Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (7)

Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (7)

*Danau Segara Anak-Pelawangan Senaru-Senaru (selesai)

TREK menyusuri tepian dari camp Segara Anak untuk menuju tanjakan Pelawangan Senaru sejauh kurang

Segara Anak
Segara Anak
lebih  1 km. Setelah itu trek terus menanjak menuju Pelawangan Senaru yang memang tampak terlihat terjalnya dari Segara Anak. Ini lah juga salah satu pertimbangan kami untuk dicicil. Banyak pendaki menyebutkan tanjakan menuju ke Pelawangan Senaru cukup menguras tenaga dan waktu.

Menyusuri tanjakan Pelawangan Senaru terlihat Ian agak drop fisiknya sehingga kami harus berapa kali berhenti. Sesekali kami jalan dahulu, terutama Dudi paling semangat di depan. Pundak dan punggung saya juga rasanya cukup berat menahan beban carriel. Tapi perjalanan harus dilanjutkan sehingga kaki kami menapak selangkah demi selangkah dengan sesekali istirahat di setiap bidang datar. Cukup banyak bertemu dengan pendaki termasuk yang dari turis mancanegara. Menuju Pelawangan Senaru ini saya semakin berani untuk berdialog bahasa inggris walau masih belepotan. Memang benar lebih mudah belajar sambil melakukan, termasuk juga soal berdialong bahasa inggris di Rinjani terbuka untuk cepat bisa kalau sering dilakukan.

Standar menuju ke Pelawangan Senaru dari Segara Anak sekitar 3 jam. Namun bisa saja mencapai 5 jam karena medan yang begitu terjal. Sedangkan kami hampir dua jam sudah mencapai sekitar setengah perjalanannya. Tidak terlalu buruk, walau setengahnya lagi terlihat semakin menanjak seperti dinding. Untuk saja sebagian trek sudah dibuatkan tangga dan besi sebagai penopang mendaki. Setengah perjalanan saya dan Dudi berada di sebuah tempat yang mirip dengan arca-arca batu. Dimana batu-batunya membentuk mirip meja dan kursi. Cukup banyak sehingga nyaman sebagai tempat beristirahat. Saya dan Dudi kemudian memutuskan untuk melepas carriel sebentar.

Mirip Arca Batu
Mirip Arca Batu

 

Dari tempat ini pemandangan Segara Anak terlihat di antara perbukitan, pohon cemara dan pinus
serta savana. Air Segara Anak terlihat berwarna hijau kebiru-

Salah satu pendaki asal mancanegara sedang melepas penat perjalanan
Salah satu pendaki asal mancanegara sedang melepas penat perjalanan
View Danau Segara Anak
View Danau Segara Anak

biruan dari tempat kami berdiri. Di atasnya tampak awan putih bergelantungan lebih rendah dari kami. Beberapa momen kami abadikan dari tempat ini bersama Dudi sambil menunggu Ian tiba menyusul. Setelah Ian tiba, beristirahat dan berfoto kami melanjutkan perjalanan lagi. Dengan trek semakin menanjak membuat kami kembali terpisah. Tetapi kami berjanji saling menunggu di Pelawangan Senaru sebagai
titik kumpul untuk menentukan perjalanan selanjutnya.

Kali ini saya berada di depan, bergantian saling susul dengan pendaki lainnya. Sendiri memang memiliki beban dan target tertentu untuk melewati tebing-tebing yang terjal. Setiap memandang ke atas dan masih tampak tinggi saya kemudian hanya merunduk ke bawah, berjalan memastikan langkah kaki berpijak pada tumpuan yang benar. Tanjakan menuju Pelawangan Senaru sedikit terbaikan kala melihat bunga edeilweis yang sedang bermekaran di antara jurang-jurang trek. Cukup banyak edelweis di jalur ini sehingga saya juga mengabadikannya lewat kamera.

Edelweis Pelawangan Senaru
Edelweis Pelawangan Senaru

Berjibaku dengan trek Pelawangan Senaru membuat nafas serasa habis, kaki bergetar dan lulut lemas. Tetapi teriakan-teriakan pendaki lain membuat semangat seolah terpompa kembali untuk segera menuju Pelawangan Senaru. Ditambah hari yang semakin teduh menuju petang, dengan sunset seolah merayu untuk dinikmati dari Pelawangan Senaru. Akhirnya dengan lapisan tekad baja yang tersisa, saya berada di Puncak Pelawangan Senaru jam 5 lewat. Di sana telah berkumpul banyak pendaki termasuk juga tenda-tenda telah berdiri di berbagai tempat.

Pelawangan Senaru Rinjani
Pelawangan Senaru Rinjani

Pelawangan Senaru salah satu tempat camp favorit setelah Segara Anak. Posisinya yang menghadap sunset menjadi tempat asik menghabiskan sore. Sayang tidak ada sumber air di sini. Saya pun beristirahat mencari tempat yang nyaman untuk melihat sunset yang mulai turun. Jadinya ber selfie ria sendiri. Ahh, lagi-lagi saya bergumam “kapan lagi saya akan berada di sini”. Benar-benar menikmati sunset Pelawangan Senaru .

Tak terasa sampai magrib saya belum bergabung dengan Ian dan Dudi. Sampai kemudian saya bergeser agak menuju ke trek turunan Senaru untuk menunggu mereka. Cuaca semakin gelap dan angin semakin terasa dingin menusuk ke tubuh. Hingga akhirnya seorang pendaki melintas dan menanyakan saya dari mana. Pendaki tersebut membawa pesan kalau Dudi dan Ian menunggu di puncak Pelawangan Senaru. Akhirnya daripada saling tunggu saya putuskan untuk menitip carriel ke seorang porter turis mancanegara lalu menyusul Dudi dan Ian.

Butuh sekitar 15 menit untuk bolak-balik ke tempat Dudi dan Ian. Akhirnya kami bersatu kembali dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa porter menyarankan kami untuk menginap karena hari sudah malam. Tapi kami kemudian sepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan target Pos 2 Senaru, karena masih ada stamina. Perjalanan dari Pelawangan Senaru malam hari sempat membingungkan karena ada beberapa trek yang bercabang.
Jadinya kami harus benar-benar cermat memutuskan jalur mana yang harus dipilih agar tidak terlalu jauh jalan atau tersesat.

Bantuan cahaya senter sangat mendukung untuk memandu jalan, mencari pita penunjuk jalan yang diikatkan pada dahan-dahan pohon. Di awal perjalanan ada dua pendaki asal Bandung yang tertinggal rombongan. Dengan kondisi satu pendaki tanpa senter dan satunya lagi cedera serta terlihat sangat capek. Dudi dan Ian bersemangat di turunan Senaru ini sehingga saya tertinggal ditambah terpikirkan dua pendaki Bandung tersebut akhirnya saya agak santai melangkah.

Turunan dari Pelawangan Senaru benar-benar menurun dengan kondisi trek pasir mirip lagi turunan summit Gunung Semeru. Tetapi lebih berdebu dan tampak gersang. Selain itu juga kami harus berhati-hati karena sangat licin. Saya kemudian bersama dua pendaki Bandung, sementara Dudi dan Ian sudah tidak lagi bisa saja kejar. Sampai akhirnya saya berjalan sendiri dengan jarak agak jauh dari pendaki Bandung. Dalam kelelahan saya kemudian memutuskan untuk berhenti yang menyebabkan pikiran macam-macam menghampiri. Tapi saya putuskan untuk menunggu dua pendaki Bandung, yang kemudian 15 menit kemudian kami bertiga jalan bersama-sama.

Setelah itu kami saling menunggu hingga melintasi trek yang berganti hutan kecil dan pasir gembur. Barulah setelah 2 jam lebih perjalanan kami mendengar suara-suara perbincangan para pendaki. Kami tiba di Pos 2 Senaru, dengan sambutan sapaan para pendaki yang diantaranya adalah temen dua pendaki asal Bandung. Termasuk juga Dudi dan Ian yang ikut menyapa saya, mereka sudah selesai mendirikan tenda. Pos 2 Senaru cukup dingin, dikelilingi hutan-hutan yang telah mengembun malam itu.

Saya kemudian langsung mendirikan tenda berhadapan dengan tenda Dudi dan Ian. Dingin benar-benar sangat terasa malam itu, mungkin faktor tubuh yang semakin menurun stamina. Tapi Ian masih memasak untuk menu makan malam kami. Malam di Pos 2 Senaru kami habiskan dengan mengobrol sambil menikmati segelas kopi hangat. Begitu juga dengan pendaki lainnya. Tetapi
kelelahan dan dingin terlalu meruntuhkan pertahanan kami, sehingga tidak sampai jam 12 malam kami telah menutup tenda. Rasanya malam itu matras, sleeping bag, jaket dan sarung tidak bisa menahan hembusan dingin Pos Senaru.

HARI keempat pendakian Rinjani kami terbangun pagi-pagi di Pos 2 jalur Senaru. Perjalanan kami tidak terlalu berat lagi tinggal turun saja, tapi masih panjang jaraknya. Kami telah memotong setengah lebih perjalanan dari Segara Anak ke Senaru sehingga agak lebih santai. Pagi di Pos 2 Senaru semua pendaki bersibuk ria membuat sarapan dan membersihkan perlengkapan. Sebagiannya telah packing dan jalan. Beberapa pendaki juga melintas untuk naik atau turun. Terutama pendaki mancanegara yang telah dipersiapkan segala keperluannya oleh porter sehingga tak serepot kami harus packing, memasak dan aktivitas lainnya sendiri.

Pagi itu kami selesai beraktifitas jam 9 dan bersiap melanjutkan perjalanan. Trek Senaru tampak begitu padat dilalui pendaki hari itu. Kadang kami harus mengantri untuk berbagi jalan kepada yang istirahat ataupun porter dengan bawaan cukup banyak di pundaknya. Tapi itulah seni mendaki gunung, minimal “say hello” terucap ke setiap orang yang kami temui. Beruntung trek begitu nyaman, teduh di antara pepohonan yang rindang. Saya jadi betah tanpa berhenti menyusuri trek Pos 2 ke Senaru. Begitu juga dengan Ian dan Dudi, kami terus melangkah tanpa henti.

Beberapa kali saya mengetes langkah kaki mengikuti jejak porter. Sungguh berbahaya jika tidak terbiasa. Ketepatan porter dalam memilih pijakan dan menyeimbangkan bawaan di punggungnya sangat akurat. Padahal hanya modal sandal jepit di alas kakinya, berbeda dengan kami yang rata-rata pakai sandal gunung dan sepatu. Tapi saya sempat berhasil mengimbangi langkah salah satu porter untuk perjalanan dari Pos 2 ke Pos 1. Sisa perjalanan dari pos 1 ke gerbang Senaru semakin landai dan menurun serta teduh. Sesekali di kiri kanan trek ditemui pohon pandan hutan yang membuat sejuk perjalanan.

Hingga tidak terasa gerbang pintu pendakian Senaru itu di depan mata kami. Rasanya tidak percaya kami sudah menghabiskan pendakian. Yup ternyata benar, gerbang pendakian Senaru jelas tertulis.

Akhir Pendakian Gunung Rinjani, Pintu Pendakian Senaru
Akhir Pendakian Gunung Rinjani, Pintu Pendakian Senaru

Sekitar 3 jam kami tempuh perjalanan, cukup bagus catatan waktunya. Dekat gerbang ada sebuah warung milik masyarakat setempat. Rasanya bertemu syurga kembali melihat minuman yang dijual. Ada juga pondok yang disediakan untuk tempat pendaki istirahat. Jadinya kami putuskan istirahat sejenak di tempat ini.

Sekitar setengah jam kami berada di Posko Senaru untuk menyempatkan diri merebahkan badan, mencuci kaki dan tangan. Di sini juga kami bertanya informasi soal mobil ke Mataram
atau Gili Trawangan. Kami disarankan jangan terlalu keluar dari area Senaru agar tidak bertemu calo, dan beruntung diberi nomor kontak seorang sopir yang berada di sebuah penginapan di bawah kaki Senaru. Dari posko Senaru kami berjalan kaki menuju tempat penginapan untuk informasi mobil. Cukup jauh, sekitar 30 menit kami harus menyelesaikan turunan yang telah berupa jalan dengan cor semen. Ada ojek kalau mau menumpang dengan ongkos sekitar Rp 20 ribu, tapi kami pilih jalan kaki.

Tidak lama kemudian sampai di penginapan yang dimaksud, mirip sebuah home stay. Terdapat juga sebuah warung dan kami manfaatkan untuk membersihkan diri serta sholat zuhur. Setelah itu kami mendapat petunjuk untuk mobil yang bersedia mengantar kami sampai Gili Trawangan dengan ongkos Rp 250 ribu. Mau tidak mau demikian karena hari sudah sore dan kami tak mau ambil resiko lagi, carter mobil tersebut kami bagi tiga. Demikian lah catatan perjalanan saya ke Gunung Rinjani, selanjutnya pada tulisan lain saya akan menceritakan perjalanan saya usai dari Rinjani untuk berwisata di sejumlah tempat pada Pulau Lombok. (sekian).
Salam dari Bangka Belitung,

Tri

#Rincian perjalanan :
Day 1  : Belitung-Jakarta (pesawat), Jakarta Yogyakarta (kereta)
Day 2 : Yogyakarta-Surabaya (kereta)
Day 3 : Surabaya-Lombok (pesawat)
Day 4 : Lombok (Mataram)-Sembalun-Pos 2 Sembalun (Pendakian hari pertama)
Day 5 : Pos 2 Sembalun-Bukit Penggasingan-Pelawangan Sembalun (Pendakian hari kedua)
Day 6 : Summit Rinjani-Pelawangan Sembalun-Danau Segara Anak (Pendakian hari ketiga)
Day 7 : Danau Segara Anak-Pelawangan Senaru-Pos 3 Senaru-Pos 2 Senaru (Pendakian hari keempat)
Day 8 : Pos 2-Senaru-Senaru——–selesai.

Biaya-biaya ;:
-Tiket Pesawat  Belitung-Jakarta : Rp Rp 350 ribu (citylink)
-Tiket Pesawat Surabaya-Lombok : Rp 300 ribu (wings Air)
-Tiket Pesawat Lombok Surabaya : RP 300 ribu (wings Air)
-Tiket Pesawat Jakarta-Belitung : Rp 400 ribu
-Tiket kereta api Jakarta-Yogyakarta (ekonomi)  Rp 65 ribu
-Tiket kereta api Yogyakarta-Surabaya (ekonomi)  Rp 65 ribu
-Tiket kereta api Surabaya-Bandung (ekonomi)  Rp 65 ribu
-Tiket kereta api Bandung-Jakarta (ekonomi)  Rp 35 ribu
-Ongkos carter mobil L300: Bandara Praya Lombok-Sembalun Rp 400 ribu/Rp 50 ribu per orang.
-Logistik tim Rp 50 ribu per orang
-Karcis masuk Rinjani : Rp 2.500/orang
-Carter mobil carry pick up Senaru- Pelabuhan Gili : Rp 250 ribu
(patungan 3 orang).

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *