Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (4)

Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (4)

*Sembalun-Bukit Penggasingan-Pelawangan

TREK panjang sudah menyambut perjalanan dari jalur Sembalun. Cuaca sudah mulai beranjak gelap dan kami terus saja melangkah mengikuti jejak-jejak trek bekas para pendaki. Sering kali kami bertemu dengan pendaki yang baru turun, dan Rinjani adalah gunung yang saya daki dengan terbanyak turis mancanegaranya. Jadinya kami ber bahasa inggris ria dengan pas-pasan.

View dari Pos 2 Sembalun
View dari Pos 2 Sembalun

Tetapi gunung lebih membuat kami saling mengerti walau berbeda bahasa, berlainan suku, berlatar belakang profesi beda dan berasal dari daerah beda. Alam lah yang menyatukan kami ketika bersama menyusuri panjangnya trek di antara savana kering, turun naik melintasi tebing dan sungai kering.

Pendakian awal jalur Sembalun menguras tenaga. Tapi kami terus berjalan dengan target minimal pos satu. Beberapa pendaki tampak dalam perjalanan turun, ada yang dalam kondisi cedera cukup memprihatinkan di engsel kakinya. Pemandangan itu membuatku semakin memperhatikan kaki ketika melangkah dan berpijak. Mendaki memang rentan celaka dan cedera, apalagi kondisi malam hari.

Beberapa rombongan pendaki dalam jumlah besar kami temui diantara ilalang-ilalang savana. Rinjani telah menyapa penuh damai dengan menganugrahkan senyum dari para pendaki yang kami jumpai. Perjalanan kami kemudian terhenti di pos 2 dalam kondisi dingin sudah begitu menusuk tulang, tetapi kami melebihi target awal yang hanya berharap bisa tiba di Pos 1. Kami memutuskan untuk camp di pos 2 Sembalun karena fisik juga sudah kelelahan.

DSCN0009

Pos 2 ramai dengan para pendaki, tenda-tenda sudah berdiri termasuk para porter ikut menginap di Pos 2. Dalam gelap sekitar jam 7 malam kami mendirikan tenda. Tenda kami berdekatan dengan pendaki lainnya. Malam itu tiga tenda kami dirikan dan saya tidur bersama Lihin. Tidak lupa kami memasak makan malam dan membuat minuman hangat seperti teh ataupun kopi. Pos 2 cukup baik untuk lokasi camp karena terdapat sebuah sumber air walau harus bersabar untuk mengambilnya. Air yang ada mengalir sangat terbatas, tidak bisa untuk mandi.

DSCN0011

Selain itu area camp di Pos 2 juga cukup luas sehingga banyak lokasi untuk mendirikan tenda. Malam pertama di Pos 2 kami putuskan untuk cepat tidur untuk persiapan pendakian esok pagi.

PAGI terbangun di Pos 2 Sembalun dengan sajian sunrise, membuat mata enggan lagi terpejam. Seluruh pendaki menunggu detik-detik warna jingga matahari yang keluar dari ufuk timur langit. Semua pendaki bersiap dengan kameranya mengabadikan momen indah tersebut. Detik-detik keluarnya sunrise dimanfaatkan untuk berfoto ria. Setelah sunrise, kebanyakan pendaki mulai bersiap menyiapkan sarapan dan kami pun berbagi tugas. Ada yang mengambil air dan menyiapkan masakan. Jadilah sarapan pertama kami hari itu di Pos 2 Sembalun.

Dan tidak berlama, kami kemudian packing karena cuaca mulai panas. Langit sangat biru dari Pos 2 dan savana-savana semakin jelas bentangannya yang menyelipkan
trek-trek untuk kami lalui. Setelah bersiap dan berdoa kami kemudian berfoto sebelum meninggalkan Pos 2 dan melanjutkan perjalanan.

sebelum meninggalkan pos 2 Sembalunalun
sebelum meninggalkan pos 2 Sembalun

Perjalanan hari kedua semakin ramai, kami bertemu dengan banyak orang yang naik dan turun. Sapaan dalam keletihan terus kami ucapkan setiap berjumpa sesama pendaki. Treknya relatif sama, untuk Pos 2 ke Pos 3 masih dengan ilalang dan sungai kering berbatu. Beberapa pendopo dapat ditemui di sepanjang perjalanan dan bisa dipakai untuk istirahat. Kami mulai terpecah dalam radius beberapa meter karena cukup panjangnya trek Sembalun menuju Bukit Penggasingan.

Cuaca panas berdebu menjadi tantangan berat ditambah terjalnya tebing yang juga cukup licin. Saya sendiri tak terhitung berapa kali berhenti dan menenggak minum. Masker atau slayer sangat berguna di trek ini. Selain itu, siapkan air secukupnya untuk melewati trek ini serta jangan lupa semangat pantang menyerah. Saya sendiri meyakinkan prinsip, walau satu langkah akan terus berjalan, walau berhenti saya akan melangkah lagi. Terkadang saya menghitung langkah dan menyemangati diri dengan merasa bangga karena setiap sepuluh langkah saya yakin sudah sekian meter terlewati. Dan saya yakin langkah saya
itu akan membawa ke tujuan saya sebenarnya walau butuh perjuangan.

Bukit Penggasingan benar-benar menguji mental dan fisik. Debu yang kian berterbangan dengan tanjakan panjang menjadikan tenaga sangat terkuras. Hanya saja kemegahan Rinjani dari kejauhan di bawah langit biru dengan hamparan savana yang membentang luas terlalu indah untuk dilewatkan. Berhenti dan ajakan berjalan mewarnai saya dan pendaki lainnya. Terkadang kami kembali bertemu dengan tim kami entah itu Alfin, Galih, Aridy, Lihin atau Agus. Sejak berjalan dari jam 9 pagi, baru lah tanda-tanda Pelawangan Sembalun terlihat pada jam 3 sore. Berarti kami sudah berjalan sekitar 7 jam, cukup standar waktunya menurut referensi pendakian yang saya dapatkan. Punggungan Pelawangan Sembalun mulai terlihat, barisan-barisan tenda mulai terpampang.

Pelawangan Sembalun Rinjani
Pelawangan Sembalun Rinjani

Kami mulai berkumpul kembali untuk menentukan lokasi camp. Setelah berunding kami putuskan untuk nge camp sekitar tiga ratus meter dari sumber air. Pukul 4 sore kami benar-benar tiba di Pelawangan Sembalun. Rasanya lega bisa merebahkan carriel detik itu, setelah seharian berada di punggung. Kami kemudian bergegas mendirikan tenda dan berbagi tugas kembali. Saya memilih mengambil air sekalian ingin melihat sumbernya. Pelawangan Sembalun lebih memberi kehidupan dari segi air. Cukup banyak air tersedia, walau bersih namun prilaku negatif beberapa oknum pendaki cukup membuat seputaran sumber air maupun sepanjang trek dan camp pendakian Rinjani dipenuhi sampah, berbagai sampah tepatnya.

Dekat Sumber Air Pelawangan Sembalun
Dekat Sumber Air Pelawangan Sembalun

Bertemu air seperti menggapai syurga  dan menjadikan kesempatan bagi kami menyimpan cadangan air lewat berbagai wadah. Setelah itu menjadi sore yang tak terlupakan ketika berada di Pelawangan Sembalun. Karena di depan mata kami telah terhampar bergantian savana, samudra awan, langit biru, Danau Segara Anak.

Samudra Awan Pelawangan Sembalun Rinjani
Samudra Awan Pelawangan Sembalun Rinjani

Pamungkasnya adalah sunset yang jatuh di atas Pelawangan Senaru dan Danau Segara anak. Momen itu sungguh menakjubkan bagi saya dan entah kapan lagi bisa terulang.
Pantaslah Rinjani disebut gunung tercantik di Indonesia.

Jelang Sunset Pelawangan Sembalun Rinjani
Jelang Sunset Pelawangan Sembalun Rinjani

Belum lagi lantunan pendaki yang menyanyikan lagu dengan petikan gitar. Terutama rombongan bule yang ikut bernyanyi membuat Rinjani berbeda, sangat berbeda. Dan di Pelawangan Sembalun Rinjani saya dengarkan lagu The Beatles berjudul “Hey Jude” begitu indah dinyanyikan. Lagu itu musiknya dimainkan dengan gitar oleh seorang porter dan para bule ikut bernyanyi bersama-sama. Mengesankan…..Hey jude…don’t make it bad…………..na…na…na….na…na…na…na…hey jude…:D.

Malam hari di Pelawangan Sembalum kami nikmati dengan menatap bintang yang bertaburan di antara tenda-tenda. Warna-warni terpancar dari tenda yang diterangi lampu para pendaki. Canda tawa atau perbincangan hangat mewarnai malam di Pelawangan Sembalun. Semua menyatu di alam sehingga seakan lupa kalau sebenarnya kami sedang berada di gunung. Tak ada hal buruk terkhawatirkan malam itu. Cuaca mendukung tanpa hujan sehingga menikmati malam di Pelawangan Sembalun cukup maksimal dari tenda.

Angin pegunungan dan malam yang dingin ditambah fisik lelah akhirnya membuat kami satu persatu menjadikan sunyi di Pelawangan Sembalun. Kami memutuskan untuk istirahat karena harus bangun pada jam 1 malam. Summit dimulai malam dinihari untuk menggapai top Rinjani pagi-pagi.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *