Masih Seperti Dulu

Temaram jingga di ujung sore
Meraih jatuh cahaya redup di ufuk barat
Terhenti semesta tanpa angin menghempas ombak
Terkulai syahdu menasbihkan sauh terlepas

Gerimis rintik menarik kaki dari tepi pesisir
Gunung senantiasa Gagah dalam hijau nan diam
Sekelumit rasa dalam beku keluhnya lidah
Tak kan cair dilekang waktu, walau kian terasa lampau

Soal Hidup

Menasbihkan bintang indah di langit tinggi
Menatap cahyanya yang berkerling terang
Nostalgia tanpa perlu bersua

Telinga mendengar nyanyian semesta
Yang nadanya mengetar hingga masuk ke aliran darah
Tak perlu mudah untuk menerka atau diterka
Sebab hidup tidak selalu pada kepastian
Kemungkinan selalu datang dalam banyak rupa

Jejak berpijak pada tanah basah
Lalu tersapu hujan lebat di tengah tanah lapang
Selalu ada genangan yang kemudian mengering
Laksana hidup dalam bingkai pahit dan kenikmatan.

Sabtu, 13052017, 08.52 WIB.

Manusia Tak Sempurna

Aku…
Adalah kepingan yang tak ada besarnya dibandingkan ciptaan-MU

Dalam dosa tak terkira mencari cahaya penuntun langkah
Kepada senja mengadu seakan lebih dekat dengan-MU

Kepingan hati menoreh luka
Berbagi letih di ujung kisah
Seperti pedati roda dua melaju di tanah tak rata

Aku dalam nikmat syukur-MU
Bergelimangan rasa haru atas kebesaran-MU
Tentang hidup yang tak soal buruk
Namun baik turut menjadi warna

Seperti siang yang terang, atau malam gelap
Aku demikian dihadap-MU tanpa berani berdusta
Kedua sisi berada dalam kurangnya jiwa manusiawi

Untaian Ilusi Cinta

Untaian ilusi cinta
Memacu kasih memadu rasa
Dalam dekap peluk
Merasakan denyut nadi

Diambang cinta berujung bias
Pada tatapan mesra sang penasbih hati
Merajut kisah lamban menepi
Riak tak lagi sepi
Di ujung rasa teruntai kasih

Soal Kehilangan Dan Dirimu

Ini tentang cinta yang telah pergi
Dalam ikatan semu menyisahkan rindu
Kalau ada rasa yang tak terbendung
Maka sebuah kesedihan di ambang jurang terdalam
Sampai kemudian sebuah gerbang Nirwana membuka lebar

Hati kemudian berjalan menapaki
Kisah yang menjadi takdir di ujung kepahitan
Rasa terus berjalan walau realita kian saling meninggalkan
Peduli apa tak akan ada yang pernah bisa memahami
Sama seperti soal pertanyaan mengapa matahari terus berpijar walau bumi diselimuti malam ataupun hujan

Pucuk pucuk cinta mengalun Indah
Dalam dekapan sunyi usai rasa tak ber Tuan, juga bukan milik Puan

Kadang hidup soal mengadu peruntungan
Dalam perjalanan yang tak kita bisa tebak kemana arah kaki kan melangkah
Tak jarang harus memutar arah atau merubah belokan ketika di persimpangan

Namun tetap akan ada perhentian yang mengarahkan kita pada sejuta tujuan
Imaji kian larut dalam keriuhan gaduh yang tak ternilai
Menjadi makna, namun akan ada sesuatu yang menuntunmu pada keputusan

Tanpa perlu memikirkan hasil akhir lalu kemudian batasmu takkan bisa terhalangi untuk sebuah mahakarya
Hidup yang penting bagi dirimu dan butuh kepedulian atas dirimu sendiri

Mentari yang Dirindukan

Tentang mimpi mentari semalam
Yang hangatnya pelukan sinar masih terasa
Membebaskan segenap jiwa raga dari beku

Rasanya enggan lepas dari belaian cahaya senja
Seperti tak ingin terbangun saat mimpi perjumpaan itu
Karena rasanya itu adalah sebuah siang hari yang lama dinanti usai malam berkepanjangan

Cahaya jatuh teduh ke wajah laksana tatapan seorang ibu yang menenangkan
Menuntun waktu dari fajar hingga petang
Melanjutkan denyut nadi kehidupan yang nyaris mati rasa

Ternyata perjumpaan itu masih tergiang di kala terjaga
Pada siang yang menghempaskan malam
Saat terjaga menyelesaikan tidur dalam perjumpaan
Dan rasanya mentari itu patut dirindukan
Walau sebatas mimpi

 

 

Tentang Engkau

Engkau bahkan tak peduli sepi itu hinggap

Kendati jadi gelap dan tak bisa melihat sekeliling

Karena hatimu terus menuntun jalan bersama insting
Menapaki sisa hidup dalam hentakan tapak kaki
Ujung senja kan menyisahkan hangatnya
Pertanda dunia belum kiamat
Mesti dunia berfikir engkau bodoh
Namun yakinmu tak Gentar atas cemoohan itu
Ada satu kekuatan yang membuat kakimu tetap melangkah mesti berdarah
Dan tetap mendengar rerintihan jelata akibat tirani itu
Atau terus memberi petuah tenang walau engkau getir
Lalu sejenak mata kian terbuka walau telah buta
Ada kala semua mata hati akan melihat engkau‎
Dalam kegigihan menapaki malam
Yang engkau yakini esok adalah terang dari cahaya mentari
ILusi Mentari,
Kamis, 16-2-2017, 22.40 WIB‎

Listening to Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih) by Banda Neira

Banda Neira Sampai Jadi Debu

Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

Listening to Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih) by Banda Neira

Preview it on Path

Perihal Sesuatu

img_20150211_175122
Seperti mencoba membiarkan sesuatu pergi sesaat
Pada batas waktu selama mentari terbenam hingga terbit lagi
Setelah dijalani bumi terasa melambat
Langkah kaki gontai kian merayu untuk berhenti
Apa artinya itu, sungguh pasti jelas
Sebuah pertanda pada singsasana senja
Yang dirindukan ujung langit dari pelupuk mata
Bertepi menorehkan merah di garis datar membiru
Tenggelam dalam pekat petang
Ke dalam dasar samudra palung terdalam
Bercampur asin mengkerdilkan buih terapung
meredam gemuruh badai dalam riak gelombang
Satu momen kemudian kembali hadir cahaya
Di ufuk timur turun ke tanah bersama embun
Memberi nafas hidup hijau dedaunan muda
Memekarkan kuncup-kuncup menjadi bunga
Decak kagum mengalun syahdu
Pertanda rindu tak lagi merayu
Walau esok mungkin kembali semu
Hingga waktu yang tak memberi makna tentu
Lalu ada mata pada hati terpendam
Melihat darah mengalir memompa jantung
Ada genggam enggan terlepas
Pertanda tautan ingin terus bersanding
Jumat, 5-1-2017

Sajak tentang Hujan, Hujan Merindu-Hujan Kembali Merindu

hujanHUJAN MERINDU

Hujan,..

Aku kembali merasakan rindu yang mendalam
Pada setiap tetes yang lebat kau hujamkan ke bumi
Rindu itu kian terasa menelusuk relung hati

Hujan…

Ada rindu di tiap rintiknya
Yang satu persatu menetes jatuh ke tanah
Hujan…
Adalah bahasa rindu alam semesta
Tentang isyarat langit ingin mecumbui tanah
Namun langit sadar tak mungkin menggapainya
Lalu ia sampaikan rindu lewat rinai hujan
Lalu suatu ketika dingin merasuki hati
Mengaliri aliran darah dan ikut berdetak pada jantung
Rindu pun menasbihkan dalam helaan nafas
Sejenak aku termangu seraya meresapi gemericiknya hujan
Yang mengalun pelan ke telinga
Dalam dingin gelap tak bermentari
Ada matamu bertahta di benakku
Bersemayam tersenyum seperti kuingat kalah kita bertemu sebelum berpisah
Dimana takjub kurasakan kala itu
Sampa kemudian, rinai hujan terus membanjiri tanah
Menggenangi kerinduan hati untukmu
Yang selalu tak bosan kuinginkan
Untuk kembali merajut rasa canda dan tawa
Dalam rinai hujan yang merindu
 ————————————————————————–
HUJAN KEMBALI MERINDU
Hujan,..
Derai rinaimu tak lagi sekedar membasahi tanah yang kering
Tapi tlah meresap ke pori-pori dan lapisan tanah
Sama halnya seperti rinduku padanya
Yang kian merasuk aliran darah dan segenap jiwa
Hujan kini rindu kian menjadi
Di sudut bangku pada sebuah meja
Sendiri kadang menyergapi damba
Akan hadirnya hati seseorang yang terus dinanti
Tapi hujan…aku lihat hari ini kau terus turun
Tanpa menyisahkan mentari bercahaya
Bahkan tak mungkin menghadirkan pelangi usai kau turun
Hujan yang merindu,..
Mungkin rindu itu kian membeku
Bersama dingin yang kau curahkan dari banyaknya tetes airmu
Kan kujaga rindu itu dalam setiap hadirmu
Sampai kau merasa cukup membahasi tanah dan rerumputan, yang sebenarnya itu persuaan
Aku yakin hadirmu pasti kan dirindukan,
Seperti kemarau pada tanah gersang atau sungai yang mengering
Sama seperti pelangi yang kan hadir usai kau pergi
Untuk bersanding di cakrwala langit biru bersama awan putih.
Rabu, 28 Desember 2016