Catatan Perjalanan ke Gunung Rinjani (3) Tanah Lombok

Tanah Lombok

(Rumah Singgah Lombok Backpacker-Praya-Sembalun)

TIBA di Bandara Praya Nusa Tenggara Barat (Pulau Lombok) lebih lama satu jam karena masuk WITA, mengingat di Surabaya adalah WIB. Cuaca jam tiga sore hari itu cukup panas, mungkin faktor Lombok yang dikelilingi lautan. Bandara Praya terlihat masih dalam tahap pengembangan. Saya pun tidak berlama, langsung mencari damri menuju ke Mataram sesuai petunjuk Wawan. Nanti saya akan dijemput di salah satu pool damri Mataram.

Tidak susah untuk menemui Damri yang secara berkala tiap satu jam berangkat. Berangkat meninggalkan bandara saya nikmati dengan menyaksikan pemandangan Praya-Mataram yang sebagian jalanannya sedang dalam tahap renovasi. Tidak sampai satu jam sekitar 5 menit saya tiba di Pool Damri, namun Wawan menyatakan agak telat untuk tiba. Jadinya saya menunggu dengan diwarnai tukang ojek yang menawarkan untuk mengantar kemana tujuan saya. Tapi saya katakan sudah ada yang jemput, jadinya satu-satu tukang ojek berhenti menawar.

Waktu menunggu saya sempatkan untuk makan di warung seperti warteg, di samping Pool Damri, harga dan menunya standar. Lumayan harganya dan halal makanannya. Baru lah beberapa waktu kemudian Wawan tiba. Pertemuan kedua setelah dari Semeru ini kami lakukan dengan peluk hangat persahabatan. Tidak menunggu lama kami tinggalkan Pool Damri dan saya diajak Wawan menginap di kost-nya. Wawan kembali bertanya perlengkapan saya, beberapa yang kurang akhirnya kami cari di Lombok dan sebagiannya saya pinjam punya Wawan. Beruntung sekali saya punya temen di Lombok seperti Wawan.

Setelah sore beristirahat sebentar, malamnya saya dan Wawan jalan-jalan sekaligus makan. Wawan mengajak saya makan bebek khas masakan Lombok. Pengalaman pertama makan bebek, walau pedes tapi ajibbb, sedap juga. Abis itu kami singgah ke mini market untuk membeli perlengkapan kecil seperti snack, madurasa, vitamin, dll. Tanpa diduga juga, saya melihat seseorang di mini market yang perasaan pernah saya temui. Begitu juga orang tersebut sehingga kami salin bertatap pandang. Sejenak kemudian kami saling menyapa. Yup, Budi…sudah sekitar empat tahun lalu terakhir kami bertemu.

Budi adalah temen Pramuka saya, bertemu pun dulu pada awalnya secara tak sengaja. Waktu itu saya ke Lombok lalu waktu mau menghadiri acara ke Jakarta di Bandara Selaparang Lombok saya melihat Budi memakai atribut Pramuka. Jadilah saya sapa dan rupanya dia utusan NTB, saya utusan Babel yang kemudian baru bertemu kembali pada saat kedua kalinya saya ke Lombok.

Usai belanja dan bertemu Budi, saya diajak Wawan mengunjungi rumah singgah Lombok Backpacker. Di luar dugaan saya ternyata luar biasa situasi rumah singgah Lombok Backpacker. Rumah pribadi punya bapak dan mamak {panggilan bagi pemilik rumah} benar-benar menjadi tempat singgah. Tak hanya backpacker dari dalam negeri ada juga dari mancanegara. Rasa nyaman yang tercipta dan suasana ramah rumah singgah ini mengundang backpaker datang. Saya merasa beruntung lagi kenal dengan Wawan yang juga tergabung dalam Lombok Backpacker.

Di tempat tersebut saya bertemu para backpacker dari Pulau Jawa, Sulawesi, Singapura. Kami saling berbagi kontak, beberapa diantaranya ada baru datang, sedang menikmati Lombok dan ada juga yang akan pulang. Malam itu akhirnya kami habiskan bercerita banyak hal sesama backpacker, namun saya Wawan kemudian harus pamit pulang karena akan menginap di kostan.

PAGI pertama di Lombok merupakan langkah awal perjalanan dari tanah Mataram menuju Puncak Dewi Anjani, Rinjani. Kami telah berkoordinasi untuk metting point di Bandara Praya Lombok. Salah satu teman, Aridy dari Jakarta sudah tiba sejak kemarin dan menginap di salah satu hotel daerah Mataram. Saya dan Aridy berjanji berjumpa di Pool Damri. Saya diantar Wawan ke Pool Damri menggunakan sepeda motornya. Tidak jauh cuma sekitar 15 menit dari tempat kostan.

Aridy belum sampai dan saya bersama Wawan membeli sarapan nasi uduk di dekat Poll Damri, harganya standar. Habis sarapan baru lah Aridy tiba dengan ojek. Aridy adalah orang pertama saya temui dalam tim kami yang berasal dari daerah berbeda ini. Aridy kemudian ikut sarapan, lalu sekitar pukul delapan kami memesan tiket damri menuju bandara.

Perjalanan ke Bandara Praya relatif lancar. Kami dan Aridy pertama kali tiba disusul Agus dan Lihin. Sementara Alfin dan Galih agak delay pesawatnya, mereka berangkat dari Bali dan sudah menginap satu malam di sana. Lalu sekitar pukul sepuluh pagi itu akhirnya kami benar-benar berkumpul. Tidak menunggu lama kami langsung keluar dari bandara menggunakan mobil carteran L-300 yang telah dipesan Alfin.Hanya berenam saja plus tujuh dengan sopir membuat duduk kami tidak berdesakan. Beruntung kami carter jadi tidak dipusingkan untuk menunggu dan turun naik gonta-ganti mobil ke Sembalun.

Perjalanan sekitar dua jam kami berhenti pada beberapa mini market untuk membeli logistik tim. Di Pasar Aik Mel menjadi favorit pendaki Rinjani untuk melengkapi logistik termasuk perlengkapan pendakian seperti jas hujan, senter, tabung kompor gas mini. Melewati Aik Mel suasana pegunungan mulai terasa dengan udara yang sejuk. Jalanan mulai berkelok-kelok menanjak.

Beberapa jalan waktu kami lewati ada yang sedang diperbaiki dan diwarnai pohon tumbang. Kami di mobil bergantian bercerita, saling mengenalkan diri, tertidur, bangun, begitu seterusnya.

Sampai sekitar pukul tiga sore kami tiba di awal jalan menuju ke Desa Sembalun, desa terakhir menuju Rinjani jalur Sembalun. Sopir memberhentikan kendaraan untuk mempersilahkan kami mengambil foto dengan view latar belakang Gunung Rinjani. Masih berfikir waktu itu “tinggi sekali, hmm….”. tapi Rinjani terlalu indah di benak saya sehingga tak sabar untuk menggapainya.

Sebelum Desa Sembalun, tampak Gunung Rinjani dari kejauhan.
Sebelum Desa Sembalun, tampak Gunung Rinjani dari kejauhan.

ilusimentari

Seseorang yang bertindak mengikuti kata hati, berimaji dalam kata, berdoa dalam jiwa. Belajar kehidupan yang terus menghadirkan tanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *