalanan di Kota Padang dari himpitan macet sehingga baru lah kami berhenti saat perjalanan menuju bandara dan mampir ke pusat oleh-oleh Christin Hakim. Saya, Akhunk dan Feby menyempatkan beli oleh-oleh. Namun karena deposit mulai menipis saya hanya membeli beberapa bungkus kripik balado saja.

Usai sholat zuhur di musholla Christin Hakim kami melanjutkan perjalanan ke bandara yang tidak jauh lagi. Feby dan Akhunk memutuskan menunggu di mobil bersama Cen dan adiknya. Saya kemudian masuk untuk cek in. Di dalam bandara saya bertemu dengan seseorang yang menyapa. Setelah saling ngobrol dan kenal kami kemudian bersama-sama.

Namanya Robby, anak Padang Pariaman, hobi juga petualang. Dia pernah ke beberapa gunung di Sumbar seperti Merapi, Talang, dan Singgalang. Robby kemudian memutuskan untuk ikut saya keluar menemui Feby cs, bosen juga katanya kalau sendirian. Setelah cek in kami keluar dan menemui Feby cs di parkiran. Mereka masih di dalam mobil dengan membuka pintu belakang.

Momen penghujung perjalanan kami manfaatkan untuk foto dan saling ngobrol. Berbagai hal kami ungkapkan tentang keinginan untuk berjumpa lagi, ke Kerinci lagi, Danau 7, Danau Kaco dan Bukit Tinggi atau sama-sama mendaki ke gunung lain. Akhir seperti ini memang mengharukan sekaligus memilukan karena kami akan berpisah.

Ini terakhirnya kebersamaan kami mengakhiri perjalanan
Ini terakhirnya kebersamaan kami mengakhiri perjalanan

Sekitar 30 menit saya bersama mereka lalu kami akhirnya berpisah, benar-benar berpisah kali ini. Saya duluan meninggalkan mereka sementara Akhunk dan Feby masih menunggu waktu cek in, pesawat mereka jam 6 petang. Saya kemudian berdua dengan Robby menuju ke ruang tunggu. Delay pesawat 30 menit jadinya baru berangkat jam 14.30.

Oh ya Robby tujuannya Batam, dia bekerja di sana. Dia berharap suatu saat kami bisa bertemu lagi dan bisa sama-sama mendaki. Kami kemudian terpisah saat masuk pesawat karena beda tempat duduk. Di pesawat yang padat, perjalanan menuju Batam ditempuh dalam waktu normal. 1 jam tiba namun bandara Batam kembali penuh. Jadinya walau sudah mendarat kami ngantri untuk parkir, bersama beberapa pesawat lainnya.

Baru lah sekitar 1 jam kami turun dan saya langsung menuju ruang tunggu. Tidak sempat lagi berjumpa dengan Robby dan hanya bisa berpamitan lewat SMS. Saya pun segera menuju ruang tunggu dan menunggu beberapa menit. Setelah itu kami dipersilahkan masuk pesawat yang ternyata pesawat sama dari Padang tadi.

Untuk lepas landas pun masih antri, saking padatnya Bandara Hang Nadim Batam namun tidak selama pas turun tadi. Perjalanan meninggalkan Batam memasuki waktu senja dengan pemandangan matahari turun dari ufuk barat. Saya kemudian tidak menyia-nyiakan momen ini dengan mengabadikan gugusan pulau-pulau di perairan Kepri di bawah jatuhnya cahaya senja mentari.

Keindahan ciptaan Tuhan dalam perjalanan pulang
Keindahan ciptaan Tuhan dalam perjalanan pulang

Sekitar satu jam saya tiba di Pangkalpinang dan telah meminta Nia untuk menjemput. Perjalanan saya ke Kerinci berakhir di Warung Makan Abah dengan menyantap lempah kuning ikan Tenggiri. Usai makan malam dan bercerita dengan Nia, partner bisnis, partner petualang yang sudah saya anggap kayak adik saya kemudian minta diantarkan ke rumah saudara untuk mengambil motor lalu pulang ke Sungailiat.

Yup, itu lah catatan perjalanan kita ke Kerinci dan Danau 7 yang panjang, yang harusnya sudah terposting Agustus lalu. Semoga menginspirasi dan menjadi referensi….aamiin.

Tri Harmoko,

Catatan :
Tidak saya cantumkan detail biaya karena biaya tidak sama dan kondisional. Tetapi sekedar info dibawah ini beberapa contact person terkait yang saya rekomendasikan:

-Bang Nek (Travel SKW Sungaipenuh) jurusan Sungapenuh Jambi-Padang Sumbar, Hp : 0853 8318 1819. Kemarin ongkos dari Padang ke Kerinci (Danau 7) Rp 170 ribu/orang
-Bang Cen (Indrapura Basecamp, Simpang Pelompek Danau Gunung 7), Hp-WA : 0852 7385 7595

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *