Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (5)

Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (5)

*Summit 3726 MDPL

Terbangun atau tepatnya saling membangunkan berlangsung pada jam 1 malam di camp Pelawangan Sembalun. Walau mata berat karena menahan kantuk tapi kami tetap berusaha bangun dan bersiap untuk summit.

Segara Anak dari Puncak Rinjani
Segara Anak dari Puncak Rinjani

Saya sendiri sudah menyiapkan perlengkapan summit dengan sebuah tas pinggang kecil berisi kamera poket, 2 botol minuman, snack dan lain-lain. Beberapa pendaki sudah terlihat banyak menuju summit. Cahaya senter berderet-deret berjalan ibarat lampu taman jalan yang bergerak maju kedepan semakin tinggi secara teratur. Saya perkirakan sedikitnya 300 orang menuju summit malam itu. Kami mungkin sudah di rombongan ke 100 lebih.

Jalur menuju summit benar-benar langsung menanjak, sempit dan berdebu. Tanjakan pertama dari Pelawangan Sembalun langsung kami hadapi dengan saling mengantri. Cukup membutuhkan waktu menuju trek punggungan Rinjani. Hampir satu jam lebih sampai ke punggungan yang menurut saya memberi harapan santai. Punggungan Rinjani banyak bonus trek landai, dan beberapa turunan. Cukup lebar juga sehingga terkadang saya berlari kecil. Hanya saja sangat panjang sekali trek ini sehingga terasa tak ada habisnya. Kelokan-kelokan seolah habis punggungan itu, tetapi masih ada lagi yang harus diselesaikan.

Rinjani memang cukup gokil trek summitnya, gokilnya terkadang sama dengan beberapa prilaku pendaki. Saya baru melihat di Rinjani ada pendaki pakai hotpen dan tengtop, tidak lain mereka adalah turis mancanegara. Tetapi saya lihat cukup bergetar mereka rasakan dinginnya Rinjani. Udara cukup dingin karena sudah berada di ketingggian lebih dari 3000 MDPL. Angin semakin menerpa dingin, embun berjatuhan, oksigen menipis. Langkah kaki mulai tertatih. Sudah sekitar 3 jam lebih kami merintis langkah untuk summit. Entah berapa kali saya harus berhenti mengambil nafas.

Rombongan kami sudah dipastikan terpisah, Alfin berada di depan, Galih dan juga Agus. Sementara beberapa lainnya masih di belakang saya. Trek menuju summit semakin berkelok-kelok dengan bebatuan yang terkadang licin. Sempit sehingga harus antri dan menahan terpaan dingin udara pagi serta hembusan angin. Beberapa pendaki kadang terlihat diam kelelahan. Sebagiannya masih bisa saling sapa “say hello”. Sementara matahari mulai kemerahan dan beberapa orang saya lihat sudah berada di top Rinjani. Sebagian dari mereka berteriak merayakan keberhasilan menggapai gunung tertinggi ketiga di Indonesia setelah Cartenz dan Kerinci ini.

Langkahku semakin coba dikuatkan. Walau mulai tertatih. Tetapi top Rinjani telah didepan mata. Belum lagi bayangan sunrise menjadi motivasi tersendiri. Yah, akhirnya sekitar 5 jam summit berhasil ditaklukkan. Sujud syukur langsung saya lakukan termasuk oleh beberapa pendaki lainnya. Lalu saya menyempatkan menunaikan sholat subuh di ketinggian 3.726 MDPL itu. Momen selanjutnya sudah bisa ditebak tidak lain adalah berfoto dari berbagai sudut. Cukup mengantri untuk berfoto di Rinjani hari itu. Terutama berfoto di posisi tiang bendera merah putih dengan tulisan pada plat top Rinjani 3.726 MDPL.

Top Rinjani
Top Rinjani

Sunrise dari Rinjani perlahan mulai muncul berwarna jingga, orange kemerah-merahan. Saya bersyukur bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan hari itu dari tempat tak biasa. Cahaya matahari semakin terang memutih, tapi dingin tetap terasa. Awan-awan terhampar menebal di sekeliling top Rinjani, beberapa puncak gunung dan terlihat disebut para pendaki sebagai Gunung Agung Bali serta Gunung Tambora. Demikian juga Danau Segara Anak yang mulai tampak dengan airnya berwarna hijau kadang menjadi biru. Anak gunung Barujari yang berada di dekat Danau Segara Anak terlihat merona merah karena muntahan larvanya. Gunung Barujari disebut baru tumbuh dan terlihat sangat aktif.

Sunrise Rinjani
Sunrise Rinjani

Tenda-tenda kami terlihat berderet warna-warni di camp Pelawangan Sembalun. Rasanya mimpi saja bisa menjejakkan kaki di puncak Dewi Anjani. Sekitar satu jam saja saya di top Rinjani. Bukan bosan, sangat ingin berlama menikmati keindahannya tetapi dinginnya terlalu menusuk hingga ke tulang. Kadang tubuh saya bergetar walau sudah memakai jaket dan sarung tangan. Jadinya setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan Rinjani saya putuskan pulang. Perjalanan pulang pastinya turun, tetapi tetap harus ekstra hati-hati. Karena medan awal berbatuan sangat membuat fatal kalau sampai terjatuh atau terpeleset. Cukup lama menurun bebatuan tersebut. Hingga sampai ke punggungan Rinjani yang berpasir. Saat turun masih ada pendaki yang naik. Luar biasa mereka harus mendaki saat terik matahari mulai naik. Sementara kami mulai menyicil panjangnya trek punggungan Rinjani yang membuat turunan terasa jauh dan lama.

Entah berapa lama kaki ini sudah melangkah, padahal tenda sudah terlihat tetapi trek masih jauh. Terkadang tak habis pikir melakukan ini semua yang disebut sebagian orang kurang kerjaan, tetapi saya menikmatinya. Walau letih tetapi saya pikir belum tentu saya akan datang ke sini lagi pada kesempatan hidup saya mendatang. Jadinya rasa letih dan jauhnya trek saya tutupi dengan melihat panorama indah Rinjani. Tertutama Danau Segara Anak yang menjadi tujuan selanjutnya.

Danau Segara Anak dari Jalur Turunan Summit Rinjani
Danau Segara Anak dari Jalur Turunan Summit Rinjani

Akhirnya setelah dua jam lebih, trek punggungan habis saya lewati. Tinggal turunan menuju Pelawangan. Sudah ditebak jalan semakin berdebu pada siang hari, licin dan berpasir gembur. Jadinya kami seperti bermain sky pasir. Medan ini mirip dengan turunan summit Semeru. Pasirnya agak gembur, asik walau kadang membuat repot. Tiga jam berlalu akhirnya saya tiba di camp Pelawangan Sembalun. Cuaca mulai panas membuat camp Pelawangan Sembalun yang sedikit pohon terasa menyengat.

Tidak betah rasanya berada di Pelawangan Sembalun, namun kami harus kembali memasak untuk makan sebagai modal pengisi energi menuju Danau Segara Anak. Setelah berbagi tugas untuk memasak, sekitar jam sebelas kami selesai makan langsung packing lalu meninggalkan Pelawangan Sembalun menuju ke Danau Segara Anak.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *