Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (6)

Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (6)

*Pelawangan Sembalum-Danau Segara Anak

PERJALANAN ke Danau Segara Anak saat matahari naik cukup membuat stamina terkuras. Walau Segara Anak sudah terlihat dari camp Pelawangan Sembalun tetapi kami harus memutar untuk ke sana.  Awalnya masih mendatar saat menyusuri trek Pelawangan Sembalun lalu harus menurun terjal dengan trek bebatuan. Perlu ekstra hati-hati menuruni Pelawangan Sembalun.

Pelawangan Sembalun
Pelawangan Sembalun

Saya menuju Segara Anak bersama temen yang juga baru bertemu di Rinjani, Dudi dan Ian dari Makassar. Mereka berdua berdekatan tendanya dengan kami saat di Pelawangan Sembalun. Trek menuju ke Segara Anak terlihat mudah tetapi sesungguhnya lumayan panjang dan berkelok-kelok. Beberapa jembatan yang di bawahnya terdapat sungai mati menjadi pemandangan trek menuju Segara Anak. Begitu juga savana-savana dan beberapa cemara gunung tampak terlihat.

Treknya cukup banyak landai juga, hanya terik matahari ditambah kondisi tubuh baru sekesai summit semalam agak mendera kelelahan bagi kami. Hanya porter yang terlihat selalu bersemangat walau beban di pundaknya terlihat begitu banyak namun selalu terlihat tak ada lelah di wajahnya. Bahkan salah satu porter patah kayu panggulannya di depan saya. Saya yang jadi khawatir melihat itu, tetapi abang porter itu cuma tersenyum dan bergegas menebang pohon di sekitar untuk mengganti kayu panggulannya. Kadang hal seperti itu memberi semangat tersendiri dan membuat saya kembali melanjutkan langkah.

Bercerita banyak hal menjadi resep untuk melupakan tebing yang terjal, bebatuan licin, panas matahari atau trek yang masih terlihat panjang. Berbagi cerita pengalaman masing-masing itulah sepanjang jalan yang saya lakukan bersama Ian dan Dudi. Hingga tanda-tanda Segara Anak semakin jelas, suara para pendaki yang nge camp terdengar ramai. Waktu menunjukkan pukul empat sore, sekitar lima jam perjalanan kami. Agak lama sedikit kami menempuh Segara Anak, pastinya karena fisik yang kelelahan.

DSCN0089Berada di Danau Segara Anak, rasanya melihat sesuatu yang ajaib. Danu Segara Anak berada di tengah-tengah menuju gunung pada ketinggian sekitar 2000-an MDPL. Pantas saja berderet-deret tenda terpasang setiap selesai summit Rinjani. Seperti mendapat bonus kedua berada di Segara Anak yang luasnya membentang dengan terlihat jelas puncak gunung Barujari maupun Rinjani. Bonus ketiganya adalah, banyak ikan di Segara Anak. Lebih banyak dari yang saya bayangkan.  Dominan ikan nila, mujair dan mas.

Aktivitas sore para pendaki di Danau Segara Anak
Aktivitas sore para pendaki di Danau Segara Anak

Setelah selesai mendirikan tenda, yang paling ingin saya lakukan adalah mengeluarkan pancing. Cukup jauh pancing saya bawa dari Belitung. Tetapi rasanya tidak lah rugi bila berada di Danau Segara Anak ini untuk memancing. Walau awalnya susah untuk mendapatkan ikan karena umpan yang saya coba mulai dari nuget, siput sama sekali tidak bisa berhasil mendapatkan ikan. Beberapa warga dan pendaki saya lihat sudah menjinjing ikan cukup banyak. Saya kemudian bertanya mereka pakai umpan apa sekaligus meminta sedikit umpannya (modus) hehehe. Beruntung bapak itu malah memberi seluruh sisa umpannya. Berbekal umpan yang diberi bapak tersebut saya mulai memancing. Umpannya adalah parutan ubi atau singkong dicampur telur.  Awalnya umpan beberapa kali terbuang percuma, hanya habis dimakan ikan tetapi tidak saya dapatkan ikannya. Setelah diajari salah satu pendaki bahwa umpan cukup dipasang di ujung kail baru lah saya strike berkali-kali yang kemudian ikut Dudi juga strike.

Mancing di Segara Anak
Mancing di Segara Anak
Hasilnya
Hasilnya

Alhasil malam itu kami makan ikan nila dan mujair dari Segara Anak. Kalau soal lauk ikan, asal pandai
memancing tidak akan kelaparan di Segara Anak. Malamnya kami hanya menikmati Segara Anak dengan ngobrol santai sambil menghirup kopi, sambil merencanakan kepulangan mereka esok pagi. Alfin, Galih, Agus, Lihin, Aridy dan dua teman berencana pulang esok pagi. Saya, Dudi dan Ian berencana semalam lagi di Segara Anak. Akhirnya saya pulang dengan rombongan berbeda, karena ingin lebih lama di Segara Anak.

Malam itu juga beredar cerita soal pendaki asal Mataram yang terjatuh dan jasadnya belum diambil di jalur dari sebelah Gunung Barujari menjadi perbincangan hangat. Kami turut berduka atas rekan pendaki yang mengalami musibah tersebut. Malam kemudian berakhir ke pembaringan di dalam tenda dome, mengistirahatkan tubuh yang mulai terasa lelah.

PAGI di Segara Anak menyajikan embun-embun terlihat uap dari permukaan air. Rasanya ingin selalu demikian situasinya setiap bangun tidur. Tapi ini cuma ada di Segara Anak bro... Aktivitas pagi di Segara Anak dimanfaatkan temen-temen untuk mandi dan membuat sarapan.

Jadi Koki di Segara Anak
Jadi Koki di Segara Anak

Untuk air bersih tidak bisa menggunakan air Danau Segara Anak karena mengandung belerang, jadi hanya sebatas untuk mencuci saja. Air diambil di sebelah utara sekitar 500 meter dari Segara Anak. Sumber air cukup bersih, terdapat juga sumber air panas yang merupakan bonus tambahan Rinjani di Segara Anak. Komplit dah, belum lagi katanya agak ke bawah ada air terjun. Tapi saya hanya sampai sumber air panas dan air bersih.

Saya juga kembali mancing di pagi hari bersama beberapa pendaki lainnya. Tidak sulit untuk memancing di Segara Anak kalau sudah tau tehniknya. Dengan  sebentar saja saya dapat ikan 20 ekor dalam waktu 30 menit. Sebagian temen-temen yang pulang pagi ini juga telah bersiap packing untuk melanjutkan perjalanan. Tinggal aku Dudi dan Ian. Kami memutuskan untuk tinggal dulu di Segara Anak dan Alfino cs berpamitan penuh haru, ntah kapan lagi kami akan bertemu.

Bersantai di Segara Anak benar-benar menikmati surga dunia yang jauh dari hiruk pikuk. Menyatu bersama para pendaki lain yang tak saya kenal sama sekali sebelumnya. Semua terlihat menikmati dalam beragam aktivitas. Usai sarapan saya memilih bersantai sambil mengambil foto dari berbagai sudut Segara Anak sebagai kenang-kenangan. Saat ngobrol bertiga, kami kemudian terpikirkan untuk merubah rencana pulang. Semula akan menginap satu malam lagi di Segara Anak, kami putuskan untuk turun nanti siang. Pertimbangannya untuk menghemat tenaga dan waktu, nyicil perjalanan yang masih butuh satu hari ke Senaru.

Pertimbangan lainnya adalah, kami sudah mendapatkan semua suasana pagi, siang, sore dan malam di Segara Anak. Jadinya kami akan meninggalkan Segara Anak sekitar jam 2 siang. Waktu kami masih cukup banyak untuk bersantai dan saya masih sempat membersihkan ikan hasil tangkapan untuk bekal bahan lauk saat menginap di trek Senaru. Selebihnya kami benar-benar bersantai di Segara Anak dengan berbaring melihat gunung Barujari yang aktif mengeluarkan asap dengan aktivitas larvanya. Atau mendengar celoteh pendaki yang kegirangan karena dapat ikan saat memancing.

Usai zuhur baru lah kami memulai packing kembali. Cukup berat rasanya meninggalkan Segara Anak bagi saya. Tapi kami sudah sepakat untuk melanjutkan perjalanan hingga akhirnya jam 2 siang kami benar-benar meninggalkan Segara Anak menyusuri tepiannya diantara tenda-tenda para pendaki. Beberapa rombongan juga terlihat pulang meninggalkan Segara Anak, jadi kami tidak sendiri.

Detik-detik terakhir meninggalkan Danau Segara Anak
Detik-detik terakhir meninggalkan Danau Segara Anak

 

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *